Hari Kelima (Penutup) Workshop Riset Artistik IDF Akademi

Hasil dari sesi sharing hari keempat Workshop Riset Artistik IDF Akademi memutuskan untuk memberi kesempatan kepada para peserta memilih kegiatan apa yang perlu dilakukan di hari kelima. Muncullah empat hal yang ingin dilakukan yakni pertama mencoba ke luar dari zona nyaman dan membuat sebuah karya baru di hari itu juga, kedua memperdalam salah satu materi workshop, ketiga mempresentasikan karya-karya yang telah dibuat untuk mendapatkan masukan dan tanggapan, serta yang keempat memperdalam cara menyiapkan konsep karya yang sistematis.

Sesi Nindityo Adipurnomo | Dokumentasi IDF

Sesi Nindityo Adipurnomo | Dokumentasi IDF

Namun, sebelum masuk ke sesi itu, Nindityo Adipurnomo melanjutkan penjelasan perihal zona nyaman vs zona tak nyaman yang belum selesai di hari sebelumnya. Menurut Nindityo, idealnya sesi itu dilakukan di luar ruangan, peserta benar-benar berada di tengah aktivitas masyarakat. Tetapi hal itu tak bisa dilakukan karena satu dan lain hal sehingga dipaparkan saja seperti pemaparan di kelas. Dalam pemaparannya, Nindityo menegaskan bahwa riset artistik yang dikerjakan seorang seniman berlangsung dan senantiasa beririsan dengan permasalahan sosial. Berbeda dengan riset-riset di disiplin ilmu yang lain, di dalam riset artistik, seorang seniman juga bekerja dalam naungan ketidaksadaran. Ketidaksadaran ini bisa nampak di permukaan melalui  pengalaman, gairah, dan hasrat-hasrat individu masing-masing seniman.

Nindityo Adipurnomo Sedang Membawakan Materi | Dokumentasi IDF

Nindityo Adipurnomo Sedang Membawakan Materi | Dokumentasi IDF

Di dalam diskusi setelah penjelasan dari Nindityo, Arco Renz menekankan pentingnya para peserta untuk bisa membedakan antara inspirasi dan riset. Inspirasi adalah sesuatu yang mengilhami sedangkan riset adalah sesuatu yang harus dikerjakan. Sama halnya dengan menari, di mana perlu dibedakan antara menari untuk diri sendiri dan menari untuk publik. Bisa saja seorang penari/koreografer bahagia ketika menarikan karyanya tetapi apakah hal yang sama terjadi pada publik yang menyaksikan?

Setelah sesi tersebut, para peserta membagi diri dalam empat kelompok sesuai dengan empat hal yang ingin dilakukan mereka di hari tersebut. Jumlah anggota di setiap kelompok berbeda-beda karena peserta memang memilih berdasarkan kebutuhan mereka sendiri. Kelompok tiga adalah kelompok dengan anggota terbanyak. Rupanya mayoritas peserta memang ingin mendapatkan masukan dan tanggapan untuk karya-karya mereka. Masukan itu nantinya diasumsikan bisa menjadi bekal bagi mereka untuk mengembangkan karyanya masing-masing.

Diskusi Kelompok Empat Bersama Joned Suryatmoko | Dokumentasi IDF

Diskusi Kelompok Empat Bersama Joned Suryatmoko | Dokumentasi IDF

Keempat mentor pun dipersilahkan untuk memilih hendak bekerja di kelompok yang mana. Arco Renz memilih kelompok ketiga; menonton karya-karya peserta dan memfasilitasi diskusi di dalam kelompok tersebut. Nindityo Adipurnomo memilih untuk bekerja dengan kelompok pertama yang hendak ke luar dari zona nyaman mereka dan mencoba membuat sebuah karya. Sedangkan Joned Suryatmoko memilih menemani kelompok keempat yang ingin memperdalam cara menyiapkan sebuah konsep karya. Daniel Kok menghabiskan hari itu bersama kelompok kedua yang hendak memperdalam salah satu materi selama workshop.

Proses di setiap kelompok sungguh berbeda-beda. Kelompok pertama menghabiskan separuh waktu mereka untuk berdiskusi lantas mencoba mengeksplorasi perihal mengubah fungsi sebuah benda. Diskusi yang seru terjadi di kelompok ketiga di mana setiap karya ditonton dan didisuksikan dengan mendalam sampai-sampai waktu yang tersedia tidaklah cukup. Sedangkan Joned Suryatmoko berhasil memaksa peserta di kelompok empat untuk berpikir secara sistematis, memformulasikan apa yang dianggap mereka sebagai inspirasi menjadi sebuah konsep karya dan rencana kerja yang lebih jelas dan sistematis. Kelompok kedua bersama Daniel Kok tampak kembali bermain-main dengan gerakan menggambar di atas kertas putih, sebagaimana kita temukan di dalam materi yang dibawakan Daniel sebelumnya.

Proses Kelompok Dua Bersama Daniel Kok | Dokumentasi IDF

Proses Kelompok Dua Bersama Daniel Kok | Dokumentasi IDF

Sore harinya, setiap kelompok diberi kesempatan untuk mempresentasikan apa yang mereka dapatkan di dalam kelompok masing-masing. Kelompok pertama lantas mengajak peserta untuk menyaksikan eksplorasi mereka atas kursi dan meja di dalam kolam renang. Galih Mahara dan David Putra Yuda, anggota kelompok ini, berusaha menguasai kursi dan meja yang jika berada di dalam air sesungguhnya kehilangan fungsi mereka yang sebenarnya. Selanjutnya, Ayu Permatasari dari kelompok ketiga lantas dipilih untuk menunjukkan dokumentasi karyanya sebagai perwakilan dari kelompok kepada semua yang hadir. Semua yang hadir dipersilahkan untuk menanggapi karya Ayu tersebut. Diskusi yang menarik pun terjadi. Ari Ersandi dan Fitri Anggraini dari kelompok dua menyuguhkan eksplorasi mereka atas kertas, benang, video, serta seekor kucing. Hadirin disuguhkan beberapa tawaran tontonan; Fitri dan Ari yang bergerak-gerak, kucing yang terlilit benang sembari mencoba memakan remah-remah kue, dan juga ‘video realtime’ yang ditembakkan ke layar putih. Aktivitas malam itu ditutup dengan pemaparan konsep karya dari tiga anggota kelompok empat; Galih Puspita Karti, Otniel Tasman, dan Ferry.

Kegiatan hari kelima itu ditutup dengan evaluasi bersama antara peserta, pemateri, dan panitia. Kekurangan pada penyelenggaraan tentu saja ada. Hal ini sangat tampak misalnya pada waktu yang begitu singkat untuk pemaparan materi yang tergolong berat. Namun, tentu saja sebuah workshop tidak secara otomatis membuat seseorang bisa melakukan riset artistik dengan baik. Masih banyak kerja yang perlu dilakukan; berkesenian yang serius dan terus menerus tanpa takut melakukan kesalahan. Setelah sesi evaluasi, peserta dan mentor secara spontan mengisi waktu yang tersisa; seakan tak mau menyia-nyiakan waktu begitu saja. Karaoke bersama sederhana pun terjadi dilanjutkan dengan wisata malam dadakan ke jantung Kota Malang. Betapa tidak. Esok hari, 27 Juli, mereka akan berpisah dan meninggalkan tempat workshop dengan jadwal berbeda-beda.

“Selamat berpisah, sampai berjumpa di waktu dan kesempatan yang lebih baik.”***

0 komentar

Sila Berkomentar

Ingin bergabung dalam diskusi?
Jangan ragu untuk berkontribusi!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.