Untitled

Eko Supriyanto Tampil di SPRING Festival, Belanda

Koreografer Indonesia yang berdomisili di Solo, Eko Supriyanto, tampil pada 23 Mei dan 24 Mei di Spring Festival, Utrecht, Belanda. Eko menampilkan karya bertajuk Balabala. Karya ini sesungguhnya masih merupakan rangkaian dari karya Eko Supriyanto yang terinspirasi dari daerah Jailolo, Maluku Utara. Pada Balabala, lima penari perempuan muda daerah Jailolo akan menyuarakan perihal kerentanan perempuan di dalam komunitas masyarakat mereka.

Sebelum Balabala, Eko Supriyanto telah menciptakan Cry Jailolo yang ditampilkan pada Indonesian Dance Festival 2014. Jika pada Balabala yang tampil adalah penari perempuan, pada Cry Jailolo koreografer yang juga mengajar di ISI Surakarta ini menampilkan enam penari muda lelaki dari Jailolo. Selain Eko, tampil juga pada SPRING Festival duo Tian Rotteveel (Belanda) dan Darlane Litaay (Indonesia – Papua) yang tampil juga pada Indonesian Dance Festival 2016 yang lalu.

Poster SPRING Festival 2017

SPRING Festival sendiri memang sebuah festival yang masih berusia muda. Namun demikian, festival ini sebenarnya punya sejarah yang panjang. Ia merupakan hasil dari penyatuan dua festival penting di Belanda sebelumnya yakni Springdance dan Festival a/d Werf. Pada 18 – 27 Mei ini SPRING Festival yang kelima diadakan.

Festival ini berkonsentrasi pada tari dan teater, terkhusus pada seniman yang berani mengambil resiko dan bekerja secara lintas genre. Selain mengambil tempat di ruang-ruang pertunjukan teater konvensional, SPRING Festival pun hadir di ruang-ruang publik yang tak diduga-duga.

 

Silahkan klik SPRING Festival untuk informasi lebih lanjut!***

0 komentar

Sila Berkomentar

Ingin bergabung dalam diskusi?
Jangan ragu untuk berkontribusi!

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *