1b

Dari Lokakarya Tari/Koreografer Akademi IDF: Tetumbuhan, Raso, dan 20 Pertanyaan di dalam Tari/Koreografi

Menjelang pagi hari kedua lokakarya, tepatnya jam 5, lebih dalam lagi dengan Joged Amerta—yang menurut Matthew Isaac Cohen—memfasilitasi ekspresi diri tak sadar yang masih sadar akan yang lain yang ada secara bersama-sama (co-present), juga lingkungan terdekat dan dunia di mana seseorang hidup. Peserta oleh Suprapto diajak untuk berada di antara tetumbuhan yang ada di kebun Desa Wisata Jelek. Merasakan kehadiran dan perubahan waktu yang terjadi di dalam struktur tubuh peserta dan tetumbuhan, berawal dari nafas, mendengarkan, sampai bergerak dengannya. Percobaan ini dilakukan beberapa kali dan diselingi diskusi.

Suasana Sesi Pagi | Foto: Dokumentasi IDF

Suasana Sesi Pagi | Foto: Dokumentasi IDF

Pagi menjelang siang, setelah pemanasan dan sarapan, Da Ben membagikan pengertian perihal aspek emosi dari pengalaman yang disebutnya sebagai “Raso” (istilah/bahasa Minang yang dipakai Gumarang Sakti) di dalam kepenarian diungkapkan dengan gerakan. Gerakan adalah bahasa, sekumpulan kosa-kata yang dicari kualitas artikulatifnya di dalam dan untuk koreografi.  Da Ben juga memberikan faslafah dasar koreografi Gumarang Sakti yang berasal dari Silek (silat), dengan mengambil aliran Kumango dan Lintau. Pertama, fokus sudut titik pandang dan melahirkannya melalui energi yang tersimpan di setiap bagian tubuh dan mengumpulkannya di mata. Kedua, bergerak dengan gonyek, untuk menumbuhkan kecepatan, menghidupkan tubuh, dan juga rasa menghindar. Gonyek adalah dorongan yang menghentak untuk merangsang energi di dalam tubuh dan mengembalikan setiap fokus kesadaran yang terlupakan karena rutinitas aktifitas sehari-hari.

Suasana Sesi Pagi Menjelang Siang | Foto: Dokumentasi IDF

Suasana Sesi Pagi Menjelang Siang | Foto: Dokumentasi IDF

Siang ke sore, setelah makan siang, Su Wen-Chi memberikan pertanyaan-pertanyaan mendasar yang perlu dijawab oleh peserta.  Apa itu penari?  Apa itu koreografer? Pentingkah bagimu pentas di atas panggung?  Siapa penari favoritmu?  Siapa koreografer favoritmu?  Siapa seniman favoritmu?  Sebagai penari dan koreografer kamu pertanyaan tidak, apa itu? Apa itu tari? Kalau kamu merasa sedang gelisah, hilang kamu akan kemana? Bagaimana kualitas penari yang baik itu? Bagaimana koreohragfer yang berkualitas baik itu? Bagaimana pertunjukan yang baik itu? Pertunjukan apa sih yang membuatmu bertanya, apa ini pertinjukan atau bukan? Teknik tari apa yang paling kamu suka? Teknik tari apa yang paling kamu tidak suka? Kualitas teknik gerak apa yangg kamu suka dan terlihat bagus buatmu? Apakah kamu berfikir kamu sudah menemukan gerak khas milikmu?

Tidak sampai di tingkatan jawaban yang tertulis, Wen-Chi meminta peserta untuk mempresentasikan jawabannya. Pertanyaan yang perlu dipresentasikan kali ini, diantaranya: teknik tari apa yang paling kamu suka? teknik tari apa yang paling kamu tidak suka? kualitas teknik gerak apa yang kamu suka dan terlihat bagus buatmu? Peserta bergantian mempresentasikan jawaban satu persatu. Pada akhir setiap presentasi, diadakan tanya jawab. Hampir setiap orang, termasuk Wen-Chi, berkesimpulan bahwa lebih mengenal setiap peserta melalui apa yang mereka presentasikan. Sesi sore ditutup dengan curhat peserta yang difasilitasi tim Akademi IDF atas ekspektasi dan refleksi, apa yang didapat dua hari kurang di dalam workshop ini.

Sesi Siang Ke Sore | Foto: Dokumentasi IDF

Sesi Siang Ke Sore | Foto: Dokumentasi IDF

Pada malam harinya, peserta menyaksikan arsip video karya koreografi pertama Da Ben (1994), “Bakutiko”, dan karya Gusmiati Suid, “Api Dalam Sekam (1998)”, di mana Da Ben menjadi salah satu penarinya. Kemudian listrik mati ketika setengah jalan video “Api Dalam Sekam”.  Tapi sesi malam tetap dilanjutkan dengan mendiskusikan sejarah kepenarian Da Ben di Gumarang Sakti, serta sejarah pendekatan dan habitus proses di Gumarang Sakti sebagai salah satu titik sejarah tari modern di Indonesia. Diskusi ini demi membawa peserta ke dalam pembacaan konteks-konteks yang melatar-belakangi setiap karya tari.*** (Laporan oleh Taufik Darwis)

0 komentar

Sila Berkomentar

Ingin bergabung dalam diskusi?
Jangan ragu untuk berkontribusi!

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *