baru_DSCF8366

Dari Lokakarya Tari/Koreografer Akademi IDF: Mencicipi Praktik-praktik Seni di Luar Tari

Pada workshop hari keemat (6/11), kami menempuh kurang lebih satu jam perjalanan menunju Jogja dari Desa Wisata Jelok, Gunung Kidul. Baik peserta, pemateri dan tim Akademi IDF bersama-sama di dalam satu mini bus untuk mengungjungi peristwa dan kolektif seniman dari ranah artistik lain di luar tari. Melalui kunjungan ini, peserta diharapkan mendapatkan pengetahuan atas konteks dan situasi produksi dari praktik seni di ranah seni lain.

Kami tiba di Angkringan Wongso. Andy Sri Wahyudi tengah menunggu bersama Linda Agnesia (tim Akademi IDF). Sebelum sesi ngobrol dimulai, Linda memberi pengantar singkat tentang apa itu Bengkel Mime Theatre (BMT) dan memperkenalkan  Andi Sri Wahyudi, Ficky Tri Sanjaya, dan Asita Kaladewa sebagai seniman kolektif yang berproses di dalamnya. Sebelum panjang lebar, Andy meminta maaf karena tidak bisa membawa semua orang ke basecamp BMT karena tidak muat. Andy menuturkan bahwa BMT didirikan pada 2004, nama baru dari Bengkel Pantomim Yogyakarta yang juga dia dirikan pada 2001. Perubahan nama tersebut juga dilatarbelakangi kegelisahan untuk mencari ruang pantomime yang lain. Bahwa pantomime tidak hanya sekedar yang serba slapstick (komedi fisik) seperti yang bisa kita lihat di film Charlie Chaplin.

Salah Satu Moment Kunjungan Para Peserta Workshop | Foto: Dokumentasi IDF

Salah Satu Moment Kunjungan Para Peserta Workshop | Foto: Dokumentasi IDF

Asita kemudian menambahkan bagaimana prosesnya sebagai performer di BMT ketika berproses untuk karya Waiting for Godot yang ditulis Samuel Becket pada 1948-1949, setelah Perang Dunia II. Pada waktu itu yang menjadi sutradara adalah Ari Dwianto (salah satu pendiri yang sekarang lebih terlibat aktif di Teater Garasi). Menurutnya, dalam naskah Waiting For Godot yang disebut Martin Esslin sebagai “Theatre of The Absurd”, di mana situasi koherensi atas sebab akibat, aksi-reaksi, kebulatan karakter manusia, narasi linear (awal-akhir) dan makna bahasa hilang. Banyak adegan diam, intruksi bergerak ke kanan-ke samping, mundur 3 langkah, bahasa yang tidak bermakna, yang membuatnya berfikir kembali dan bertanya, apa sebenarnya tubuh pantomime itu?

Selain berkarya melalui naskah dan tulisan orang, BMT lebih banyak berkarya dengan ide, naskah atau puisi sendiri yang ditulis oleh anggota kolektif. Hal ini misalnya pada karya Langkah-langkah (2004), Romantika Daun Pisang (2005), Aku Malas Pulang ke Rumah (2008-2009), Putri Embun dan Pangeran Bintang, Epos Mini Perkakas Rumah Tangga (2010). Sebelum pindah ke kunjungan lain, Asita menyuguhkan kami sebuah pertunjukan kecil.

Bus kemudian membawa kami ke Yogya Museum untuk mengunjungi Biennale Equator #4, yaitu proyek Biennale Jogja (Yayasan Biennale Yogyakarta) seri Ekuator (Biennale Ekuator-BE) yang berfokus pada kawasan ekuator atau khatulistiwa untuk merumuskan kembali medan seni rupa global. Setelah India (2011), negara di kawasan Arab (2013), Nigeria/Afrika (2017), kini Brazil. Di dalam Yogya Museum kami berpencar hingga jam makan siang, menuruti minat masing-masing. Ada yang sambil mencatat dan mendokumentasikan atau sekedar berfoto selfie di depan karya. Setelah makan, kami kembali ke bus untuk menuju ke studio Pappermoon Puppet Theater (PPT) yang terletak di desa Sembungan, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul. Di sana telah menunggu Iwan Effendi (perupa), salah satu pendirinya. Ketika sampai, selain Iwan kami juga disambut dengan berbagai koleksi boneka, alat-alat kerja yang digunakan ketika proses produksi sampai pertunjukan.

Iwan mendirikan Pappermoon Puppet Theater pada 2006 bersama istrinya, Maria Tri Sulistyani atau lebih dikenal dengan nama Ria Pappermoon (illustrator, penulis, dan mantan aktor teater realis di Gardanala). Iwan kemudian menuturkan bagaimana sejarah besar (seperti tragedi 65) di PPT sangat personal dan punya dimensi yang menyenangkan. PPT menggunakan logika kerja animasi sebagai logika penciptaannya. Jadi, PPT selalu menggunakan story board supaya pertunjukannya seperti membuat gambar.

Kunjungan Ke Pappermoon Puppet Theater | Foto: Dokumentasi IDF

Kunjungan Ke Pappermoon Puppet Theater | Foto: Dokumentasi IDF

Boneka di PPT juga mempunyai kekhasan di dalam ekspresi wajahnya yakni seperti sedang melamun. Iwan menyebutnya dengan tatapan periferal untuk membuka ruang ekspresi yang lebih luas dan dinamis dalam setiap kebutuhan gesturnya. Boneka-bonekanya kerap dibuat dan dikerjakan di dalam pencahayaan seperti di dalam pertunjukan. Selain aspek visual, yang perlu dikenali sebagai prinsip adalah, meskipun mempunyai tubuh dan digerakan pemain, boneka yang dibuat selalu ada missing point, jadi tidak bisa realis. Gesturnya tidak akan detail, karena ditentukan oleh setiap perubahan gestur dari engselnya. Tapi secara yakin Iwan mengatakan, bahwa di dalam pertunjukan teater boneka, ketika sekali penonton sudah percaya boneka yang dilihatnya hidup, walaupun kita meletakannya sebagai benda mati begitu saja, penonton akan terus percaya dia hidup sampai pertunjukan berakhir. Itu adalah kerja dari konsep segi tiga antara aktor/pemain, boneka dan penonton. Pemain adalah teman baik si boneka. Beberapa menit menjelang pamitan, Iwan mempersilahkan kami untuk mencoba memainkan beberapa koleksi bonekanya.

Terakhir, kami mengunjungi Rumah Seni Cemeti. Linda Agnesia yang juga adalah tuan rumah menjelaskan apa itu Rumah Seni Cemeti dan sekaligus memperkenalkan Mella Jaarsma yang juga salah satu pendiri Cemeti. Mella menerangkan ketertarikannya bekerja dengan kostum, yang dimulai sejak 1998. Menurutnya, lapis-lapis pakaian yang kita pakai berhubungan dengan identitas kita. Mella selalu menggunakan modus presentasi yang berbeda-beda untuk isu di dalam karyanya. Misalnya ada yang dipresentasikan secara interaktif atau spesifik baik dari segi tempat atau pun komunitas. Pilihan-pilihan ini juga berhubungan dengan pilihan material yang digunakan, seperti katak pada karya Pribumi-Pribumi dan Hi Inlander (1998-1999) dimana pada waktu itu terjadi kekerasan yang disebabkan oleh isu etnis/ras. Awalnya Mella tidak berani untuk melakukan sesuatu karena sadar dirinya yang bukan orang Indonesia. Tapi karena ini sudah menyangkut isu perihal identitas, dia memutusakan untuk ikut turun ke jalan.  Sebagai orang Belanda yang tinggal lama dan berkesenian di Indonesia, Mella menyadari bahwa cara pandannya atas Indonesia berbeda. Jadi, ada kerja ulang-alik antara menjadi insider dan outsider.

Berdiskusi Bersama Mella Jaarsma di Rumah Seni Cemeti | Foto: Dokumentasi IDF

Berdiskusi Bersama Mella Jaarsma di Rumah Seni Cemeti | Foto: Dokumentasi IDF

Menjelang pukul 9 malam, kami kembali ke Gunung Kidul. Beberapa peserta memang masih ada yang terus berdiskusi dengan Mella meskipun sebenarnya forum sudah ditutup sebelumnya. Tapi kami tetap harus pulang karena perlu istirahat dan persiapan untuk workshop esok hari. Sebagai oleh-oleh dan mencoba menebus ketidakcukupan waktu, Linda membagikan buku-buku terbitan Rumah Seni Cemeti kepada peserta. Setelah itu kamu pun melangkah ke bus, kembali ke Desa Wisata Jelok, Gunung Kidul, makan malam kemudian tidur, mengumpulkan energi untuk hari terakhir workshop esok hari.*** (Laporan oleh Taufik Darwis)

0 komentar

Sila Berkomentar

Ingin bergabung dalam diskusi?
Jangan ragu untuk berkontribusi!

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *