2

DARI LOKAKARYA TARI/KOREOGRAFER AKADEMI IDF: KESEIMBANGAN DAN PROBLEM MODERNITAS

Hari ini (7/11) merupakan sesi terakhir Prapto membagikan Joged Amerta-nya, yaitu latihan memilih komposisi di dalam ukuran-ukuran kehidupan dengan mengambil, membawa dan meletakan objek. Prapto membedakan dua kategori ruang untuk latihan ini yaitu dengan batasan ruang dan tidak dibatasi ruang; atau kita menentukan batas ruang kita sendiri. ‘Memilih’ dalam pengertian Prapto adalah momen ketika punya pilihan dan sudah menentukan keputusan. Sebab biasanya orang yang punya pilihan banyak sulit untuk menentukan keputusan. Dalam praktik tari, Improvisasi kadang disebut sebagai kerja dari institusi dan insting. Padahal, sebutan itu sedang meniadakan ruang dan waktu di dalam semesta pilihan.

Prapto menjelaskan objek sebagai hal yang tidak berbeda dengan tubuh. Jadi, sebenarnya sesuatu yang sederhana. Akan tetapi menjadi tidak sederhana ketika melatih kesadaran itu; kesadaran sebagai penari yang memiliki tubuh panggung. Tubuh yang memiliki ruang samping, kiri, kanan, atas, bawah, depan dan belakang. Untuk memulai latihan, masing-masing peserta memilih lima objek dan lantas merasakan titik keberadaan di dalam ruangan. Setiap gerak yang dilakukan adalah panggung yang juga sebagai bagian dari ruang. Menurut Prapto, jika latihan ini dilakukan terus menerus akan menghasilkan beyond implus, instingtif dan instuitif. Jadi pada prinsipnya, latihan ini untuk melihat sesuatu sebelum terjadi dan membaca dan memperlakukan setiap objek sebagai subjek, termasuk tubuh.

Sesi Bersama Prapto | Foto: Dokumentasi IDF

Sesi Bersama Prapto | Foto: Dokumentasi IDF

Wen-Chi mendapat sesi terakhirnya setelah makan siang. Sebelum dimulai, sebagai prolog, dia menjelaskan prinsip relasinya dengan peserta adalah relasi sesama seniman, bukan guru-murid. Sesi ini adalah sesi di mana Wen-Chi bersama peserta berbagi dan merespon ide, bukan karya jadi. Wen-Chi merasa sangat sulit harus mengajar seniman, karena seniman itu unik dan kompleks personalitasnya dan setiap seniman perlu menghargai itu. Jadi sesi ini adalah sesi bagi peserta mempresentaikan ide; boleh ide yang sudah ada sebelumnya (dari dalam) atau ide yang datang dari luar.

Wen-Chi juga mendapat masukan baginya dari tur kemarin bersama Bengkel Mime Theatre, Papper Moon dan Mella Jarsma, bahwa mereka punya medium dan cara berbeda dalam berkarya tapi semua berangkat dari modernitas. Seperti kolonialisme, perubahan desa-kota, rasisme, trauma politik, dan kehilangan. Sementara Suprapto pada sesi sebelumnya memberikan latihan bagaimana menciptakan keseimbangan diri dengan objek, alam dan ruang. Dan nyatanya, menurut Wen-Chi, kita berada dalam situasi yang tidak seimbang. Jadi, ada problem. Dan pertanyaan terhadap segala sesuatu yang tidak seimbang itu adalah gagasan kontemporer; kita berada di dalamnya tapi tidak tahu.

Hal ini yang membuatnya menilai penting untuk bertanya, seperti yang dijelaskan di sesi sebelumnya. Di titik ini, Wen-Chi berbagi dua cara berkaya melalui pertanyaan besar atas perubahan yang terjadi. Pertama, Fisika; studi tetang material yang nyata, termasuk tubuh (yang meski kita tak melakukan apa-apa, tubuh kita tetap berubah). Studi tentang perubahan fisik yang juga terjadi di dalam diri kita. Kedua, perubahan dari luar; seperti kita melempar atau memukul. Yang mempengaruhi perubahan dari dalam. Seperti seseorang memukul orang lain selama 100 tahun terus menerus, itu akan mengubah orang yang dipukul.

Sesi Bersama Wen-Chi | Foto: Dokumentasi IDF

Sesi Bersama Wen-Chi | Foto: Dokumentasi IDF

Wen-Chi menjelaskan bahwa dalam ranah new media art, seniman bekerja dengan tubuh dari benda-benda yang punya wadag. Dan ruangnya adalah sebagai property (Prapto) yang punya volume isi. Benda dilihat mempunyai ruang waktu, energi dan lingkungannya, yang bisa diubah-ubah posisinya, posturnya dan tempatnya. Wen-Chi kerap bekerja dengan perubahan yang datang dari luar dengan dua tahap mendasar. Pertama, ia deskripsikan dulu benda/materialnya. Lalu bermain dengan imajinasi, mengubah materi misalnya dengan membalikan posisi. Dia menyebutnya, membangun irisan-iran untuk keterhubungan. Saya adalah objek, gelas adalah objek, sendok adalah objek, yang saling berhubungan, demikian paparnya.

Untuk menuju presentasi ide peserta, Wen-Chi memberi dua pilihan ide.  Pertama, ide dari dalam, yang sudah dituliskan sebelumnya dan dikumpulkan. Kedua, benda dari perubahan dari luar (artifisial, berbeda dengan Prapto yang cenderung natural) yang diproduksi dari era dan periode yang spesifik. Benda yang ditawarkan adalah benda yang diproduksi dengan sangat murah yaitu Rainbow Film. Benda yang bagus untuk belajar tentang cahaya. Awalnya, benda ini diciptakan oleh NASA dengan struktur mikro yang rumit untuk eksperimen menangkap cahaya, yang sebenarnya transparan tapi dapat memantulkan sudut-sudut cahaya. Teknologi selalu muncul dari laboratorium yang canggih, sementara konsumen selalu berfikir bagaimana cara memanfaatkannya. Bagi Wen-Chi setiap benda/material diposisikan sebagai penari yang yang harus dipelajari karakternya seperti apa, karena benda bukan dekorasi buat penari. Setiap benda punya bahasa dan geraknya sendiri.

Peserta kemudian menentukan pilihan, yang memilih pilihan pertama mengurai kembali apa yang menjadi idenya. Dan yang memilih pilihan kedua mengamati benda yang diberikan Wen-Chi. Peserta tidak diharuskan melakukan presentasi ide dalam bentuk performatif. Sebab yang dituturkan Wen-Chi dan juga sudah dijelaskan tim Akademi IDF sebelumnya, bahwa yang terpenting adalah kita melakukan ekperimen kecil-kecilan, dimulai dari bertanya, mengamati dan berbagi (artikulasi). Sebagai penari yang bekerja dengan tubuh, penari/koreografer cenderung susah untuk mengartikulasikan lewat kata-kata. Tapi menurutnya mungkin juga harus berpikir, bahwa pembicaraan itu sesuatu yang melengkapi kerja tubuh dari tari yang dilakukan. Kata-kata bukan untuk secara persis menjelaskan pertunjukan. Tapi untuk kebutuhan berbicara, karena layer-layer seni pertunjukan sangat banyak. Kata-kata digunakan sebagai petunjuk atau tanda yang bisa ikuti.

Setelah menentukan pilhan masing-masing, satu-persatu peserta kemudian mempresentasikan idenya. Sesi ini tidak selesai menjelang saat makan malam. Kami memutuskan untuk melanjutkannya setelah makan malam. Kami menyelesaikan presentasi dan setiap peserta mendapatkan feedback. Kegiatan ini berakhir sekitar pukul 9 malam lebih sekaligus menjadi penutup keseluruhan workshop.  Sama seperti di pembukaan, penutupan pun dilakukan secara sederhana. Beberapa peserta bertanya apakah ada seremoni atau tidak, saya jawab tidak, selain ada buah-buahan, minuman dingin dan hangat, coklat dan obrolan serius tapi santai yang tidak lagi terpusat sebagai bagian dari materi. Beberapa orang ada yang melanjutkan diskusi sampai larut malam.

Esok paginya sebelum pulang dan berpencar lagi pada proses masing-masing, pagi-pagi sebagai pemanasan, Da Ben mengulang lagi materi apa yang diberikan dengan tambahan elemen suara dari laptopnya. Satu kali mencoba, banyak yang keliru. Dua kalimen coba, lumayan. Tiga kali mencoba, makin lebih baik.

Sampai jumpa lagi di program Akademi IDF selanjutnya.*** (Laporan oleh Taufik Darwis)

0 komentar

Sila Berkomentar

Ingin bergabung dalam diskusi?
Jangan ragu untuk berkontribusi!

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *