1

DARI LOKAKARYA TARI/KOREOGRAFER AKADEMI IDF: JAWABAN, TARI RANTAK DAN JOGED AMERTA

Seperti biasa, pada hari ketiga workshop (5/11), peserta pemanasan sebelum masuk sesi pemateri. Ayu yang kebagian jadi instruktur kali ini memilih huruf D dari alphabet, dengan turunannya (D)angdut. Musik dinyalakan, peserta kemudian bergoyang dan bergerak pada beberapa variasi pemanasan gaya Ayu di dalam musik dangdut kekinian. Peserta mengaku selain berkeringat dan lentur kembali, mereka juga menjadi rileks dan senang.

Sesi 20 pertanyaan Wen-Chi di dalam tari dilanjutkan selesai sarapan pagi. Pertanyaan yang dibahas kali ini adalah, “seberapa Pentingkah bagimu pentas di atas panggung? Sebagai manusia dan penari/koreografer kamu punya pertanyaan tidak, apa pertanyaan besarmu? Bagaimana kualitas penari yang baik itu? Bagaimana koreoragfer yang berkualitas baik itu?” Melalui pertanyaan tersebut, perserta dibawa dalam ruang diskursif yang di setiap jawabannya mempunyai pantulan satu sama lain. Sedangkan Wen-Chi, sesuai dengan penjelasanya, memposisikan diri bukan untuk menjawab. Ia hanya memberi pemahaman bahwa selama peserta ada di dalam ranah tari, pertanyaan besar setiap peserta itu penting. Dan alangkah lebih baik bila pertanyaan dan jawaban seperti itu dibagi bersama.

Para Peserta Workshop Membaca Tulisan Perihal Joged Amerta | Foto: Dokumentasi IDF

Para Peserta Workshop Membaca Tulisan Perihal Joged Amerta | Foto: Dokumentasi IDF

Menjelang makan siang, setelah sesi Wen-Chi, peserta diberikan tulisan dari Matthew Isaac Cohen, “Suprapto Suryodarmo: Ritual Seni Dalam Luar Dalam, terbitan Royal Holloway, University of London, terjemahan Helly Minarti. Cohen melakukan riset sambil belajar praktik gerak dengan Suprapto Suryodarmo. Tulisan Cohen ini dianggap sebagai salah satu tulisan yang efektif dalam membawa pemahaman peserta pada Joged Amerta yang diberikan Prapto dalam setiap sesi workshopnya ini. Tulisan-tulisan baik dalam bentuk artikel atau pun buku mengenai Joged Amerta dan Suprapto Suryodarmo beredar di Jerman, Inggris, dan negara-negara lain di seluruh dunia. Tulisan yang beredar tersebut bukan ditulis oleh Suprapto sendiri, tapi oleh para peserta workshop yang mengundangnya. Tidak hanya dari disiplin tari, peserta workshopnya yang berasal dari latar belakang yang berbeda; arsitektur, musik, teater, terapis, guru, orang awam, dll.  Salah satu buku tentangnya, Embodied Lives, ditulis 30 murid atau praktisi dari Indonesia, Amerika Utara dan Selatan, serta Australia.

Salah Satu Moment Pada Sesi Da Ben | Foto: Dokumentasi IDF

Salah Satu Moment Pada Sesi Da Ben | Foto: Dokumentasi IDF

Karena di hari kedua, pada sesi Da Ben, muncul nama Tari Rantak dalam presentasi riset Helly Minarti tentang Gumarang Sakti, siang itu Da Ben menawarkan Tari Rantak sebagai salah satu pilihan materi kepada peserta. Da Ben menjelaskan bahwa Tari Rantak yang beberapa peserta mungkin pernah pelajari di kampus masing-masing sudah banyak dimodifikasi. Tari Rantak dibuat Gusmiati Suid bersama penari-penarinya di Gumarang Sakti yang juga mengalami beberapa perubahan sampai menjelang Gusmiati Suid wafat. Perubahan sebelum Gusmiati Suid wafat, Tari Rantak dibuat dengan lebih banyak unsur silek.  Da Ben memberi salah satu bagian di dalam Tari Rantak dan juga menjelaskan prinsip gerak Gelek di dalamnya. Jadi, selain gerak gonyek yang sudah dijelaskan di sesi sebelumnya, Da Ben menjelaskan gerak Gelek, yakni gerak menghindar. Gonyek dan Gelek merupakan dua gerakan yang menjadi prinsip utama di dalam silek.

Sore hari, peserta berkumpul untuk tanya jawab dengan Suprapto tentang Joged Amerta berbekalkan bacaan siang tadi. Prapto bertutur bahwa Joged Amerta dilahirkan dengan penuh liku. Tapi latar belakangnya adalah ketika dirinya punya cita-cita jadi penari, tapi juga ingin masuk di panembahan. Tertarik pada dunia spritualitas Jawa, tapi pada sisi lain tidak cocok dalam tari tradisi. Tapi pada waktu itu juga belum ada tari modern, selain Sardono. Sardono sendiri berkembang dari tari tradisi. Prapto kemudian memutuskan untuk mencari jalan latihan sendiri, dengan ide-ide bentuk gerak dalam kehidupan sehari-hari; duduk, terlentang, ngolet, loncat, melayang dan dengan perubahan-perubahannya. Gerak-gerak ini diletakkan dalam ruang dan watu yang berbeda-beda, melihat perubahan tubuh yang berbeda.

Para Peserta Berdiskusi Bersama Suprapto | Foto: Dokumentasi IDF

Para Peserta Berdiskusi Bersama Suprapto | Foto: Dokumentasi IDF

Dari momen tersebut Prapto agak ‘miring’ sedikit, kemudian latihan meditasi yang menghasilkan pertanyaan: apa saya ingin menjadi seniman panggung, atau ke dunia yang sifatnya panembahan (religiostias)? Prapto tidak mau ke ranah spiritualitas karena cenderung ke perdukunan (spirit: roh). Menurutnya, yang penting adalah rasa ketuhanan. Di titik inilah, Joged Amerta menemukan jalannya dan diminati di tingkat global sampai saat ini. Prapto mengatakan proses ini dimulai tahun 1970.

Malam harinya, peserta berkumpul di tengah hujan dan ketiadaan listrik sambil berbincang mengenai perbedaan akademi IDF dan akademi di kampus seni seperti yang diusulkan Suprapto.*** (Laporan oleh Taufik Darwis)

0 komentar

Sila Berkomentar

Ingin bergabung dalam diskusi?
Jangan ragu untuk berkontribusi!

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *