baru-2

Dari Lokakarya Tari/ Koreografi Akademi IDF: Pembukaan dan Hari Pertama

Orang berdatangan ke Desa Wisata Jelok, Gunung Kidul. Mereka adalah peserta, pemateri dan tim Akademi IDF. Mereka akan saling berbagi pengalaman dan pengetahuan selama 7 hari (2-8 November 2017) ke depan dalam Lokakarya Tari/ Koreografi Akademi IDF. Setelah semua mendapati waktu dan tempat beristirahat, malamnya berkumpullah semuanya di Omag Glugu, pusat pertemuan selama workshop. Sebelum sesi perkenalan, Helly Minarti menjelaskan prinsip workshop kali ini yang berbeda dengan workshop kepenarian sebelumnya. Kali ini, workshop dirancang khusus untuk penari yang juga aktif mengkoreografi dan memberi tantangan petualangan tari di luar pendidikan tari. Selain mencicipi praktik setiap pemateri, peserta juga dilengkapi oleh pembacaan mendalam tentang teks-teks kunci yang dapat memancing diskusi tentang sejarah dan praktik tari serta koreografi dari berbagai konteks. Serangkaian teknik gerak atau teknik tari disusun secara alfabetis dan diberikan kepada peserta untuk dipilih setiap paginya sebagai pintu masuk pemanasan tubuh.

Tapi meskipun berbeda, pemateri workshop tidak jauh berbeda dengan yang sebelumnya. Workshop ini melibatkan kembali Benny Krisnawardi (Padang-Jakarta), Suprapto Suryodarmo (Solo), dan Su Wen-Chi (Taiwan). Tujuannya agar bisa melihat kontinuitas. Sedangkan Tim Akademi IDF (kuratorial) terdiri dari Helly Minarti (Jakarta), Linda Agnesia (Yogya), Nia Agustina (Yogya) dan saya sendiri (Taufik Darwis – Bandung. Tim Akademi IDF akan memfasilitasi dan berbagi topik yang akan didiskusikan baik yang berasal dari praktik selama workshop atau pun bahan bacaan dari hasil riset yang mereka kerjakan. Peserta worshop kali ini terdiri dari 9 orang penari – koreografer, yaitu Ayu (Lampung-Yogya), Tyoba (Solo-Bandung), Dhila (Batusangkar), Echa (Berau-Yogya), Raka (Cirebon-Bandung), Aero (Ponorogo-Yogya), Silvi (Yogya), Gusbang (Bali-Yogya), dan Enchi (Toraja-Jakarta).

 

Hari pertama: Tuning

Hari pertama, 3 November, sudah padat saja. Setelah pemanasan dan sarapan, peserta masuk dalam sesi pertama oleh Suprapto. Olehnya, peserta diajak mengenal dan memahami konsep “tuning” sebagai salah satu cara untuk menyesuaikan tubuh dengan jiwa dan dengan kondisi lingkungan. Prapto mengumpakan seperti kita mengucapkan salam: asallamulaikum, omswastiastu dan lain-lain.

Suprapto dan Helly Minarti | Foto: Dokumentasi IDF

Suprapto dan Helly Minarti | Foto: Dokumentasi IDF

Menurutnya, setiap ruang ada penghuninya, bukan setan atau jin tentu saja, melainkan sebagai ruang komunikasi dengan setiap entitas yang hadir di waktu dan ruang/tempat tertentu. Maka dari itu, setiap orang, dalam konteks sebagai penari-koreografer, membutuhkan latihan untuk “re-member”, menjadi anggota kembali dari pernafasan langit, bumi, dsb. Bukan juga latihan pernafasan, tapi menghayati pernafasan dengan tubuh, mengingat kembali bahwa kita bernafas. Tujuannya agar bisa lebih terang merasakan energi, cahaya, struktur, kontur di setiap ruang/tempat. Peserta diajak untuk berjalan, melihat ke luar dan ke dalam.

Menurut Prapto, hal ini dilakukan agar ketika mau memulai sesuatu proses, kita berangkat dari keberadaan kita, bukan dari pikiran kita. “Kamu merasa kamu di dalam kaos kamu enggak?” begitu tanyanya pada para peserta. Selain itu, latihan ini juga bertujuan untuk membalikan kecenderungan cepat-cepat melakukan kerja aksi-reaksi di dalam praktik tari. Menurutnya sebelum melakukan aksi reaksi, kita perlu menerima ruang/tempat dan waktu terlebih dahulu.

 

Wacana Modernisme di Tari

Sebelum istirahat makan siang dan Jum’at an, workshop dilanjutkan dengan presentasi riset saya terhadap Meta-Ekologinya Sardono W. Kusumo. Riset ini dilakukan melalui penggalian arsip media massa dan wawancara terhadap salah satu pelaku dan saksi di dalam proses Meta-Ekologi. Meta-ekologi dipentaskan di areal tanah seluas 40 x 35 meter di Teater Halaman, TIM, pada 12-15 Oktober 1979. Dipresentasikan di dalam kolam lumpur atau sawah (artifisial) setiap harinya pada pagi hari (10.00 WIB), sore (16.30 WIB) dan malam (20.00 WIB). Riset ini bertumpu pada perbedaan perspektif tanggapan Ikra Nagara dan Edy Sedyawati terhadap Meta-Ekologi. Keduanya sama-sama membadingkannya dengan pertunjukan Alwin Nicolais, seniman (Tari-Teater) dari AS. Karya Alwin Nicolais menekankan aspek visual dari tubuh sebagai objek dan tubuh objek di dalam karyanya.

Presentasi ini bertujuan memancing pemahaman dan diskusi tentang konteks historis—baik pada issue politik maupun artistic. Selain itu juga perihal biografi Sardono yang membentuk wacana modernisme tari di Indonesia. Konteks ini dibaca sebagai yang turut membentuk medan tari saat ini, bahwa medan ketubuhan pada tari mempunyai sejarahnya.

 

Bertanya dan Camera Obscura (Teknologi)

Sebelum diajak mencicipi praktik Su Wen-Chi, dia memperkenalkan kesejarahan praktik artistiknya. Wen-Chi mendapatkan training tari di Taiwan, lalu bekerja sebagai penari (Kobalt Works) bertahun-tahun di Belgia, dan kembali ke Taiwan. Membentuk kolektif Y-Lab yang menghubungkan praktik koreografi dengan new media art. Peserta lantas diajak untuk berbagi pengalaman menari dan mengkoreografi. Dua praktik ini menurut Wen-Chi berbeda. Pengalaman mengkoreografi selangkah lebih maju. Mengkoreografi menurutnya bekerja dengan pertanyaan. Di mana, pertanyaan-pertanyaan itu tidak terbatas pada hal-hal tentang tari.  Buat Wen-Chi, penari memang punya insting dan kecerdasan fisik. Tetapi, sambungnya, lebih baik lagi jika penari juga punya kemampuan mempertanyakan sesuatu; sebuah kecerdasan mental. Lebih bagus lagi jika bisa mengkombinasikan keduanya. Karena tubuh yang cerdas secara fisik pasti menggiring pertanyaan-pertanyaan yang dikirimkan ke dalam aspek mental/pikiran masing-masing.

Salah satu moment pada sesi Su Wen-Chi | Foto: Dokumentasi IDF

Salah satu moment pada sesi Su Wen-Chi | Foto: Dokumentasi IDF

Selesai sesi sharing, peserta diajak untuk membuat camera obscura dari kertas. Nantinya, kamera ini menjadi semacam alat yang logikanya dipakai untuk mengantarkan peserta memahami bagaimana logika teknologi bekerja di dalam dan untuk koreografi. Wen-Chi pun mengajak peserta untuk mensimulasikan logika tersebut. Setelah satu setengah jam berlalu, peserta diajak berdiskusi dan sharing pengalaman dengan camera obscura tadi. Wen-Chi kemudian menjelaskan alasan kenapa dia bekerja dengan teknologi. Baginya, teknologi adalah semua hal tentang bagaimana koneksi dan komunikasi. Di sekeliling kita tidak hanya ada manusia. Ada juga tanda-tanda dari teknologi dan teknologi tidak berada di luar hubungan koneksi dan komunikasi antar manusia. Teknologi juga mengubah cara bekerja ketubuhan kita. Logika media bekerja dalam lingkungan sehari-hari.

Malam harinya, peserta diajak menonton dan mendiskusikan praktik kepenarian dan koreografi Su Wen-Chi melalui dokumentasi video. Dokumentasi yang ditonton adalah dokumentasi ketika Wen-Chi menjadi penari di Belgia dalam karya Kobalt Works, “Heroin” dan dua karya koreografinya, yaitu “Remove Me” dan “Loop Me”.  Sesi ini berusaha menjawabi pentanyaan spesifik peserta pada praktik Su Wen-Chi seperti: apa sih new media art itu? Bagaimana identitas dikonstruksi lewat teknologi? Apakah teknologi di dunia ini adalah sesuatu yang baru? Bagaimana pendapat teman-teman tentang penggabungan seni atau dengan media lain? Wen-Chi bekerja mulai dari mana, apa dari ide, eksplorasi dulu?*** (Laporan oleh Taufik Darwis)

0 komentar

Sila Berkomentar

Ingin bergabung dalam diskusi?
Jangan ragu untuk berkontribusi!

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *