Dari Lokakarya Riset Artistik: Wrap Up

Para peserta memulai hari keenam Lokakarya Riset Artistik dengan sarapan sembari mempersiapkan presentasi masing-masing. Hari terakhir lokakarya ini diagendakan untuk presentasi dan diskusi roadmap proses berkarya masing-masing koreografer Kampana seusai workshop ini hingga IDF 2018 November mendatang.

Alisa Soelaeman Menjelaskan Perkembangan Konsep Karyanya | Foto: Dokumentasi IDF

Alisa memulai presentasinya dengan menampilkan video presentasi karyanya di Paradance, untuk mengingatkan kembali bagian-bagian pertunjukannya. Dia juga menyampaikan tentang temuan-temuannya dari awal lokakarya hingga pertemuan dengan Gunawan Maryanto dan Restu Ratnaningtyas dalam field trip individu di hari sebelumnya. Pertemuannya dengan Gunawan Maryanto lebih membicarakan teks yang nantinya akan digunakan sebagai landasan pembuatan musik oleh Chuck. Kemudian dengan Restu, Alisa justru banyak membicarakan hal personal sebagai modus berkarya. Hal ini menarik karena dalam karya di program Kampana, Alisa juga berkarya dari kondisi psikologi yang sangat personal.

Dari presentasi di Paradance, ketika Alisa melihat Eyi yang pada saat itu dicoba menggantikannya menari, ada perasaan kosong yang justru menyergap. Ini menjadi pertanyaan juga untuk Alisa, mengapa bisa begitu? Mella Jaarsma memberikan tanggapan tentang penggunaan kaos yang dipakai untuk menutupi muka penari dalam bagian tertentu presentasi pertunjukan Alisa. Bagi Mella, hal ini masih dapat dikembangkan lagi dengan kemungkinan kostum yang dapat dieksplorasi lebih lanjut.

Presentasi kedua oleh Riyo Fernando. Baginya, setelah proses lokakarya ini dan pertemuan-pertemun dengan beberapa seniman pertunjukan maupun rupa, ada sudut pandang yang berbeda yang dia lihat ketika berkarya dengan media tari dan visual/rupa. Untuk program Kampana, Rio sudah memiliki gambaran yang jelas tentang karya dan pengembangannya, sehingga proses lokakarya ini baginya lebih kepada sharing atau saling bertukar cerita tentang karya masing-masing. Maka, setelah ini, yang akan dilakukannya adalah mencoba mendatangkan perato’ dan pedandong (pedendang) dalam proses latihannya. Tujuannya untuk menjawab apakah alunan dendang dari perato’ dan pedandong akan memperkuat karyanya. Mella memberikan masukan tentang kostum yang oleh Rio telah dibaca menjadi salah satu simbol penting untuk menyampaikan pesan dalam karyanya; Apakah bisa memiliki kemungkinan menjadi properti?

Sedangkan Ayu Permatasari lebih menyorot tentang hubungan musik dan koreografi yang dalam presentasi Rio sebelumnya terlihat terlalu paralel; Apakah bisa dibuat berkebalikan? Namun bagi Rio, mengalunkan rato’ dan dandong ini memerlukan teknis khusus. Selain soal suara, juga harus mampu memunculkan makna dan rasa. Sehingga koreografinya pun harus disesuaikan dengan itu.

Presentasi dilanjutkan oleh Patricia Toh, partisipan Kampana dari Singapura. Pat memulai presentasinya dengan performance selama sekitar 3 menit. Performative presentation tersebut menggambarkan gagasan tentang body proportion dan measurement yang pada akhirnya bermuara kepada pertanyaan tentang living monument. Konstruksi gagasan ini dimulai dari nafas, yang merupakan sistem di dalam tubuh, bagaimana berhubungan lebih luas dengan sesuatu yang di luar tubuh. Misalnya seperti pada logika ruang yang dalam tradisi China yang berhubungan dengan energi atau feng-shui. Mella menanyakan dari presentasi performatif yang dihadirkan, Pat menggunakan teks sebagai backsound, seberapa jauh teks sebagai penanda dan apa pentingnya teks dalam karya ini? Bagi Pat, teks di sini masih ditimbang akankah sebagai bagian, irisan, atau latar belakang. Akan dieksplorasi kembali antara teks, konsep, dan sensibilitasnya. Bisa jadi, setelah proses tersebut, teks justru berada di tempat yang salah dalam karyanya, sehingga perlu trial and error setelah proses workshop ini. Arco memberi interpretasi bahwa dari teks kemudian terbaca soal bagaimana tubuh lelaki digunakan untuk mengukur tubuh perempuan. Memang secara detail, teksnya sulit diikuti, tapi secara keseluruhan demikian. Nah setelah memetakan tubuh perempuan ini, kemudian bagaimana menutup pembacaan atas karyanya?

Presentasi Performatif Patricia Toh, Pengembangan Gagasan Karya “The Map” | Foto: Dokumentasi IDF

Densiel mengawali presentasi dengan menanyakan asosiasi peserta maupun fasilitator ketika melihat apa yang disuguhkan. Yang pertama, tali derek berwarna kuning dicencang ke pilar dan dibiarkan sisanya menggelayut hingga ke lantai. Asosiasi dari peserta dan fasilitator antara lain: tidak ada lawan, batas, gantung, industrial, mati. Kemudian yang kedua, Eyi Lessar (penari Densiel) diminta berdiri di sebelah tali yang dicencang ke pilar. Asosiasinya: menunggu, berfikir, proteksi, tegangan. Adegan yang terakhir Eyi diminta untuk bermain dengan tali. Asosiasinya: ngeri, tidak setara, gravitasi, pembangunan, maintenance, bumi, tempat pelatihan kuda. Kemudian Densiel menanyakan kepada Eyi apa yang dirasakan. Eyi menjawab mencoba menikmati, menyenangkan, kadang-kadang sakit, kadang-kadang menyenangkan. Bagi Densiel, sekarang ia mempertanyakan persinggungannya dengan tali seperti apa. Selama dalam proses lokakarya ini, dia merasa berjarak dengan tali. Ia melihat dari luar sehingga dia tidak bisa membahasakan apa yang diinginkan dari tali itu. Presentasi performatif tadi, membantu Densiel untuk menemukan apa persinggugannya dengan tali atau apa persinggungan tali dengan orang lain, bukan mau membicarakan asosiasi yang spesifik.

Densiel Lebang Menjelaskan Perkembangan Gagasan Karyanya | Foto: Dokumentasi IDF

Intinya, di dalam karya ini, Densiel ingin mengalami hubungan dengan tali tersebut, main-main dengan tali. Masukan dari Gunawan Maryanto, Densiel di sini sudah tahu mau apa, yakni ingin main-main dengan tali. Yang perlu dicari dan diperjelas adalah kerangka bermainnya bagaimana. Bagi Pat dan Mella, mereka lebih memilih untuk melihat tali sebagai alat, lalu bagaimana alat ini akan digunakan oleh Densiel?

Gusbang dan Tontey mempertanyakan bagaimana memulai proses kembali atas karya yang “kelihatannya” sudah sangat jelas. Ada kebingungan untuk mencari apa lagi setelah ini. Kemungkinan hal yang ingin dicoba adalah soal bunyi; Apakah bunyi, suhu dan bau penting dalam karya ini? Point penting dalam pertunjukan ini adalah soal kepekaan terhadap pengalaman. Bukan sekedar menunjukkan ide, tetapi bagaimana membawa penonton mengalami ruang dan waktu. Oleh karenanya bentuk pertunjukan yang kedua di Jejak Tabi lebih performatif. Untuk presentasi selanjutnya Gusbang dan Tontey ingin mencobakan naskah pertunjukan ini ditubuhkan oleh orang lain.

Rio menyatakan, yang dia lihat dalam presentasi karya di IFI Yogyakarta, tubuh Tontey masih dalam taraf “aman” sedangkan Gusbang seperti menurunkan kualitas teknik tubuhnya. Gusbang dan Tontey sendiri merefleksikan mereka telah mencoba dalam part tertentu bertukar tubuh; Gusbang menjadi tubuh Tontey dan sebaliknya. Namun juga di titik tertentu mereka harus memikirkan keamanan dari proses itu. terutama bagi Tontey yang memang sebelumnya tidak terlatih teknik tubuh tari.

Ayu dan Enk (dramaturg Tubuh Dang Tubuh Dut) memikirkan soal tubuh antara maskulin dan feminin yang disampaikan oleh Arco setelah melihat video karya Tubuh Dang Tubuh Dut. Ayu ingin membaca kembali fenomena dangdut dalam ruang feminin dan maskulin. Dari segi pemanggungan, Ayu dan Enk sudah membayangkan panggung akan dibagi 3 ruang. Panggung yang satu yang akan dibiarkan kosong dengan lampu konser warna-warni, kemudian panggung kedua akan menjadi ruang untuk Ayu sebagai penari, dan panggung ketiga menjadi tempat dimana penonton pertunjukan berada. Pat menyatakan bahwa soal feminin-maskulin dari penjelasan Ayu dan Enk masih bias dan menjadi tidak nyaman. Saran dari Pat adalah melihat lagi data yang sebenarnya sudah sangat banyak dan mungkin justru diabaikan oleh Ayu dan Enk. Mungkin dari data-data tersebut ada hal yang lebih penting untuk menjadi fokus pertunjukan.

Ayu Permata Sari Menjelaskan Perihal Perkembangan Karyanya, ” Tubuh Dang Tubuh Dut” | Foto: Dokumentasi IDF

Beberapa peserta memberikan masukan yang hampir sama. Intinya adalah jika hanya gesture gerak penonton dangdut, yang kasarnya adalah mengcopy-paste gerak penonton dangdut, Ayu masih bisa lebih all out lagi dan harusnya bisa lebih kreatif lagi mengeksplorasi geraknya. Karena sebagai penari dan koreografer memang salah satu tuntutannya adalah pengembangan gerak tubuh. Karena jika kita melihat penonton dangdut bergerak, gerakannya sangat all out dan lebih dari apa yang ditampilkan Ayu dalam presentasi. Namun Pat kurang setuju dengan hal itu, karena kita membicarakan politik tari. Di mana, ada anasir ruang yang berbeda, ruang artistik dan non-artistik.

Terakhir, dari David sebagai salah satu peserta lokakarya ini di luar program Kampana. Dalam hal ini, David hanya memberikan gambaran bahwa setelah ini dia perlu kembali ke Padang dan melihat ulang kostum Bujang Gadih yang akan dijadikan inspirasi karyanya. Dia akan meriset secara lebih mendalam tentang kostum yang multi-gender ini dan lebih jauhnya bisa jadi akan ke arah tegangan antara modernisasi dan tradisional. Tapi Mella mencoba menahan David untuk lebih fokus mencari tahu tentang Bujang Gadih terlebih dahulu, baru kemudian arahnya kemana ditentukan dari temuan itu.

Para Peserta, Para Mentor, Para Kurator, dan Para Direktur IDF Berfoto Bersama di Akhir Lokakarya | Foto: Dokumentasi IDF

Lokakarya hari terakhir ini ditutup oleh Helly Minarti dan kemudian peserta memberikan beberapa feedback serta usulan soal proses pendampingan selanjutnya.*** (Laporan oleh Nia Agustina)