Dari Lokakarya Riset Artistik: Menyadari Batas dan Memetakan Gagasan

Keterbatasan dan Kesadaran Akan Batas

Hari kedua Lokakarya Riset Artistik Akademi IDF 2018 pada 28 Agustus dimulai dengan pemanasan yang dipimpin oleh Riyo Fernando pada pagi pukul 07.00. Setelah sarapan, sesi pertama dimulai pukul 09.30 bersama Mella Jaarsma. Pagi itu, Mella memilih kata kunci “keterbatasan” untuk didiskusikan bersama. Bagi Mella seniman memang memiliki kebebasan yang luas, namun terkadang itu menjadi terlalu luas, sehingga sangat penting untuk berangkat dari keterbatasan yang jelas. Melalui cerita tentang pertunjukan Melati Suryodarmo, Butter Dance, Mella memberikan gambaran perihal “keterbatasan”. Di dalam Butter Dance, Melati membatasi hanya ada 4 blok mentega yang digunakan serta ia hanya mengenakan gaun dan juga membatasi gerakannya hanya pada gerak jatuh dan bangun. Semua batasan-batasan itu ada di sana dengan kesadaran kreator, dalam hal ini Melati sendiri.

Mella kemudian meminta peserta membentuk kelompok beranggotakan dua orang. Setiap kelompok mendiskusikan apa saja secara umum yang berpotensi menjadi batas dalam pertunjukan. Beberapa identifikasi “batas” yang muncul adalah waktu, ketrampilan, material (termasuk di dalamnya kostum dan properti), apresiator/publik (dalam hal ini Mella meng-highlight  lebih kepada jumlah penonton ), ruang (baik ruang dalam artian tempat maupun ruang dalam artian bentuk event), tubuh (proporsi/postur, stamnina, dan pencapaian bentuk), Indra, self censorship, emosi, dan indra.

Sesi Pagi Bersama Mella Jaarsma | Foto: Dokumentasi IDF

Tahap selanjutnya, Mella mengajak peserta lebih mendalami perihal “batas” dengan tugas yang lebih mengerucut. Para peserta diminta menceritakan pertunjukan yang pernah ditonton dan batas-batas apa yang terlihat di dalam pertunjukan tersebut. BM Anggana, dramaturg dari Ayu Permatasari, menyebutkan pementasan Margi Wuta karya Joned Suryatmoko. Di sana terdapat batas yang terlihat jelas yakni penonton yang hanya dibatasi 25 orang dan indra penglihatan penonton ditutup kain selama pertunjukan berlangsung. Batas ini secara sadar dimunculkan untuk memperkuat konteks dan konsep pertunjukan.

Berbeda dengan yang diceritakan Patricia Toh, peserta workshop asal Singapura, yang pernah melihat pertunjukan teater di Singapura. Ketika masuk ke ruang pertunjukan, penonton mendapati 10 kasur yang masing-masing ditiduri oleh pemain. Kemudian, para penonton dipersilahkan tidur di sebelahnya dan diminta bercerita apapun kepada para aktor. Namun, ada batasan-batasan yang justru merusak intimasi pertunjukan, misalnya tidak boleh menyentuh aktor, ada jarak tertentu yang diperbolehkan, dan lain-lain. Maka, batas di sini memiliki dua mata pisau; Dapat memperkuat konsep dan konteks pertunjukan atau justru tidak sejalan dengan tujuan pertunjukan. Sebelum lebih mengerucut, Mella meminta peserta menciptakan satu batas dalam dirinya. Aktivitas ini diharapkan dapat lebih memperjelas apa itu “batas”, terutama dalam kesadaran pilihan pada saat berkarya.

Dari situ, diskusi berlanjut dengan menceritakan pengalaman masing-masing ketika secara sengaja memberi batas pada diri. Di akhir sesinya, Mella meminta peserta membuat list batas apa yang sudah ataupun akan diciptakan dalam pertunjukan masing-masing peserta. Mella juga mengingatkan bahwa harus benar-benar ada kesadaran dalam menciptakan batas sehingga batas tersebut dapat mendukung konsep bahkan menjadi  karya itu sendiri.

Metode Klasifikasi Untuk Menilik Ulang Gagasan

Nampaknya sesi kedua yang difasilitasi oleh Gunawan Maryanto (Cindhil) dapat melengkapi materi sesi pertama dari Mella Jaarsma. Setelah “batas” apa yang dipilih oleh peserta dalam karyanya, selanjutnya Cindhil mencoba membantu mereka memetakan ulang ide karya. Chindil memulai dengan memberikan statement bahwa, penciptaan tidak hanya berkutat pada soal rasa/perasaan saja tetapi juga the way of thinking.  Chindil juga membagikan soal tahapan kerja mulai dari menggali pertanyaan, gali sumber, improvisasi, kodifikasi, komposisi, dan presentasi. Tahapan ini memang tidak selalu harus berurutan. Misalnya. ada beberapa koreografer yang cara kerjanya mulai dari improvisasi terlebih dahulu, seperti yang dilakukan Densiel, namun pada akhirnya ketika mulai pada tahap kodifikasi, tema besar dan penggalian sumber tentu dibutuhkan.

Sesi Mengklasifikasi Pemikiran Bersama Gunawan Maryanto | Foto: Dokumentasi IDF

Dari penjelasan tersebut kemudian Cindhil mencoba menggiring peserta berpraktik menggali kembali gagasannya. Peserta diminta menuliskan kata kunci dari karya mereka. Kata kunci tersebut dituliskan dalam kertas post-it, satu kata di setiap lembar.  Semua kata kunci tersebut ditempelkan ke whiteboard. Awalnya secara acak, kemudian Cindhil meminta peserta mengurutkan sesuai dengan kata kunci yang menjadi prioritas. Dan tahap selanjutnya adalah mengklasifikasikan sesuai dengan kelompok kata yang saling berdekatan. Dari sini, mulai terlihat bahwa cara kerja ini memang penting untuk memetakan keruwetan-keruwetan yang ada di dalam kepala. Pada akhirnya diharapkan akan ada pijakan yang jelas dalam proses berkarya. Selain dalam tataran ide atau gagasan, pemetaan ini juga dapat diaplikasikan dalam tahap tata artistik.

Beberapa peserta memberikan pantulan soal proses ini. Rio misalnya sudah merasa berjarak dengan ide pada karyanya. Lantaran, karyanya itu sudah dimulai 2 tahun yang lalu. Dengan sesi ini, Rio merasa terbantu karena pada akhirnya dapat mengingat kembali gagasan-gagasan tersebut.

Membaca Bagong Kussuadiardja dan Wisnu Wardhana

“Medan seni pertunjukan yang tengah kita jalani tidak terberi begitu saja, tetapi mengalami konteks yang panjang,” demikian Agnesia Linda Mayasari (Linda) memulai sesi ketiga, sesi kelompok belajar bersama Muhammad AB. Muhammad AB memaparkan hasil penelitiannya tentang Bagong Kussuadiardja dan Wisnu Wardhana pada masa 1950-1960 yang dia garap bersama Linda. Muhammad AB memulainya dengan memperkenalkan siapa itu Bagong Kussuadiardja. Bagong Kussuadiardja memang asing bagi para peserta; Ada yang hanya mengenal sekali dua nama itu tanpa tahu siapa sosoknya dan ada yang bahkan tidak pernah mendengarnya sama sekali. Pada awalnya Bagong lebih intens menjadi pelukis, meskipun memang memiliki basic tari klasik gaya Yogyakarta yang dipelajari di Krida Beksa Wirama. Pada masa kepemimpinan Soekarno, salah satu usaha Soekarno mempromosikan kebudayaan adalah dengan menciptakan identitas Indonesia. Dari ide tersebut, maka seakan wajib bagi para penari dan koreografer untuk mempelajari tarian dari daerah lain, supaya mereka lebih kaya sehingga dapat menciptakan karya tari yang dapat merepresentasikan Indonesia.

Ide tentang mabuk Amerika juga menjadi salah satu bagian penjelasan Muhammad AB. Bagaimana kemudian Bagong Kussuadiardja dan Wisnu Wardhana pada tahun 1958 sudah melakukan semacam residensi selama 8 bulan di Amerika. Salah satu kelas yang mereka ikuti adalah kelas Martha Graham. Sepulang dari sana, Bagong mendirikan Pusat Latihan tari (PLT) Bagong Kussuadiardja yang masih dapat dilihat aktivitasnya hingga kini. Sedangkan Wisnu Wardhana mendirikan Contemporary Dance School of Wisnu Wardhana, namun sudah tidak beroperasi lagi.

Muhammad AB Sedang Membincangkan Bagong Kussuadiardja dan Wisnu Wardhana | Foto: Dokumentasi IDF

Selain membawa dampak soal menciptakan ruang, Amerika juga berdampak pada karya-karya Bagong Kussuadiardja. Pada tari Layang-layang versi pertama, bentuk kaki masih seperti ragam tari klasik gaya Yogyakarta. Namun, setelah kembali dari Amerika, kaki dalam bentuk poin menjadi lebih dominan. Ini dapat dilihat lewat satu-satunya foto yang ditemukan dalam proses pengarsipan. Tari Wira Pertiwi pun demikian. Bentuk kaki dalam sebagian ragam berganti-ganti antara kaki dalam gaya tari klasik Yogyakarta dan kaki poin.

Sesi ketiga ini memang fokus untuk melihat praktik-praktik pada tahun 60-an dan trajektorinya. Pertanyaan menarik dilontarkan Ayu Permatasari bahwa, bagaimana Bagong Kussuadiardja ditandai lantaran ada semacam momentum tertentu yang membuat apa yang dilakukannya menjadi penting. Pada masa ketika Bagong Kussuadiardja aktif, tari yang menggunakan ekspresi atau tari dengan tema-tema ringan seperti orang bermain layang-layang atau orang bermain kuda-kudaan dianggap tidak bagus. Sehingga perlawanan Bagong justru menjadi pas dan kemudian mengubah sejarah.

Linda mengakui bahwa, momentum itu memang ada. Namun, tetap saja ada spektrum hidup yang kompleks yang kemudian mengharuskan Bagong Kussuadiardja menentukan pilihan-pilihan. Salah satunya pada saat dia harus melawan keluarga untuk berkarya, sehingga harus bekerja sebagai tukang semir sepatu, dan yang lainnya untuk menghidupi keseniannya. Itu tentu pilihan hidup yang sulit. Ada usaha-usaha yang secara konsisten membuat dia, Bagong Kussuadiardja, berada pada titik sejarah yang sedang kita bicarakan ini. Sehingga, perlu disadari juga tentang titik mana yang kita tempati dalam sejarah panjang seni pertunjukan yang akan terus berjalan ini.

Night Club: Dramaturgi Abstrak di Dalam Proses Kolaborasi

Sesi malam dimulai dengan pertanyaan Pat pada Arco perihal dramaturgi abstrak yang dijelaskan Arco sebelumnya. Ada dua hal yang penting dalam dramaturgi abstrak. Pertama adalah titik mulai dan yang kedua adalah tahu dengan siapa kita berkolaborasi. Pada titik mulai ini, Arco tidak menentukan ide tertentu dan juga tidak merencanakan apa yang harus dilakukan ketika memulai kolaborasi. Rencana pertemuan dan kolaborasi memang selalu ada, namun rencana besar dramaturginya tidak. Tentu tetap perlu diingat soal kerangka kolaborasi tersebut seperti waktu, kapan premier, dan situasi kondisi selama proses kolaborasi berlangsung. Sehingga, ketika situasi dan hasrat sudah tidak cocok lagi, maka kita harus berimprovisasi lagi. Atau ketika sesuatu yang berharga muncul selama latihan, maka itu harus diambil. Hanya saja yang perlu diingat adalah jangan sampai meninggalkan akarnya.

Arco juga memberi gambaran nyata yang pernah dia lakukan yakni berkolaborasi dengan pemusik menggunakan notasi yang terkadang justru bagi koreografer membingungkan. Namun proses ini tetap penting sebagai bagian dari kolaborasi.

Diskusi malam itu cukup hangat bergulir. Pada akhirnya secara mengalir Arco mulai memberi pertanyaan secara spesifik kepada setiap peserta dari catatan presentasi hari sebelumnya. Seperti bagaimana proses kolaborasi antara musik dan koreografi yang terjadi antara Chuck dan Alisa. Chuck mulai membuat musik dari mendengarkan cerita Alisa, karena pengalaman personal Alisalah yang memang menjadi titik berangkat juga bagi koreografi, sehingga musik juga demikian. Bagi Arco penting juga memikirkan musik dan relasinya dengan kita, harapannya pentonton juga dapat melihat relasi itu, di luar impuls yang muncul secara fisik, seperti dalam karya Ayu, impuls yang muncul jelas, namun apa relasi musik dengan Ayu tidak terlihat.

Sesi Diskusi Malam Bersama Arco | Foto: Dokumentasi IDF

Selain tentang dramaturgi abstrak strategi kolaborasi musik dan koreografi muncul pertanyaan dari Densiel dalam sesi itu; bagaimana jika dalam berkarya kita sebenarnya ingin menitik-beratkan pada fokus tertentu untuk dibicarakan, namun penonton justru menangkap hal lain yang tidak inginkan? Bagi Arco, dalam berkarya ada hubungan vertikal dan horisontal. Dalam hubungan karya secara vertikal, dalam artian penonton, koreografer harus yakin atas apa yang dilakukannya dan hal selanjutnya adalah memikirkan bagaimana strategi komunikasinya sehingga mengurangi residu dalam tangkapan penonton.*** (Laporan oleh Nia Agustina)