Dari Lokakarya Riset Artistik: Memilih dan Melakukan Pendekatan dalam Riset Artistik

“Kalian membawa sesuatu?” Mella Jaarsma memegang pelantangnya dan bertanya kepada setiap peserta yang telah berkumpul setelah sarapan di hari ketiga Lokakarya Riset Artistik, Akademi IDF 2018. Sesi pertama hari ini adalah sesi lanjutan Mella. Ia membagikan salah satu cara/jalan dalam riset artistik yang dilakukannya, yaitu bekerja melalui satu material. Sebelum menunjukan material  apa yang dibawa, Mella meminta peserta menuliskan 3 kata sifat dari material yang dibawa, lalu meminta mereka untuk memilih 1 di antaranya, disertai alasan dari setiap pilihan itu. Kemudian, peserta membuat 3 kata asosiasi dari kata sifat yang dipilih, lalu diperas hingga tinggal satu. Jadi, sekarang peserta memilki tiga kata; Penanda dari material, kata sifat (konsep mental), dan asosiasi. Beberapa peserta ada yang berstrategi dengan membawa material yang baru dan ada juga yang membawa material yang digunakan dalam proyek artisitik masing-masing.

Dari tiga kata (kunci) tersebut Mella meminta perserta membuat konsep atau deskripsi rencana pertunjukan, termasuk menjelaskan kemungkinan durasi, ruang, gerakan, dan pemosisian penonton. Peserta diberikan waktu 20 menit untuk mengerjakannya. Masing-masing perserta mendapatkan giliran untuk memaparkan ide dan mendapat masukan dari peserta lain. Situasi lokakarya yang meminta setiap peserta aktif dan mengambil peran dalam penguatan ide yang muncul memang menjadi watak lokakarya kali ini. Watak lokakarya seperti ini memberikan banyak input, tidak hanya bagi setiap peserta tapi bagi setiap orang yang ada di lingkarannya. Termasuk fasilitator.

Sesi siang setelah makan dan mengendapkan sejenak alur pikiran yang lahir dari sesi Mella, peserta melanjutkan lagi salah satu aspek praktik artistik Arco. Praktik Arco sendiri secara langsung dan tidak langsung mempunyai irisan tersendiri bagi beberapa proyek peserta. Terutama proyek-proyek yang berkaitan dengan emosi, kesadaran, nafas, dan tentu saja tubuh. Misalnya dalam proyek Alisa, Riyo, dan Pat yang telah dijelaskan sebelumnya. Kali ini Arco mengajak peserta untuk memperdalam apa yang disebutnya sebagai teknik ‘spiral’ dan kesadaran. Arco memberi bingkai pengertian atas ‘kesadaran’ sebagai cara untuk memulai dan mengakhiri gerak di dalam praktiknya. Kesadaran yang dia maksud bukan sekadar kesadaran bentuk yang biasanya terjadi dalam praktik artistik yang melihat koreografi sebagai praktik menulis gerakan. Kesadaran ini diproduksi oleh bagaimana kita bernafas, kesadaran atas nafas sebagai energi. Tapi Arco juga memberi penekanan bahwa ini adalah salah satu cara dari sekian banyak cara. Sedangkan teknik ‘spiral’ digunakan untuk mengubungkan setiap titik di mana perjalanan gerak yang dibiarkan mengalir sendiri dengan memelintir tiap sendi di tubuh.

Para Peserta Lokakarya Riset Artistik Akademi IDF 2018 Pada Sesi Arco Renz | Foto: Dokumentasi IDF

Arco mengawali dengan mengajak peserta untuk membuat uji coba pertama dengan membuat spiral di salah satu tangan masing-masing. Setelah itu, peserta diminta untuk memperluas perjalanan spiralnya ke bagian tubuh lain, dari yang sederhana hingga yang rumit. Selanjutnya, dia meminta setiap peserta untuk melakukannya secara berpasangan dan bergantian. Satu orang menentukan peta atau titik-titik perjalanan, sementara satu orang lain bertugas melakukan perjalanan, atau menggerakannya. Tahap berikutnya adalah peserta kembali diminta untuk melakukanya sendiri dengan meningkatkan intensitas, kualitas gerak, serta kualitas spiralnya. Untuk itu peserta perlu menciptakan titik-titik aliran sendiri atau peta perjalanan spiralnya sendiri, menentukan titik awal dan titik akhir masing-masing.

Diskusi Bersama Bakudapan, Yogyakarta | Foto: Dokumentasi IDF

Dari dua sesi praktikal sebelumnya, sore hari setelah istirahat dari sesi Arco yang menguras energi dan kesadaran, peserta diajak ke ruang diskursif melalui presentasi dari Bakudapan. Bakudapan, berbasis di Yogyakarta, adalah kelompok belajar dari latar belakang studi yang berbeda yang membahas gagasan tentang makanan. Mereka percaya bahwa makanan bukan hanya soal perut. Selain itu makanan tidak dibatasi sekadar memasak, sejarah, konservasi, dan ambisi untuk memperkenalkannya kepada dunia. Bagi mereka makanan bisa menjadi alat untuk berbicara tentang isu-isu yang lebih luas seperti politik, sosial, gender, ekonomi, filsafat, seni, dan budaya. Bakudapan juga menjelaskan skema kerja mereka dalam setiap proyek mereka yaitu melakukan pertukaran referensi dan penelitian tentang makanan di antara seni, etnografi dan praktik atas makanan itu sendiri.

Mereka memiliki bentuk dan metode proyek penelitian yang beragam seperti mengapropiasi bentuk-bentuk presentasi performatif (seni pertunjukan, pameran, lelang karya, dan lain lain) hingga dalam bentuk kehidupan sehari-hari (memasak, berkebun, membaca, dll).  Dan sebagai komitmen terhadap distribusi pengetahuan, mereka menulis jurnal di setiap proyeknya. Mereka juga secara aktif melatih diri untuk menulis di situs/web mereka, http://bakudapan.com. Presentasi Bakudapan menarik forum pada diskusi perihal isu-isu seperti apa dan bagaimana tegangan antara data dan fiksi; lalu bagaimana memverifikasi data; Serta bagaimana mereka memperluas jejaring penelitian dan praktis artistik.

Sesi Malam, Diskusi Antara Peserta dan Fasilitator | Foto: Dokumentasi IDF

Akhir hari, peserta dan fasilitator berkumpul untuk membicarakan apa yang sudah ditemukan selama hampir tiga hari lokakarya dan memberi semacam pengantar atau orientasi pada peserta untuk jadwal esok hari. Rencananya memang akan diadakan kunjungan ke 4 lembaga seni di Yogyakarta: Cemeti Art and Society, Teater Garasi/ Garasi Performance Institute, Ace House, dan IVAA.*** (Laporan oleh Taufik Darwis)