Dari Lokakarya Riset Artistik: Kunjungan-kunjungan dan Pembacaan-pembacaan

Hari keempat lokakarya (29/08/2018) seperti biasa peserta melakukan pemanasan bersama. Pukul 09.30-16.00 peserta dijadwalkan untuk fieldtrip ke ruang dan kelompok kesenian di sekitar tempat lokakarya berlangsung. Ruang-ruang tersebut adalah Teater Garasi, Cemeti institut untuk seni dan masyarakat, Ace House Collective, dan IVAA (Indonesian Visual Art Archive).

Kunjungan pertama ke Teater Garasi peserta disambut oleh M.N Qomarruddin atau akrab disapa Qomar dan Sita, anggota Teater Garasi. Mula-mula, peserta diajak berkeliling untuk melihat ruang-ruang di sana; Kantor, dapur dan ruang berkumpul, ruang tamu, juga black box. Peserta juga dikenalkan secara sekilas profil Teater Garasi, mulai dari berdirinya pada 1993 yang awalnya adalah teater di dalam kampus FISIPOL UGM, kemudian hingga pada akhirnya bergerak di luar kampus. Dari ketika berdiri lebih kepada teater untuk akitivisme kemudian ketika masa reformasi Indonesia, teater Garasi juga melakukan reformasi di dalam tubuh kelompoknya. Diskusi berlanjut dengan pertanyaan dari peserta terkait program Teater Garasi. Qomar menjelaskan bahwa ada beberapa program yang sampai hari ini masih berjalan antara lain forum yang mempertemukan performer dengan publik, forum pedagogi atau pendidikan. Salah satunya seperti yang sedang aktif dijalankan saat ini yaitu Majelis Dramaturgi. Program yang lain adalah penulisan atau pengarsipan. Selain itu, Teater Garasi juga memiliki perpustakaan yang sifatnya terbuka. Pendekatan organisasi Teater Garasi adalah kolektif yang diharapkan dapat meumbuhkan setiap orang di dalamnya.

Kunjungan Individu Hari Ke Lima: Densiel Bertemu Tony Broer | Foto: Dokumentasi IDF

Sekitar satu setengah jam ngobrol santai di Teater Garasi, pukul 11.30 peserta melanjutkan perjalanan ke ruang kedua, Cemeti institut untuk seni dan masyarakat. Setelah berkeliling dan dipandu menonton pameran Bodies of Power/ Power for Bodies di Galeri Cemeti, peserta ngobrol secara informal bersama mbak Mella Jaarsma, salah satu pendiri Cemeti institut untuk seni dan masyarakat. Cemeti mengalami 10 tahun masa kepemimpinan Soeharto (Orde Baru) yang represif. Hal ini sangat mempengaruhi bagaimana seniman berkarya, lebih ke arah aktivisme dan kritik terhadap pemerintahan. Setelah masa kepemimpinan Soeharto berakhir, seniman seperti kehilangan inspirasi berkaryanya. Lalu Cemeti sendiri juga mempertanyakan, akan melakukan apa lagi? Ke arah mana? Boom pasar seni rupa pada 2007-2008 membuat seniman kembali lagi ke karya yang bisa dijual. Ini mempengaruhi mindset seniman muda pada saat itu. Pada saat itulah tepat waktunya Cemeti untuk membuka program residensi. Harapannya, dengan program ini seniman lebih kritis menilik wacana dalam berkarya, bukan sekedar berkarya untuk kepentingan pasar. Cukup menarik mendengarkan dan berdiskusi soal dinamika Cemeti; bagaimana menyesuaikan diri, mengevalusi, dan bertranformasi di dalam perjalanan sejarah seni rupa yang panjang.

Setelah makan siang di Galeri Cemeti, pukul 13.30 peserta meneruskan field trip ke Ace House Collective. Di sana kami disambut oleh Gintani, salah satu kurator Ace House. Ngobrol santai kami lakukan di halaman belakang galeri/kantor Ace House. Mulai dari bagaimana Ace House terbentuk pada 2011, kemudian praktik kerja kreatifnya yang menggunakan pendekatan budaya populer dan anak muda, hingga bentuk organisasinya yang kolektif. Salah satu proyek Ace House yang menarik adalah Ace Mart. Proyek ini mencoba membuka ruang galeri ke publik yang lebih awam kesenian dengan cara membuat minimarket di dalam ruang galeri. Ini dilakukan karena muncul pertanyaan dari anggota Ace House sendiri, mengapa ruang galeri yang sejatinya ruang publik namun kesannya terbatas dan dingin. Terbukti, dengan dibukanya Ace Mart memang berhasil membuat publik mau masuk ke galeri dan tentu kemudian memperluas jangkauan audiens Ace House Collective.

Kunjungan Individu Hari Ke Lima: Alisa dan pemusiknya, Chuck, Bertemu Dengan Gunawan Maryanto di Teater Garasi | Foto: Dokumentasi IDF

Hari sudah mulai sore dan perjalanan peserta hari itu berakhir di IVAA (Indonesian Visual Art Archive). Di sana ada beberapa staf, staf magang, dan relawan yang diperkenalkan secara langsung oleh direktur IVAA, Lisis. Lisis menceritakan bahwa IVAA adalah organisasi non-profit yang didirikan pada April 2007 dan merupakan pengembangan dari Yayasan Seni Cemeti. Lembaga yang bekerja dengan fokus pada pengumpulan arsip ini memperoleh arsip dengan berbagai cara dan dari berbagai tempat. Mulai dari donasi arsip, liputan, hingga media sosial. IVAA mencoba mengisi kekosongan lembaga arsip pemerintah yang birokrasinya luar biasa rumit dan juga museum ternyata tidak secanggih yang dibayangkan. Dijelaskan pula oleh Lisis bahwa mengelola arsip bukanlah hal yang mudah, bukan sekadar pada proses pengumpulannya, tetapi juga dalam proses kontekstualisasi (membaca kembali) arsip-arsip tersebut.

Muncul pertanyaan dari Ayu, “Selain arsip sebagai data, apa lagi fungsi arsip?” Lisis menjawab, bahwa arsip adalah alat untuk membaca sejarah, sehingga kita bisa mengkritisi sejarah yang mula-mula ditulis dan disebarkan oleh kolonial. Pertanyaan lain, dari Riyo, “Bagaimana IVAA mendapatkan dana untuk membangun infrastruktur seperti sekarang? Selain itu, karena konteksnya peserta adalah penari bukankah kita juga melakukan pengarsipan lewat tubuh?” Untuk pertanyaan pertama, Lisis memberi gambaran bahwa sebagian besar infrastruktur yang sudah berdiri sekarang dibangun dari dana dari Ford Foundation dan yang sedang dibangun adalah hibah dari Bekraf. Buku-buku dalam perpustakaan kebanyakan dari donasi. Soal pengarsipan lewat tubuh, Lisis juga menyetujui hal itu, tapi kemudian perlu didiskusikan lebih lanjut lagi tentang hal yang satu ini.

Hari keempat berakhir di sini. Setelah field trip sehari penuh, nampaknya peserta mulai kelelahan dan alih-alih melakukan night club di Omah Kebon, akhirnya kami menyepakati untuk sekedar ngobrol santai dan orientasi untuk hari kelima sambil ngopi dan makan di luar. Nampaknya ngobrol santai malam itu berhasil membuat peserta lebih rileks, hingga pada pagi harinya mereka tampak semangat kembali untuk memulai field trip individual.

Field trip individual di hari kelima ini adalah pilihan peserta sendiri dengan rekomendasi kurator. Mereka bebas menemui siapapun dan apapun yang mereka pikir perlu untuk ditemui di Yogyakarta, baik individu, organisasi, tempat, dll. Perjalanan ini mencoba memfokuskan masing-masing koreografer untuk melihat praktik di luar sana yang sesuai dengan praktik koreografi yang sedang dijalaninya sekarang secara lebih spesifik. Riyo yang mengambil tema besar kebakaran hutan di Riau sebagai dasar koreografinya menemui Maryanto, salah satu perupa yang juga banyak mengambil hutan dan lahan sebagai tema-tema karyanya. Ayu menemui Irfan R. Darajat, salah satu peneliti dangdut dan anggota Laras, studies of music and society. Selain itu Ayu juga menemui Gunawan Maryanto dan M.N Qomaruddin untuk memperoleh gambaran tentang pertunjukan Teater Garasi yang mengambil inspirasi dari dangdut, yaitu “Je.ja.l.an”, “Tubuh Ketiga”, “Goyang Penasaran”, dan “yang Fana adalah Waktu. Kita Abadi”. Alisa menemui Gunawan Maryanto terkait dengan diskusi mengenai teks yang akan menjadi salah satu dasar eksplorasi koreografi dan musik dalam pertunjukannya. Perjalanan Alisa dilanjutkan dengan mendatangi rumah Restu Ratnaningtyas. Restu bisa dibilang termasuk salah satu seniman intuitif, memulai berkarya dengan intuisi, namun dalam prosesnya, dia selalu memunculkan pertanyaan-pertanyaan atas karya yang sedang dibuatnya. Tentu pertanyaan tersebut sekaligus coba dijawabnya dari hasil melihat, membaca, mengamati, menonton, ngobrol, dll, sehingga pada akhirnya karya-karya Restu selalu memiliki isi yang padat dengan emosi yang kuat, karena merupakan gabungan dari intuisi dan pengetahuan.

Gusbang dan Tontey hari itu juga ikut mengantre bertemu dengan Gunawan Maryanto untuk membicarakan soal teks. Sedangkan Densiel mencoba menemui Tony Broer yang harapannya dari situ Densiel dapat menemukan jawaban atas relasinya dengan tali yang menjadi unsur utama dalam pertunjukannya. David dan Patricia hari itu berurutan menemui Mella Jaarsma. David ingin mengulik tentang karya-karya Mella yang menggunakan pendekatan fashion, sedangkan Patricia lebih banyak mencari tahu lebih dalam tentang materi yang diberikan Mella di sesi workshop, terkait material dan keterbatasan. Selain dengan Mella, David juga menemui Triastuti Dina, dari Kalanari Theatre Movement. Kebetulan Kalanari pada saat itu tengah menyiapkan pertunjukan berjudul “Un(Fitting)” yaitu kostum dalam lemari Kalanari sebagai pembacaan sejarah atas perjalanan Kalanari itu sendiri. Selain itu setahun lalu Kalanari mementaskan “Moro a Fashion Story” yang menggunakan kostum sebagai pendekatan membaca dan menceritakan Morotai. Dengan alasan tersebut, memang penting David yang sedang bereksplorasi dengan kostum Bujang Gadih menemui dan ngobrol dengan Dina.

Hari Keempat: Para Peserta Makan dan Ngobrol Santai di Luar Setelah Kunjungan | Foto: Dokumentasi IDF

Malam harinya, peserta kembali ke Omah Kebon dan makan malam sambil ngobrol santai dengan Agni, Manajer Residensi di Cemeti Institut untuk Seni dan Masyarakat. Ngobrol-ngobrol tersebut berkisar soal perkenalan soal residensi, dan bentuk residensi di berbagai tempat dan juga di Cemeti. Forum berakhir pukul 21.00 dan peserta diminta untuk mempersiapkan presentasi untuk hari keenam workshop yang berisi perkiraan road map prosesnya setelah workshop ini berakhir hingga IDF di bulan November 2018 nanti.*** (Laporan oleh Nia Agustina)