baru_IMG_4615 - ed

Tubuh Laut dan Darat Yang Berkeringat

Tubuhnya yang ramping dan kuat menyerupai barakuda itu muncul perlahan dari sudut panggung yang gelap, bergerak mundur membelakangi penonton. Eko Supriyanto mulai menari dengan gerakan kaki dan tangannya yang kecil-kecil. Memunculkan kekuatan detail-detail otot dan tubuh bagian tengah dan belakang dalam samar. Penataan cahaya dari reflektor yang begitu dekat, buah keahlian Jan Maertens, menambah intensi itu. Ruang Teater Salihara terasa memuai, seakan melangkah perlahan ke ruang lain. Membawa penonton hanyut dalam sentuhan imajiner pada ilusi kedalaman laut.

Eko Supriyanto, sebagai koreografer dan penari tunggal, menyebut bagian kemunculan pertama di atas panggung dengan durasi yang begitu padat namun intens ini sebagai “Barakuda”. Sebuah metafora dari nama jenis ikan predator yang hidup di perairan tropis.

“Saya merasakan arus bawah, gravitasi, hingga saat saya kembali ke permukaan, itu semua sangat mempengaruhi tubuh,” ungkap Eko yang terakhir melakukan eksperimen diving sekitar Februari-Maret 2017 di Jailolo, Maluku.

Eko Supriyanto Ketika Mementaskan "SALT" di Teater Salihara

Eko Supriyanto Ketika Mementaskan “SALT” di Teater Salihara

Koreografi pertunjukan “SALT” yang dipentaskan pada 12 November malam di Teater Salihara merupakan hasil riset. Terutama ketika ia menjadikan pengalaman menyelam sebagai studi pelacakan dan eksperimen tubuh.

Akan tetapi, pengalaman pergumulan tubuhnya dengan laut hanya salah satu sisi pijakan kreatifitas. Dalam pertunjukan SALT, Eko menampilkan hasil penjelajahan tubuh yang bertranformasi antara ruang darat dan laut. Budaya agraris dan maritim ini sekaligus mencoba merangkum perjalanan karyanya secara komunal dalam “Cry Jailolo” dan pertunjukan tari “Cakalele” tarian perang dari Maluku Utara menjadi lebih personal.

Oleh sebab itu, pertunjukan “SALT” begitu kaya akan tawaran bentuk dan gerak yang ditampilkan. Seolah menjadi intisari perjalanan 5 tahun risetnya di Jailolo dengan tubuh maritim. Dan sekaligus secara transformasi ulang-alik, ia melemparkan dirinya kembali ke akar dengan identitas ke-Jawa-annya.

Eko yang dilahirkan dari keluarga Jawa, pada 26 November 1970 silam, merefleksikan tubuh Jawa melalui bentuk gerakan Jathilan. Sebuah tarian tradisional yang berasal dari Magelang-Jawa Tengah. Di mana, pada akhir pertunjukan Jathilan, sang penari akan mengalami trans (kesurupan). Sambil terus hanyut menari, si penari terus mengunyah kembang atau sesajian yang disediakan oleh pawang.

Jathilan diakui Eko sebagai impuls, yakni dengan meminjam dramaturgi pertunjukan yang tidak jauh berbeda dengan bentuk asli. Namun, Eko menampilkan estetika artistik yang lebih modern. Dengan memakai rok gaun putih, tubuhnya bergerak luwes di atas bubuk frozen magnesium yang menyerupai garam.

Eko Supriyanto Ketika Mementaskan "SALT" di Teater Salihara

Eko Supriyanto Ketika Mementaskan “SALT” di Teater Salihara

Bersama alunan musik kendang dan cahaya merah, tariannya memancarkan daya hisap energi panggung.  Kedua matanya melotot, mendelik, sembari mengunyah mawar putih yang lantas ia ludahkan dan tak segan ia sesekali meludah dan menjulurkan lidah. Ketika seringnya kita melihat pertunjukan tari dengan wajah-wajah penari yang datar, Eko mengolah bentuk jathilan dengan tuntas serupa trans hingga ekspresi wajah yang ekspresif dan terasa energi dalam yang magis.

Pada tubuh yang maritim, Eko mengolah tari Cakalele dan beberapa repertoar yang tampak dalam karya “Cry Jailolo” dan mungkin “Bala-Bala”. Hentakan kaki dan ayunan tangan yang mengepal begitu intens dan repetitif. Ia berlari mengelililngi panggung, ke kiri dan kanan, juga sesekali melakukan jumping. Membuat jejak-jejak putih di lantai menjadi bentuk kotak. Serupa jejak tradisi dan bentuk tari modern yang ia lewati selama perjalanan kepenariannya.

“Aku tidak hanya menginterpretasikan tradisi tapi tradisi ada di tubuhku,” tegas Eko. Lantas ia pun menambahkan bahwa, “aku tidak mau bilang tubuh Jawa dan Cakalele tapi selalu mendekonstruksi saat (tradisi) menjadi kenyamanan.”

***

Kata Salt tampaknya dianggap sebagai judul inti yang perlu ditonjolkan dalam tarian ini. Salt kerap dipahami sebagai garam yang mewakili kultur, pangan dan salah satu penopang hidup masyarakat maritim. Salt pada Eko dimaknai sebagai “keringat”.

Jailolo baginya seperti ruang dengan sistem yang kompleks. Ia mengisahkan, selama ia berada di Jailolo, Eko tidak hanya merasakan asin namun juga manis. Eko menghayati perjuangan anak-anak muda yang penuh dengan potensi dan mimpi. Akhirnya, keringat mereka dan dirinya mewakili Jailolo dipentaskan di berbagai panggung dunia. Keringat adalah perjuangan yang ia hayati dengan menjelajahi berbagai ruang-ruang pertubuhan, budaya dan alam.

Eko Supriyanto Ketika Mementaskan "SALT" di Teater Salihara

Eko Supriyanto Ketika Mementaskan “SALT” di Teater Salihara

Persentuhannya dengan Jailolo menghasilkan berbagai karya yang sungguh tak mudah ia lupakan. Kemudian ia coba rangkum dengan penjelajahan tubuhnya sendiri di Jawa dan mungkin juga banyak dipengaruhi Amerika dan Eropa. Kehadiran bentuk tari kontemporer memang mewarisi semangat untuk mengolah tradisi dengan kritis dan membebaskan segala kemungkinan-kemungkinanya.

Bila Eko hanya mengandalkan semangat tradisi yang terlalu berkobar, tanpa refleksi yang memadai, ia akan sekedar mewakili atau menyalin hal-hal yang sudah sejak lama telah menjadi bagian dari kultur masyarakat—seperti yang dilakukan banyak seniman di Indonesia untuk hadir di perhelatan panggung internasional.

Akan tetapi yang berbeda di sini, bahwa karya Eko menjadi sejenis transformasi, melakukan penggalian dan penggalihan diri sedemikian rupa. Menjadikan tubuh sebagai pusat investigasi dan refleksi sembari menghadirkan gerak dari sejumlah tubuh-tubuh lain yang komunal dan ruang-ruang tradisi yang memengaruhinya. Mencoba meleburkan batas epistemik antara tubuh personal dan komunal dan yang tradisi dan modern. Eko menggali untuk lebih memencar.

Selama durasi 60 menit, yang menarik adalah sebagai penari tunggal, stamina dan energi Eko tetap terjaga di usianya menjelang 47 tahun, di tambah di akhir wawancara ia bergegas keluar “Gak kuat pengen merokok” ucapnya.

Memang di beberapa panggung ia mengakui bila ketika pentas, ia selalu menyadari kehadiran penonton. Ditambah, tanggapan beberapan penonton yang mengungkapkan bila di karya ini, Eko benar-benar ingin unjuk kebolehan dan menawarkan terlalu banyak garam. Padahal, lain dengan Salt, di mana ia justru merasakan keintiman tari secara internal.

Salt ini berbeda. Saya sadar menikmati sekali tubuh saya sendiri. Merasakan otot, gerakan, pahitnya mawar putih, merasakan babel, meludah dan tubuh saya yang benar-benar menari” jelasnya.

Intensitas, gerakan, memori dan penggalian boleh dikatakan sebagai rangkuman pertunjukan “Salt” ketika menyaksikan tubuh Eko hanyut menari. Keringat darat dan laut. Jawa dan Cakalele. Keringat dari gerak tubuh-tubuh penarinya yang komunal dan keringat dirinya yang personal. Keringat produktivitasnya yang menghasilkan berbagai karya tiap tahun tanpa jeda untuk selalu “Keep going and keep moving,” ungkapnya.

Akhirnya, keringat barangkali bisa dimaknai sebagai energi dan perjuangan yang telah menempanya dan terus ia tempuh. Dan tanpa keringat, Eko tak mungkin menyakini tari sebagai jalan hidup.*** (Ratu Selvi Agnesia, Penulis Seni Budaya)

0 komentar

Sila Berkomentar

Ingin bergabung dalam diskusi?
Jangan ragu untuk berkontribusi!

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *