Sosak dan Bagaimana Menceritakan Bencana Asap

Sosak bisa dikatakan terbagi ke dalam dua bagian. Bagian pertama menampilkan lima lelaki berpakaian tradisional Melayu berkisah tentang keindahan tanah Riau jauh di hari lalu. Kisah mereka disertai saling berpantun berzapin. Keceriaan dan keelokan ini perlahan-lahan lenyap, berganti gerakan-gerakan yang menggambarkan kesakitan, terror, dan kepanikan, masih oleh lima lelaki yang sama. Ini adalah bagian kedua Sosak. Eksplorasi terhadap suara tarikan nafas menghiasi hampir seluruh gerakan di bagian kedua ini. Bukan hanya itu, bagian kedua ini pun dibantu juga oleh dokumentasi pemberitaan perihal bencana asap di Provinsi Riau yang ditembakkan oleh proyektor ke layar di atas panggung. Demikianlah jika hendak menggambarkan secara singkat pertunjukan Sosak yang dihelat di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Jakarta pada 4 Maret 2018 kemarin. Sosak karya koreografer muda Rio Tulus Pernando merupakan produksi dari Malaydansstudio. Rio Tulus Pernando merupakan salah satu peserta Ruang Kreatif, sebuah program yang diinisiasi oleh Galeri Indonesia Kaya.

Dari pembagian dua bagian ini, kita tahu bahwa karya ini hendak menggambarkan bagaimana kegembiraan yang dahulu pernah ada kini sudah tiada. Apa yang mengubah keadaan bahagia menjadi tiada itu tak lain dan tak bukan adalah bencana asap yang kerap melanda Riau. Menurut Rio di dalam sesi tanya jawab pada akhir pementasan, ia memang hendak menggambarkan keadaan Riau, tempat asalnya, yang lebih sering dikenal dengan bencana asapnya itu. Ia ingin menunjukkan bahwa sebelum pembangunan dan bisnis sawit meraja-lela di sana, masih bisa ditemukan kebahagiaan dan keceriaan. Di sini, kita temukan sebuah misi dibawa oleh Sosak; upaya untuk menggambarkan realitas yang berubah akibat desakan industrialisasi perkebunan.

Pertunjukan Sosak di Galeri Indonesia Kaya | Foto: Eko Crozher/Eko Wahyudi

Pertunjukan Sosak di Galeri Indonesia Kaya | Foto: Eko Crozher/Eko Wahyudi

***

Tentu saja karya-karya yang entah menangisi entah mengkritisi keadaan masyarakat dan lingkungan yang berubah kerap kita temukan. Banyak di antaranya yang berhasil dengan baik, berhasil saja, dan tidak berhasil sama sekali. Di dalam katagori tersebut, bolehlah Sosak kita masukan ke dalam karya yang ‘berhasil saja’. Keberhasilan Sosak adalah karya ini mampu secara telanjang menggambarkan perubahan yang terjadi itu. Alasan perubahan pun secara harafiah digambarkan oleh Sosak; bencana asap. Dengan kata lain, Sosak adalah karya yang menggambarkan perubahan Riau dengan terlalu harafiah. Di sinilah letak perkara Sosak.

Karya seni sebagai sebuah cara menceritakan realitas tentu punya cara main sendiri yang berbeda dengan produk-produk pemberitaan realitas lainnya. Karya seni perlu merangsang pemirsanya untuk berefleksi lebih jauh perihal sesuatu yang diusung karya tersebut. Tentu saja karya seni tidaklah terbebani mengabarkan realitas segamblang-gamblangnya sebagaimana beban yang dipikul karya jurnalistik misalnya. Beda cerita jika karya jurnalistik oleh satu dan lain hal tak bisa memberitakan realitas secara gamblang. Hal yang terakhir ini pernah kita temukan di dalam sastra Indonesia pada era ketika media massa di Indonesia sangat disensor. Kala itu, sastrawan Seno Gumira Ajidarma mengumandangkan kredo, ketika jurnalisme dibungkam, sastra bicara. Kebetulan, Seno Gumira Ajidarma adalah sastrawan cum jurnalis kala itu. Di era sekarang, ketika jurnalisme sudah punya kebebasan, bahkan media sosial memberi kebebasan berbicara hampir kepada semua orang, tentu saja karya seni lebih tidak perlu lagi terbebani keinginan menceritakan realitas. Karya seni perlu melampaui perihal mengabarkan realitas itu.

***

Alih-alih menggambarkan realitas saja, sebuah beban yang di saat-saat tertentu dialih-tugaskan dari karya jurnalistik ke karya seni, Sosak rupanya tidak percaya diri dengan kemampuannya untuk menggambarkan realitas. Tidak cukup dengan membagi karya tersebut ke dalam dua bagian di atas, sebuah cara yang jika dieksplorasi lebih lanjut barangkali sangat baik untuk menggambarkan keadaan Riau, Sosak malah merasa perlu meminjam klipingan media massa perihal bencana asap Riau. Ketika Sosak memasuki bagian kedua, di layar di atas para penari, terpampanglah klipingan berita bencana asap, silih berganti, dari media massa mainstream sampai kicauan di facebook. Yang saya maksudkan dengan klipingan adalah semacam image hasil screenshot dari pelbagai media tersebut yang bisa dipresentasikan dengan menggunakan fitur slideshow yang bisa ditemukan di laptop jenis apa pun. Ukuran layar yang sangat besar otomatis menyedot perhatian penonton.

Pertunjukan Sosak di Galeri Indonesia Kaya | Foto: Dokumentasi Malaydansstudio

Pertunjukan Sosak di Galeri Indonesia Kaya | Foto: Eko Crozher/Eko Wahyudi

Ketika klipingan itu berhenti dan penonton kembali memperhatikan lima penari di panggung, tentu saja jukstaposisinya mempengaruhi benak penonton. Untuk lebih jelasnya begini: pertama, Anda memperhatikan lima lelaki berpakaian tradisional Melayu menari dan berzapin berpantun dengan ceria. Lalu, kedua, kelima orang itu perlahan-lahan mengganti pakaian tradisional mereka dan tariannya berubah dari repertoar tradisi ke repertoar kontemporer. Pada moment peralihan itu, ketiga, Anda disuguhi klipingan media massa dengan teknik tersebut di atas perihal bencana asap di Riau. Lantas, keempat, Anda kembali menyaksikan eksplorasi tubuh dan suara tarikan nafas dari kelima penari di panggung. Nah, jukstaposisi dari pertamakedua, ketiga, dan keempat ini kuncinya ada di yang ketiga. Pertanyaannya adalah, jika yang ketiga itu tidak ada, apakah kita bisa memahami bagian keempat sebagai gambaran orang sesak nafas lantaran bencana asap? Saya tidak bisa menjawab “ya” atau “tidak”, lantaran Sosak yang saya saksikan terlanjur punya yang ketiga.

Artinya, Sosak perlu tangan pemberitaan media massa perihal bencana asap untuk menyatakan bahwa ia berbicara tentang perubahan akibat bencana asap. Jika seni tari sejatinya adalah seni olah tubuh, maka Sosak seperti kurang yakin pada olah tubuh itu sendiri. Ia perlu meminjam sesuatu dari yang lain, dalam hal ini jurnalistik, untuk menegaskan tema yang mau diusungnya. Memang, seni tari kontemporer kini tidak terbatas pada perihal tubuh semata, tetapi ia bisa berkolaborasi dengan hal-hal lain di luarnya. Dalam hal Sosak, ia berkolaborasi dengan, katakanlah, video. Namun, di sinilah letak permasalahan berikutnya. Jika sekadar screenshoot dan dipresentasikan dengan slideshow demikian sungguh sangatlah mubazir. Apalagi layar yang tersedia sebenarnya sangat memungkinkan untuk dieksplorasi dalam konteks video lebih jauh. Terus terang, saya menarik nafas lelah ketika klipingan berita bencana asap Riau itu muncul di layar di atas panggung Galeri Indonesia Kaya. Jauh lebih menarik, pikir saya spontan kala itu, jika yang ditampilkan di layar adalah satu bagian dari Manusia Asap karya Heri Budiman, fotografer Riau, berupa video seorang laki-laki di tengah hutan Riau dengan asap mengepul dari kepalanya.

Ilustrasi Video karya Heri Budiman, Bagian dari Karya "Manusia Asap" | Sumber: Katalog "Pekan Seni Media 2017"

Ilustrasi Video karya Heri Budiman, Bagian dari Karya “Manusia Asap” | Sumber: Katalog “Pekan Seni Media 2017”

***

Sebagaimana diutarakan Rio di diskusi penghujung pentas, Sosak ini masilah terus berproses. Jika Sosak memang ingin berkolaborasi dengan, katakanlah video, sebagaimana bibit-bibitnya yang muncul pada Sosak di Galeri Indonesia Kaya kemarin, kemungkinan ini hendaklah dielaborasi dengan lebih baik di kemudian hari. Kemungkinan eksplorasi video dan tari yang sangat baik sudah dimungkinkan dengan teknologi yang tersedia sekarang ini. Jangan sampai kita, katakanlah, hanya menyimpan sebiji padi di dalam belanga. Kecuali memang kita semiskin itu.*** (Berto Tukan adalah editor jurnalkarbon.net dan pengelolah website indonesiandancefestival.id)

0 komentar

Sila Berkomentar

Ingin bergabung dalam diskusi?
Jangan ragu untuk berkontribusi!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.