Ruang Investasi Gagasan Bersama: Lokakarya Riset Artistik, Kampana Akademi IDF

Tiga tahun terakhir ini, IDF meluncurkan sub divisi program Akademi IDF sebagai platform penyelenggaraan kegiatan edukatif bagi praktisi tari muda. Upaya ini dilakukan Akademi IDF dengan mengadakan rangkaian lokakarya (kepenarian, koreografi, penelitian artistik) dengan menggandeng fasilitator dan mentor lintas disiplin dan budaya. Hal tersebut dilakukan untuk mengisi kekosongan ruang eksperimentasi alternatif bagi praktik koreografi kritis, membangun wacana perkembangan koreografi dan sejarah tari dalam konteks Indonesia dan medan seni global. Terkait dengan hal itu, IDF mengembangkan platform Showcase IDF bukan hanya sebagai wahana presentasi dan promosi karya koreografer muda, tetapi juga sebagai platform pertukaran, belajar bersama, eksperimentasi melalui rangkaian kegiatan Akademi IDF, dan presentasi akhir di Festival IDF.

Para Peserta Pada Salah Satu Sesi Lokakarya Riset Artistik Akademi IDF 2018 | Foto: Dokumentasi IDF

Maka, format Showcase berkembang menjadi forum berdurasi panjang dan intensif. Tim kuratorial IDF merasa perlu untuk memayungi keseluruhan prosesi dengan nama platform baru untuk menggantikan istilah “showcase”. Maka, muncullah istilah KAMPANA. KAMPANA diambil dari bahasa Sansekerta yang memiliki makna filosofis “yang memiliki getaran”. Kata ini dipilih dengan harapan agar platform ini akan menjadi titik getar dengan resonansi yang dapat menjangkau praktik dan gagasan koreogafi beserta dengan kekuatan jaringan gagasannya. Koreografer muda pun diseleksi secara ketat dan akan didampingi hingga November nanti oleh tim kuratorial IDF yang terdiri dari Helly Minarti, Arco Renz, Nia Agustina, Linda Agnesia, dan saya sendiri (Taufik Darwis-red). Setiap seniman partisipan/koreografer muda ditantang untuk bersama-sama dengan IDF memperluas jangkauan resonansi pengetahuan koreografi dan berkomitmen mengikuti seluruh proses yang dielaborasi di dalam rangkaian kegiatan Akademi IDF yang salah satunya adalah Lokakarya Riset Artistik.

Lokakarya ini menjadi momen pertemuan kedua antar koreografer setelah pertemuan pertama di bulan Juni. Pada pertemuan pertama itu, mereka telah saling membentangkan profil proyek artistik masing-masing. Untuk tahun ini, lokakarya diselenggarakan selama satu minggu dari 27 Agustus hingga 2 September 2018 di Omah Kebun, Nitiprayan, Bantul, Yogyakarta. Selain didampingi tim kuratorial, Akademi IDF mengundang 3 seniman dengan latar disiplin yang berbeda yaitu Arco Renz (koreografer), Gunawan Maryanto (sutradara teater, aktor, penyair)  dan Mella Jaarsma (perupa/visual artis) sebagai fasilitator  untuk memperkaya perspektif atas kebutuhan koregrafer muda yang berbeda. Sedang untuk seniman partisipan lokakarya, kami memilih 5 koreografer muda, 4 dari Indonesia dan 1 dari Singapura yang sedang dalam proses pengerjaan karya masing-masing.

Salah Satu Sesi di Dalam Lokakarya Tari Akademi IDF | Foto: Dokumentasi IDF

***

Pertama, Riyo Fernando (Riau, Solo) membawa pertanyaan atas kemungkinan pertumbuhan karya Sosak yang berangkat atas pengalaman ketersesakan dan keterhimpitan sendiri di tengah-tengah dampak dari kebakaran hutan di Riau yang diakibatkan industri kelapa sawit. Kedua, Ayu Permata (Lampung, Yogyakarta) dengan karyanya Tubuh Dang Tubuh yang terakhir dipentaskan di Festival Jejak Tabi pada Juli lalu. Ayu mempunyai pertanyaan atas bagaimana proses ketubuhan penonton konser dangdut yang memberi pantulan atas kondisi ketubuhan dirinya sebagai penari/koreografer. Titik pertumbuhan yang sama dengan Ayu juga dialami pada proyek kolaborasi antara koreografer dan performance artis Gusbang Sada (Bali Yogyakarta) dan Natasya Tontey (Jakarta) yang juga sempat dipresentikan di Festival Jejak Tabi. Mereka bergegas dari pertanyaan atas kematian yang normal dan tidak normal, dari gestur mayat yang mereka riset dengan mendatangi/mewawancarai ahli forensik. Sementara Densiel Lebang dengan karyanya No Limit yang sempat dipresentasikan di program showcase Sipfest 2018, Komunitas Salihara, menjelaskan pertumbuhan karyanya yang tertarik dengan tali, yang menurutnya sejauh ini mengundang banyak asosiasi dari penontonnya.

Sebagian besar koreografer yang terlibat dalam platform Kampana berkesempatan untuk menemukan ruang dan pengalaman untuk mempresentasikan titik-titik pertumbuhan karyanya. Begitu juga dengan Alisa Soelaeman (Jakarta) yang bekesempatan pentas di panggung Paradance Festival, tepat sehari sebelum hari pertama lokakarya ini dimulai. Alisa tertarik dengan hubungan antara emosi, pikiran dan tubuh dalam kondisi mental manusia di batas kesadaranya atas hidup, yang juga pernah terjadi padanya. Alisa mengolah situasi tersebut pada batas-batas bagaimana dia memposisikan diri sebagai penari tunggal yang melakukan improvisasi dan koreografer yang membuat/menentukan struktur di dalam karyanya, Transference.

Tahun ini juga kami mengundang dan berkerjasama dengan Dance Nucleus Singapore untuk melibatkan salah satu koreografer muda/anggotanya bernama Pat Toh dalam Kampana. Pat adalah seorang performer dan seniman pertunjukan berlatar belakang teater yang tertarik pada sensibilitas ketubuhan dalam tubuh kontemporer. Seperti pada proyek The Map yang sedang dikerjakannya sekarang, Pat mempunyai pernyataan atas tubuh sebagai perjalanan kehidupan. Perjalanan di antara bergerak dan bernafas, antara tubuh yang satu dengan tubuh lain, atau tubuh sebagai dirinya sendiri.

Para Peserta Lokakarya Riset Artistik Pada Sesi Dari Arco Renz | Foto: Dokumentasi IDF

***

Salah satu kecenderungan yang cukup mengkhawatirkan jika menonton karya para koreografer muda Indonesia adalah kekosongan yang perlu diisi oleh kesadaran (riset) atas jaringan gagasan dan konteks dalam dan pada proses artistik. Hal ini tercermin dari karya para koreografer Indonesia selama paling tidak 2-5 tahun terakhir.  Lokakarya ini diharapkan bisa menghasilkan kemungkinan pengembangan gagasan, agenda, dan proyek penelitian dan kerja dramaturgi lanjutan bagi para koreografer muda yang terpilih. Maka dari itu, lokakarya ini juga mengundang satu orang rekan kerja para koroegrafer muda yang terlibat dalam proses kreatif untuk membantu mengurai dan memutuskan setiap kemungkinan pilihan artistik yang lahir selama lokakarya.

Maka seperti yang direncanakan, lokakarya ini berjalan tidak terburu-buru agar secara organik bisa melihat dan membuka kemungkinan perubahan seturut dinamika yang terjadi. Selama 7 hari, selain diperkenalkan berbagai perspektif kritis seniman dari beragam disiplin dalam praktik mencipta karya, para koreografer muda terlibat dalam umpan-balik yang saling menajamkan, memetakan dan memperluas, serta memperkukuh kerja penciptaan dan pengembangan karya yang sedang dikerjakan. Selain itu, lokakarya ini juga mengundang dan mengunjungi lembaga, kolektif atau seniman individu di Jogjakarta yang mempunyai pendekatan yang berbeda-beda dalam praktik artistik mereka. Misalnya Teater Garasi, Yayasan Cemeti, Ace House, Kelompok Bakudapan, periset tari (Muhammad Abe) dan IVAA. Para peserta juga difasilitasi bila mempunyai keinginan untuk bertemu-bincang dengan seniman yang mereka anggap bisa memberi pantulan lain untuk karyanya.

Penampilan Ari Ersandi, Peserta Program Showcase, IDF 2016 | Foto: Dokumentasi IDF

Jauh dari sekedar meributkan oposisi biner antara bagus dan jelek, tari dan bukan tari, lokakarya ini malah mencoba untuk membuat ruang investasi gagasan bagi setiap orang yang terlibat di dalamnya. Tidak hanya bagi para koreografer muda saja, tapi juga tim kuratorial dan tentu saja para fasilitator.*** (Taufik Darwis adalah aktivis seni pertunjukan asal Bandung yang dalam beberapa tahun terakhir terlibat sebagai kurator muda di Indonesian Dance Festival)