Meraba Terangnya “Light” Karya Leine Roebana

Tidak seperti pertunjukan pada umumnya yang dimulai dengan pemberitahuan tata tertib menonton; begitu duduk di blackbox Teater Salihara pekan lalu—tepatnya Minggu, 23 September pukul 20.00 WIB—kami bisa menyaksikan para penari melakukan pemanasan. Mereka bahkan mencoba beberapa rangkaian gerak sehingga sesi pemanasan ini terasa seperti “pra-pertunjukan”. Kemudian, direktur artistik dari Leine Roebana, Harijono Roebana, hadir menyapa penonton. Harijono menjelaskan beberapa elemen dan metode dalam karya ini—dari segi koreografi maupun musik.  Di tengah penjelasan, ia bisa tiba-tiba memanggil salah seorang pemusik atau penari untuk menunjukkan maksud dari penjelasannya. Hal ini, dalam hemat saya, sangatlah menunjukkan suatu kedermawanan dan keinginan untuk berbagi maupun berdiskusi.

Light adalah karya yang sangat kolaboratif dan melibatkan kontribusi artistik dari hampir setiap orang yang tampil. Karya ini digubah sedemikian rupa oleh sepasang koreografer yakni Harijono Roebana dan Andrea Leine Roebana. Dalam kesempatan kali ini, mereka menggelar pertunjukan dalam rangka Indonesië Tour. Bukankah lazimnya seorang pengkarya ingin memberi sebuah kejutan pada penonton sehingga biasanya pertunjukan dimulai dengan kegelapan, keheningan, dan wanti-wanti agar tidak ada seorang pun yang merusak rangkaian kejutan itu—dengan keluar masuk venue atau menyalakan lampu kilat kamera? Penjelasan yang diinisiasi oleh lelaki asal Belanda yang akrab dipanggil Mas Harijono ini bukan penjelasan singkat selayaknya introductory, namun mendalam, dari sisi tari maupun musik.

Kosakata Gerak Tradisional Jawa Yang Didekonstruksi Dengan Logika Gerak Leine Roebana | Foto: Laman Flickr Komunitas Salihara

Iwan Gunawan, komposer yang merupakan salah satu kolaborator dari karya ini mengungkapkan ketidaknyamanannya dengan kategorisasi atau pengkotak-kotakkan yang biasa dilakukan masyarakat Indonesia. Sebagai salah satu dosen Universitas Pendidikan Indonesia, beliau merasa bingung ketika dipilih sebagai penguji sebuah presentasi karya tertentu karena beliau mengampu ‘Musik Barat’ atau ‘Musik Timur’; Menurutnya, pembedaan seperti itu sudah tidak relevan dalam Musik Kontemporer. Iwan jenuh dengan dualisme pentatonik dan polifonik. Beliau menjelaskan bahwa dalam Gamelan Jawa saja ada dua modalitas, yaitu Laras Pelok dan Laras Slendro. Lazimnya orang memainkan salah satu dengan seluruh instrumen gamelan. Dalam eksplorasinya untuk Light, Iwan menggabungkan Laras Pelok dan Laras Slendro.

Ketika Iwan meminta dua pemain gamelan untuk melakukannya, suara yang dihasilkan dari penggabungan kedua laras itu memang tidak terdengar seperti permainan gamelan pada umumnya. Suaranya sumbang, namun menghadirkan suasana tersendiri. Inilah laras baru, sebuah modalitas baru—jika kita mencari persamaan dan bukan perbedaan. Penonton pun terkagum ketika mendengarkan modalitas hasil kolaborasi Laras Pelok dan Laras Slendro tersebut. Selanjutnya, menurut cerita Iwan, laras baru ini beliau kolaborasikan lagi dengan alat-alat musik di luar gamelan semisal songah, alat musik tradisional Sumedang.

Songah terbuat dari bambu dan dibunyikan dengan cara ditiup. Suara yang dihasilkan tidak sama seperti seruling. Jika karakter suara seruling layaknya penyanyi Sopran, maka tiupan songah layaknya vokal Tenor—tinggi namun dalam. Diameter bambu yang lebih lebar membuat suara memiliki kesan hollow, seperti panggilan atau lolongan dari kejauhan. Saya pribadi merinding ketika mendengar suara songah saat Iwan meminta sedikit demonstrasi. Selanjutnya, sambung Iwan, untuk penggarapan music, beliau bekerja dari jauh. Hanya beberapa hari ngopi di Schipol dengan Mas Harijono untuk membahas apa yang diinginkan, kemudian Iwan mengembangkan eksperimennya di Indonesia sementara Mas Harijono bekerja dengan para penari di Belanda.

Kolaborasi dan eksperimen tidak hanya berhenti di bidang musik. Kekhasan tubuh grup Leine Roebana yang anorganik dan logis dimasukkan sebagai sistem pada tubuh Jawa yang pakem dengan terminologi-terminologinya seperti alusan, sabetan, dan lumaksono. Penjelasan yang cukup kaya ini dipresentasikan oleh salah satu penari Light, Bobby. Saat Bobby menarikan salah satu contoh dari ketiga terminologi tersebut, Mas Harijono mengajak penonton memperhatikan bagian tubuh yang tidak bergerak atau kurang mobilitasnya. Kemudian Mas Harijono meminta Heather, penari Belanda, untuk mengeksplorasi bagian tubuh yang immobile tersebut dan lantas kedua tarian ini akan digabungkan. Penjelasan panjang lebar ini benar-benar dihadirkan sebelum karya Light dipertunjukkan. Penonton diajak memahami logika berpikir Leine Roebana hingga sesi tersebut terasa seperti workshop singkat. Tidak hanya Heather dan Bobby, namun semua penari yang sedang melakukan pemanasan hadir di atas panggung dan bisa diminta tiba-tiba oleh Mas Harijono untuk menjelaskan dan mendemonstrasikan elemen-elemen koreografi dalam karya yang akan ditampilkan.

Light dibuka dengan tarian Jawa yang lembut namun kuat, dengan lampu temaram. Kemudian di bagian belakang panggung, lampu justru menyorot lebih terang pada sebuah gong yang ditidurkan dan ditabuh oleh banyak orang. Jika mengingat adegan ini, saya masih merasa tergerak. Penari bergerak dalam kegelapan sementara sekumpulan orang yang berdiri melingkar bersama-sama memukul gong di bawah lampu sorot. Komposisi seperti itu belum pernah saya saksikan sepanjang perjalanan kecintaan saya menonton pertunjukan tari. Penari yang baru saja menari dalam kegelapan itu kemudian berlari ke gong dan ikut menabuh dengan penuh semangat.

Heather Menari Sambil Membunyikan Kata-kata Yang Acak Dalam Berbagai Bahasa | Foto: Laman Flickr Komunitas Salihara

Kegaduhan itu kemudian dihentikan oleh masuknya Heather, penari perempuan, yang bergerak dengan melawan aliran tubuh—inilah tubuh anorganik khas eksplorasi penari Eropa. Sambil bergerak, Heather mengucapkan kalimat-kalimat dalam banyak bahasa. Kalimat tersebuat tentu saja tidak bermakna. Bahasa Jawa dan Bahasa Jakarta seperti “Emang gue pikirin” juga “dibunyikan” oleh Heather bersama tubuhnya. Adegan ini menjadi menarik karena, walaupun tidak bermakna, Heather mengucapkan kekacauan kata-kata ini dengan sangat “bersih” dan tenang, dengan artikulasi yang tepat dan ia terlihat menikmati. Intensitas dan dinamika Light naik dengan cepat seolah tanpa usaha, karena semua penari dan pemusik melakukan bagiannya dengan tenang dan tanpa ada intensi untuk menaikkan dramaturgi karya. Mereka semua menampilkan tingkat playfulness yang sama, bahkan ketika sedang melakukan gerakan yang membutuhkan teknik kepenarian yang tidak mudah.

Light oleh Leine Roebana adalah pertunjukkan paling dermawan yang pernah saya saksikan. Seluruh tim produksi termasuk di dalamnya penari, direktur artistik, dan pemusik membuka jendela dan pintunya lebar-lebar. Mereka memberi bukan hanya apa yang mereka punya, namun mereka memberi lebih dari kapasitas sebagai penampil dan berhasil. Para pemusik ikut menari, para penari ikut bermain musik dan melantunkan mantra-mantra. Sebelum Light, saya belum pernah melihat semua elemen pertunjukkan tumpah ruah di atas panggung. Mereka semua turun seperti hujan yang tiba-tiba deras tanpa aba-aba. Jika diibaratkan sebuah rumah, mereka bukan hanya membuka pintu dan jendela, namun mungkin membobol dinding, demi ke luar dari teritori mereka sebagai seorang pribadi.

Pertunjukan ini mendekonstruksi bingkai dalam sebuah karya. Jika ada seorang penari yang memberikan seluruh kepenariannya di tengah panggung, maka di pojok-pojok di luar dari area panggung, penonton bisa melihat penari-penari lain menari dengan energi dan intensitas yang sama—seolah ingin memberitahu bahwa yang indah tidak selalu di tengah, tidak harus disodorkan pada mata penonton layaknya film Hollywood dengan permainan komposisi frame dan depth of field yang sudah pakem dan bisa ditebak. Dunia Light tidak berbingkai. Pertunjukan seperti ini baiknya bertemu dengan mata penonton yang liar pula, yang haus dengan segala kemungkinan. Anda sungguh bisa menemukan dua atau tiga penari di pojok belakang—masih pada area jalan masuk menuju panggung—menari seindah-indahnya tanpa diterangi pencahayaan.

Konsep ini mengingatkan saya akan pemikiran non-dualitas (oneness) dalam Advaita, salah satu ajaran dari filosofi yang sangat purba, Advaita Vedanta. Filosofi ini mengajarkan bahwa dalam dunia rupa (perceived world) ini tidak ada realitas absolut. Hal ini bisa dilihat dalam Light. Bagaimana para penari, pemusik, dan penyanyi semua melakukan ketiga bagian tersebut tanpa kecuali. Penari Leine Roebana sendiri berasal dari Indonesia, Afrika, Belanda, dan Karibia. Mereka semua diminta untuk menyumbangkan kekayaan khazanah lokalnya pada karya ini. Jika kekayaan elemen ini dimasukkan dalam satu mangkuk dan diaduk begitu saja, mungkin mudah. Namun yang perlu kita hargai adalah bagaimana keragaman ini disusun, dikoreografi, dan menghasilkan dramaturgi yang berhasil. Kekhasan itu tidak harus berupa gerak. Salah satu penari, Sandhi yang berasal dari Jawa Timur, di dalam karya itu menjadi orang Jawa Timur se-jawatimur-jawatimurnya. Caranya berbicara khas Wayang Orang, melucu di tengah keseriusan—dan keseriusan itu tetap berjalan. Eropa-Jawa Timur, logika dan ketoprak humor.

Pemusik, Penyanyi, dan Penari Bersatu Dalam Tarian | Foto: Laman Flickr Komunitas Salihara

Sejak pertunjukan dimulai, musik yang dihasilkan dari gamelan dan songah, juga visual banyak orang memukul satu gong di bawah lampu sorot membangkitkan kepurbaan saya. Sejatinya saya adalah purba, manusia yang tidak sepenuhnya memiliki sesosok pribadi. Oleh karena itu, kata saya dalam artian personal tidak lagi relevan. Saya yakin para penampil malam itu juga melepaskan kompleksitas pribadinya dan terbuka pada daya-daya yang organik, animalistic, dan asing. Karena jika kita membatasi diri dengan dunia personal kita, maka kita tidak akan bisa bersatu dengan karya seni yang hadir pada kita. Sebaliknya, penampilan yang membatasi dirinya dalam bingkai penokohan, yang sangat tipikal dengan karakter orang dalam sebuah cerita, sudah pasti menarik jarak dari penontonnya. Paling dekat, penonton tersebut bisa beridentifikasi karena manusia memang memiliki kemampuan untuk menempatkan diri di posisi orang lain; seperti menonton tayangan serial TV, misalnya.

Dalam konteks ini, Mas Harijono juga mengungkapkan bahwa karya ini tidak selazimnya pertunjukan-pertunjukan tari di Indonesia di mana penarinya menampilkan sebuah karakter dengan jalan cerita yang jelas. Karakterisasi dan penokohan seperti itu, ungkap Harijono, berakar dari seni wayang. Namun dalam hemat saya, pertunjukan Ballet pun memiliki jalan cerita yang jelas. Maka bisa saya simpulkan bahwa tarian-tarian tradisi pada umumnya menganut cara bernarasi yang tadisional pula. Dalam gaya narasi tersebut, yang juga diadaptasi oleh film pada umumnya, seorang tokoh dibentuk dan dibangun kedalamannya dengan teknik character breakdown sehingga tokoh fiksi itu bisa terasa nyata, seperti orang sungguhan.

Dalam Light, koreografer hanya meminta para penari untuk menjadi dirinya sendiri. Walau demikian, yang saya saksikan malam itu, para penampil merobohkan kediriannya dan mereka terbuka pada daya-daya animalistic, kebersamaan yang instingtif, menjadi, namun tidak pernah menetap, sebuah transversal becoming. Jika kita melepaskan perasaan-perasaan personal kita, kita bisa masuk dalam sensasi-sensasi impersonal. Para penari Light dalam hemat saya cakap dalam hal ini. Dengan kepenarian mereka yang sudah matang, switch off switch on dari yang personal menjadi impersonal bisa mereka lakukan secepat mereka melompat lalu berguling. Kata pun dibebaskan dari makna, persis credo penyair kawakan Sutardji Calzoum Bachri. Kata, bunyi, dan tubuh kembali pada purbanya: mantra.

Heather membocorkan bahwa ide teks nir makna itu diadaptasi dari James Joyce, yang mengatakan bahwa sejatinya kata dipahami bukan sebagai makna sesungguhnya, namun sebagaimana bunyi dari kata itu membuat anda merasa. Bagaimana kata door terdengar untuk anda, misalnya. Bagi orang Inggris, door berarti pintu, namun bagi orang Indonesia, kata itu adalah bunyi tembakan, atau ketika kita mau mengagetkan orang. James Joyce adalah seorang penulis novel, namun uniknya dia ingin mengeksplorasi kata dari segi bunyinya bukan maknanya; dan persis inilah yang menginspirasi karya Light.

Pemusik Diangkat Tiba-tiba dan Dibawa Menyeberangi Panggung | Foto: Laman Flickr Komunitas Salihara

Minggu malam itu, Light membuat saya merasa dikembalikan pada keadaan impersonal, pada kepurabaan saya yang terbuka pada daya-daya selain perasaan manusia pada umumnya.*** (Keisha Aozora adalah seorang penikmat tari dan mahasiswa Pascasarjana STF Driyarkara)