baru_IMG_6227

Menikam Jejak, Menimbang Kampung dan Rantau

(Catatan Minangabau Culture and Art Festival 2)

 

 

Di atas panggung Graha Bhakti Budaya 10 Oktober 2017 lalu, enam orang penari berpakaian hitam bergerak menyusun sebuah koreografi yang atraktif, akrobatik, dan fragmentaris. Adakalanya mereka melakukan gerakan dengan serempak dan ritmis, namun adakalanya juga mereka bergerak sendiri-sendiri dengan tempo yang sumbang. Dari komponen gerak yang mereka peragakan, kita akan melihat jejak break dance yang tebal, yang kemudian ditata secara stakato (terputus-putus dan patah-patah). Gambaram lelaku penari tersebut merupakan kilasan karya koreografi Hartati berjudul Wajah #2, yang tampil pada hari kedua agenda Minangkabau Culture and Art Festival.

Dalam keterpaduan antara koletivitas dengan individualitas gerak atau antara tempo ritmis dengan sumbang itu, terkilas juga unsur-unsur silat Minangkabau yang samar dan janggal. Samar dalam artian, gerak silat yang dihadirkan tidaklah utuh. Hanya potongan-potongan tertentu dari keseluruhan pakem tradisinya. Bagian yang diambil itu pun kemudian telah didistorsi sedemikian rupa dan dilesapkan ke dalam komposisi yang lebih dominan. Janggal, karena karya tersebut mengeliminasi ritmisitas silat Minangkabau. Elemen yang terlanjur dianggap sebagai roh atau identitas utama dari gerak tradisi itu.

Penghadiran gerak silat yang menyeleweng dari aturan itu pun bersenyawa dengan latar musik yang mengalun dari luar panggung. Pada satu sisi musik yang berkombinasi dengan gerak para penari itu, terdengar akrab sebagai bunyi saluang dan dendang. Namun di sisi lain terdengar asing karena bebunyian dari musik tradisi Minangkabau tersebut digarap secara bergema dan berderau, melalui corong piranti elektrik. Memang ada etnisitas dalam karya Hartati, namun etnisitas dengan wajah yang jauh berbeda. Wajah Minangkabau yang telah dioperasi dengan perangkat-perangkat modern untuk diperlihatkan kepada kondisi-situasi hari ini.

Salah Satu Tampilan Pada Minangabau Culture and Art Festival 2 | Foto: Dokumentasi Panitia Minangabau Culture and Art Festival 2

Salah Satu Tampilan Pada Minangabau Culture and Art Festival 2 | Foto: Dokumentasi Panitia Minangabau Culture and Art Festival 2

Atau bisa jadi wajah yang, menyitir pernyataan Hartati, berusaha merepresentasikan perilaku masyarakat Minang urban. Masyarakat yang tinggal di kota besar dengan watak metropolisnya, namun tertatih-tatih tetap berusaha merawat tradisi leluhur mereka. Sudut pandang ini tentu bisa dimaklumi dengan menimbang posisi Hartati sebagai Minang diaspora. Ia memiliki darah Minang namun lahir dan menetap di Jakarta. Dengan kata lain, tradisi Minang tidak didapatinya melalui pengalaman-pengalaman inheren dengan struktur sosial masyarakat adat, namun dari pembacaan secara berjarak dan objektif. Terutama melalui metode-metode akademik, ruang di mana ia mempelajari ilmu tari.

Tapi tidak hanya Hartati ternyata, tiga belas karya seni pertunjukan lain yang juga tampil dalam agenda Minangkabau Culture and Art Festival memperlihatkan gejala yang sama. Betapa antara modernitas dengan etnisitas masih berusaha dipertautkan dan dipertentangkan oleh para seniman hari ini, setidaknya demi capaian-capaian artistik sebuah karya. Karena ketiga belas karya tersebut dihasilkan oleh seniman-seniman berdarah Minangkabau, maka tentu saja, yang menjadi seteru sekaligus sekutu dari modernitas adalah produk-produk kebudayaan Minangkabau. Baik dalam bentuk seni tradisi, artikulasi dari adat-istiadat, maupun interpretasi terhadap corak hidup masyarakatnya.

Apabila modernitas dalam seni dipahami sebagai sebuah eksperimentasi dan pembaharuan terus menerus yang berpusat pada individualisme, adanya pengklasifikiasian dan pendikotomian setiap genre seni demi perkembangan dalam tubuh seni itu sendiri, serta keotonoman seni secara fungsional dari pelbagai ritual kultural atau religi masyarakat, maka seluruh karya yang ditampilkan dalam event Minangkabau Culture and Art Festival tersebut, baik disadari atau tidak disadari oleh senimannya, baik secara sempurna ataupun rumpang, adalah hasil dari penerapan azas-azas modernitas sebenarnya.

Lantas di manakan posisi etnisitas? Etnisitas hadir dengan formula dan kadar yang beragam pada masing-masing karya yang ditampilkan. Adakalanya seperti yang ditunjukkan Hartati, muncul dengan tidak lengkap dan tidak patuh pada tatanannya. Atau ada juga yang menghadirkan etnisitas dengan lebih kental dan taat pada susunan-susunan yang telah baku. Berhasil atau tidak secara estetis, namun yang jelas, unsur-unsur etnisitas senantiasa berperan sebagai semacam mosi tidak percaya terhadap modernitas. Dan peran yang demikian itu telah lama sebenarnya diwacanakan dan senantiasa didengungkan dalam dinamika kebudayaan kita.

 

Menikam Jejak Huriah Adam

Jika ide untuk mempertautkan antara modernitas dengan etnisitas Minangkabau ini ditelusuri jejaknya, maka kita akan sampai pada nama Huriah Adam. Ialah yang mula-mula meneroka jalan ke sana, khususnya dalam dunia tari. Seniman kelahiran Padang Panjang pada tahun 1936 tersebut menghadirkan karya yang masih bersumber dari etnisitas Minang, namun dengan penekanan prinsip-prinsip dasar modern di dalamnya.

Huriah Adam, bisa kita bayangkan melakukan semacam penelitian terhadap berbagai tari tradisi yang ada di daerah kultural Minangkabau dan menemukan suatu tesis bahwa seluruh gerak yang terdapat pada ragam tari tradisi tersebut merupakan pengembangan dari dasar-dasar silat Minangkabau. Dalam kosa kata minang, tari, randai, dan segala bentuk seni yang mengandalkan eksplorasi tubuh sebagai alat produksi estetika itu disebut sebagai mancak, pancak, atau pencak, dari silat.

Bertolak dari pembacaan itu, Huriah Adam kemudian menciptakan berbagai karya tarinya. Dengan kesadaran bahwa dasar-dasar silat merupakan akar dari segala pola tari tradisional Minangkabau, ia seolah kembali ke pangkal jalan untuk menentukan ke arah mana harus melangkah. Sehingga, dengan jernih ia bisa menakar di bagian mana mesti taat pada konvensi tradisi, dan dengan leluasa ia bisa pula mengembangkan dan menambah kosa gerak yang telah ada sebelumnya ke dalam bentuk-bentuk yang baru. Huriah Adam pun kemudian menciptakan 13 jenis gerak yang menjadi dasar-dasar tarinya. Ini lah yang kemudian hari menjadi panutan dari para seniman tari yang hendak menjadikan etnisistas Minangkabau sebagai basis karyanya.

Minangkabau Culture & Art Festival pada penyelenggaraan yang kedua ini bertajuk “Manikam Jajak”. Dalam konteks seni pertunjukan, idiom menikam jejak bisa kita maknai secara agak longgar sebagai penciptaan karya yang berdasarkan kesadaran akan pencapaian-pencapaian para pendahulunya. Sadar, dan kemudian menjadikan pencapaian tersebut sebagai titik awal untuk berproses, bisa jadi untuk selanjutnya memperdalam atau memperjauh apa yang telah dicapai, bisa jadi pula untuk menyimpang atau menyeleweng darinya.

Maka, dalam karya-karya yang ditampilkan selama lima hari berturut-turut itu, khususnya pada karya tari, kita bisa mengamati lebih jauh bentuk tikaman jejak yang dilakukan oleh seniman berlatar minangkabau hari ini pada apa yang telah diteroka oleh Huriah Adam pada masa lalu. Ternyata tidak hanya dalam bentuk pertautan antara modernitas dengan etnisitas semata, mereka juga tampak menikamkan jejak pada penemuan dan pengembangan dasar-dasar silat dalam karya-karya Huriah Adam.

Karya Hartati, misalnya, meskipun dengan kadar yang tipis namun masih memanfaatkan berbagai silat Minangkabau. Atau dalam bentuk yang lebih kentara, pengembangan gerak dasar silat dan penerapan legaran randai sebagai pola lantai muncul dalam karya Syahril Alex. Dalam karyanya yang berjudul Itiak Patah Kaki itu, kuda-kuda silat yang biasanya hanya menekukkan lutut sejajar dengan pinggang, diturunkan sampai taraf paling ekstrim sehingga ujung kaki kiri dengan ujung kaki kanan membentuk garis lurus, atau dalam istilah senam lantai disebut split.

Tidak hanya kuda-kuda saja, gerak tangan, bahu, dan pinggang yang berasal dari pun juga mengalami perenggangan sampai batas-batas yang mampu dilakukan oleh tubuh. Namun, semua gerak yang memanfaatkan kelenturan tubuh sedemikian rupa tersebut, masih berada dalam struktur silat yang pergerakannya didasarkan pada langkah selang-seling serta ketegasannya yang ritmis.

Suara dendang mengiringi dari awal sampai akhir pertunjukan yang berdurasi kurang lebih empat puluh menit. Tempo dendang dibuat seiring sejalan dengan kecepatan gerak lima orang penari di atas panggung. Menghasilkan perpaduan yang harmonis. Perubahan tempo dari lambat ke cepat atau sebaliknya, menjadi bagian penting tidak hanya untuk mempengaruhi emosi penonton tapi juga bagian dari proses pemaknaan. Apa yang ditampilkan Syahril Alex itu adalah usahanya untuk mengejawantahkan hubungan antar manusia, hubungan manusia dengan kulturnya, hubungan manusia dengan lingkungan alamnya, yang kian hari kian senjang.

 

Menimbang Kampung dan Rantau

Apabila Hartati adalah Minangkabau diaspora, maka Syahril Alex adalah seniman yang lahir, besar, dan berproses kreatif di daerah pusat kebudayaan Minangkabau. Latar sosial dan kultural yang menghidupi keduanya, bisa jadi menjadi sumber atau memberi pengaruh pada perbedaan masing-masing koreografer menghadapi modernitas dan menimbang etnisitas.

Pola kampung dengan rantau ini, kemudian bisa kita tarik juga untuk melihat sepintas lalu pada seniman lain, yang juga tampil di Minangkabau Culture and Art Festival. Bagaimana masing-masing mereka memposisikan diri di hadapan tradisi leluhur atau mencerap khazanah modern. Meskipun terkesan klise dan hitam-putih, akan kita temui sebentuk hipotesa bahwa seniman yang menetap di daerah pusat kultural Minangkabau cendrung memperlakukan etnisitas dengan lebih ketat dan terikat pada konvensi-konvensi baku.

Sebagaimana yang ditunjukkan dalam Rantau Berbisik karya Ery Mefri, koreografer yang telah malang melintang di kancah internasional itu. Hampir keseluruhan lelaku penarinya bisa dirunut sebagai pengembangan dari unsur-unsur tradisi Minangkabau dengan sedikit saja sentuhan modern. Atau, seperti yang tampak pada karya S Metron M dengan judul Mite Kudeta, yang mengembalikan bahasa pada gerak dan bunyi, mirip dengan randai yang tak pernah punya batas antara unsur teater dengan unsur tari.

Sementara, seniman Minangkabau yang memilih untuk berproses di rantau, lebih cendrung untuk memperlakukan unsur-unsur tradisi dengan lebih longgar, dan juga lebih banyak menggabungkannya dengan unsur dari khazanah lain. Tampak pada garapan tari Mohamad Ichlas berjudul Tari Selendang Api II dan garapan Jefriandi Usman berjudul Tanah Merah. Struktur dasar karya mereka dekat dengan apa yang disebut sendratasik. Pemanfaatan unsur-unsur musik dan darama dalam karya tari, namun masing-masing dipisahkan secara jelas dalam pembabakannya. Struktur ini bermula dari pengembangan balet yang dilakukan di Eropa dan Amerika.

Hubungan yang demikian juga tampak pada penampilan musik oleh Taufik Adam dengan judul karya Mundus Imaginalis atau komposisi musik Yaser Arafat berjudul Love of Minangkabau, Miss You Mom, dan Wait of Love. Pada kedua komposer tersebut, kita bisa dengan santai, ringan, dan bahagia menikmati padanan saluang yang telah diremix dengan piranti-piranti elektrik atau paduan skala pentatonic minang dengan ketukan musik jazz. Minangkabau yang ramah di telinga siapa saja.*** (Fariq Alfaruqi menulis karya sastra, juga menulis berbagai macam esai, artikel, atau opini mengenai seni dan budaya. Saat ini menetap di Depok.)

0 komentar

Sila Berkomentar

Ingin bergabung dalam diskusi?
Jangan ragu untuk berkontribusi!

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *