????????????????????????????????????

Mengurai Konflik Matematis Fitri Anggraini

Suasana Sabtu malam di Goethe Haus Jakarta, 14 Oktober kemarin, mengingatkan saya akan sudut-sudut Jakarta yang merayakan akhir pekan dengan keseriusan. Bagaimana tidak, setelah registrasi ulang, saya memegang buklet yang berisi sinopsis karya tari “b” yang akan saya saksikan. Huruf atau sebutan “b” yang dipilih Fitri sebagai judul karyanya ini melambangkan selisih antar bilangan dalam barisan aritmatika. Pencarian selisih bilangan ini, tulis sinopsis tersebut, juga dapat dicari dengan kedudukan garis yang meliputi Garis Vertikal, Garis Horizontal, dan Garis Bersilang. Aritmatika merupakan kumpulan fungsi yang berisi perintah-perintah untuk mengolah data numerik. Konsep pada kedudukan garis inilah yang menjadi titik fokus karya ini. Berbekal sinopsis tersebut, saya masuk dengan ekspektasi dua opsi; jika bukan kompleksitas garis, maka permainan bilangan.

Permainan bilangan bukan hal baru dalam dunia tari. Anne Teresa De Keersmaeker, misalnya, adalah salah seorang koreografer yang terkenal dengan apresiasinya pada struktur matematis dan penggunaan geometri pada ruang. Trisha Brown adalah koreografer lainnya yang mana karya-karyanya terinspirasi oleh geometri dan matematika. Koreografi Brown terkenal dengan kemampuannya melampaui batas fisik dan menggoyahkan batas antara intelek dan insting, visibilitas dan invisibilitas.

***

Karya “b” oleh Fitri Anggraini | Foto: Dokumentasi Fitri Anggraini

Karya “b” oleh Fitri Anggraini | Foto: Dokumentasi Fitri Anggraini

Panggung yang gelap langsung menghadirkan lima sosok penari yang berdiri tegap. Dengan komposisi yang tidak mudah diingat dalam imaji, misalnya lingkaran atau persegi, seorang penari berdiri jauh di belakang yang lain. Saya mengingatnya seperti konfigurasi sebuah ketapel seolah seseorang akan meluncur, melesat, atau sekedar menjadi poros. Sebelum kita melangkah lebih jauh ke dalam koreografi, Fitri memberi kita suguhan musik live yang merupakan aransemen bunyi-bunyian seperti sebuah soundscape. Bunyi angin yang bergesekan dengan kaleng dan bunyi guratan barang yang ditarik di atas lantai mendominasi musik yang mencekam penonton di awal pertunjukan. Sementara itu, para penari berdiri dan kemudian berjongkok sambil menatap tajam pada penonton. Adegan ini berlangsung cukup lama, sekitar sepuluh menit. Sehingga, selama waktu yang cukup lama itu, saya menikmati musik sambil bersantai di tengah tajamnya tatapan para penari. Mereka berusaha menjaga intensitas sementara saya menikmati aransemen hidup.

Adegan berikutnya menegangkan dan apik, di mana salah seorang penari melompat dan ditangkap penari lainnya dengan cepat dan mengejutkan. Adegan-adegan yang tidak terduga sangat dibutuhkan untuk membangun antusiasme penonton untuk ‘masuk’ dalam karya; atau dengan kata lain, memerangkap penonton. Dari sisi koreografi, gerak adalah substansi dari dramaturgi. Dramaturgi tari tidak bisa dilepaskan dari elemen utama dalam tari, yaitu gerak. Maka, gerakan dengan kecepatan dan intensitas tertentu akan menarik kurva dramaturgi karya. Pembuka karya di mana penari berdiri diam dalam waktu yang lama dapat dianggap sebuah keberanian dari sisi koreografi. Salah satu bagian koreografi yang juga menarik adalah gerakan kaki menjejak yang cepat seperti tari tap. Rangkaian gerak kaki yang dinamis ini selalu diawali oleh seorang penari kemudian seolah menstimulasi yang lain untuk mengikutinya.

Mengagumkan melihat gerakan kaki yang kompleks dan cepat dapat dilakukan dengan rampak. Namun sayangnya pada beberapa momen, sedikit keterlambatan atau ketidaksamaan tempo terjadi sehingga gerakan rampak itu terganggu. Gerakan ini dilakukan berkali-kali dengan komposisi yang variatif. Menarik bahwa Fitri mengeksplorasi gerak langkah atau eksplorasi kaki dan bukan gerak seluruh tubuh. Gerakan yang luas dan mengekspolorasi semua rongga pada tubuh sering kita temukan dalam karya-karya koreografer Indonesia. Mungkin karena itu para penari dalam karya “b” ini memakai sepatu hitam.

Mengingat sinopsis yang mengedepankan kedudukan garis sebagai metode mencari selisih bilangan atau “b”, sepanjang pertunjukan saya tidak menemukan konfigurasi garis yang variatif atau yang menunjukkan adanya suatu konflik. Komposisi atau blocking penari di panggung seperti tarian-tarian daerah pada umumnya. Kemudian ada bagian yang ditarikan solo oleh seorang di antara mereka. Namun pada bagian solo itupun saya gagal dalam menangkap suatu pola atau keterkaitan si penari solo dengan grupnya. Bagian solo tersebut terlihat seperti sebuah cerita sendiri dan kemudian sang solois kembali pada kelompoknya tanpa ada pemicu apa-apa. Sama sekali tidak ada kesemerawutan garis atau apapun yang menunjukkan terjadinya sebuah konflik.

Saya juga mencari atau berusaha meraba adegan-adegan yang membuat saya merasa mereka mencari sesuatu, mencari selisih bilangan tersebut, pula tidak tampak hal itu. Tidak ada kegelisahan yang saya tangkap dari para penari. Mereka semua tampil sebagai sosok yang yakin dan “terpenuhi”. Dengan kata lain, saya gagal meraba konflik maupun klimaks pada karya ini. Para penari kemudian mengulur semacam tali atau benang yang lebar dari tangan mereka. Benang itu sesekali mereka injak dan mereka terlihat seperti penggerak boneka kayu, namun tubuh yang menjadi objek yang digerakkan. Adegan ini bisa digambarkan seperti situasi terjerat oleh diri sendiri.

Namun sayangnya, untuk kesan itu terbangun, adegan tali-temali ini tidak cukup kuat. Para penari terlihat bereksplorasi dengan tenang dan intensitas rendah—dengan tali yang menjulur dari tangan mereka. Saya sendiri sudah memiliki imajinasi apriori akan apa yang akan dilakukan Fitri dengan tali dan penari. Walau begitu, saya juga selalu membiarkan diri saya terkejut dengan apa yang ditawarkan koreografer dalam setiap karya yang saya hadiri. Adegan eksplorasi penari dengan tali ini menjadi adegan akhir. Lampu perlahan meredup dan tepuk tangan penonton meramaikan suasana.

Karya “b” oleh Fitri Anggraini | Foto: Dokumentasi Fitri Anggraini

Karya “b” oleh Fitri Anggraini | Foto: Dokumentasi Fitri Anggraini

***

Kiranya “b” adalah sebuah eksplorasi yang berusaha keluar dari tradisi atau stereotip panggung tari Indonesia. Namun kata-kata kunci seperti “aritmatika”, “selisih bilangan”, dan “garis” yang tertulis di sinopsis tidak teraba jejaknya dalam pertunjukan ini. Musik hidup yang indah dan mencekam menjadi kekuatan karya, namun musik tersebut sempat terdengar seperti nuansa tradisi—yang mana tidak sejalan dengan karya yang sangat kontemporer. Kostum para penari yang seragam juga mengesankan seperti tari tradisi—di mana kostum memiliki makna mendalam dan lebih dari sekedar “pembuat kesan”.

Jika kita kilas balik pada karya Andara Firman Moeis, “Untitled 2016”, yang juga mengusung tema matematis, para penarinya mengenakan baju sehari-hari yang sangat biasa. Mengapa? Karena tema yang diusung merupakan sesuatu yang impersonal, suatu metode koreografi yang tidak didasarkan pada perasaan-perasaan personal. Namun apakah metode impersonal menutup karya dari makna dan kesan yang dapat dihayati secara personal? Sama sekali tidak. Seorang seniman, dalam hemat saya, dapat mengambil metode apapun dalam membangun karyanya, baik metode yang sangat personal—seperti penggalian pengalaman dan kenangan pribadi—maupun metode impersonal seperti eksplorasi matematis, biologis (seperti pada karya Emmanuelle Vo-Dinh di Salihara) meninggalkan makna-makna personal pada penonton, setidaknya saya, lepas dari apakah makna itu yang hendak disampaikan oleh sang koreografer atau tidak.

Seniman adalah seorang ahli yang sangat jeli. Mereka melihat dunia dengan kacamata yang berbeda dengan orang kebanyakan. Oleh sebab itu seniman dapat menemukan yang magis dari ketatnya kepastian, dan mereka dapat meruncingkan keseharian yang tumpul dan membosankan. Inilah yang selalu kita nantikan dalam setiap karya, termasuk panggung tari Indonesia.*** (Keisha Aozora adalah seorang penari dan mahasiswa Pascasarjana STF Driyarkara)

0 komentar

Sila Berkomentar

Ingin bergabung dalam diskusi?
Jangan ragu untuk berkontribusi!

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *