Menemukan Ruang Eksploratif Dalam Tubuh

I

Maeva Cunci, penari tunggal dalam Sprint, membuka pertunjukan dengan berdiri diagonal membelakangi penonton. Sebelum Cunci hadir, panggung Teater Salihara dipenuhi kabut asap sehingga yang terlihat hanyalah penari dan kabut. Maeva Cunci lalu berlari melingkar dengan kecepatan konstan. Hampir seluruh pertunjukan Sprint di Teater Salihara pada 8 Juni lalu adalah Maeva Cunci yang berlari dengan stamina mengagumkan, intensitas yang tak lepas, dan ritme yang teratur namun eksploratif.  Itulah kira-kira gambaran Sprint karya koreografer Emmanuelle Vo-Dinh yang hadir memeriahkan event Helatari, Komunitas Salihara ini.

Emmanuelle Vo-Dinh adalah seorang penari dan koreografer Prancis yang mendirikan Sui Generis Company di Le Havre pada 1998. Sebelumnya, ia banyak menari untuk koreografer Prancis, Francois Raffinot. Sejak 1998, Vo-Dinh telah menghasilkan banyak karya original di panggung tari. Setelah mengeksplorasi karakteristik para penarinya di karya-karya awal, karya-karya Vo-Dinh terkini lebih abstrak karena ia memadukan karya-karyanya dengan dua cabang ilmu yang juga tengah menarik perhatiannya; neurologi dan psikiatri.

Sumber Gambar: https://sgimage.detik.net.id

Sumber Gambar: https://sgimage.detik.net.id

 

II

Kabut memenuhi panggung hingga sebidang ruang hitam itu tak terlihat. Bagi saya kabut ini merupakan usaha Vo-Dinh untuk meniadakan panggung dan membentuk ruang baru. Vo-Dinh tidak memakai properti apapun dan pencahayaan ia pusatkan hanya pada penari. Sehingga, Cunci terlihat seperti berlari dalam kegelapan total. Kabut menampilkan kesan bahwa kita tidak tahu apa yang ada dalam kegelapan itu selain sang penari.

Ruang yang dihadirkan Vo-Dinh adalah ruang impersonal, ruang di mana kita semua berada sebagai individu. Penampil tunggal semakin mendukung kesan ini. Ruang impersonal itu selalu ada ‘di sana’, tanpa maupun dengan kita sadari. Tubuh ini bergerak dalam ruang. Penanda utama dari seorang penari adalah ia bisa menggerakkan ruang. Penari, melalui proses dan pencarian, pada akhirnya bisa menyadari ruang-ruang subtil yang dihidupinya. Ruang objektif mungkin dihidupi semua orang, namun ruang impersonal hanya bisa disadari melalui pencarian.

Lari, adegan utama dalam karya Sprint ini merupakan gerakan biasa yang pada umumnya bisa dilakukan siapa saja. Walau beberapa orang mungkin merasa bosan menyaksikan adegan lari terus-menerus, namun bagi saya, lewat gerakan ini, Vo-Dinh menghadirkan proses yang jujur sekaligus menantang kita semua untuk menemukan yang impersonal itu. Ruang impersonal adalah ruang yang eksploratif bagi penari. Ruang tanpa tendensi dan definisi-definisi. Kita tidak dapat mengundang siapapun ke dalam ruang itu, karena yang impersonal hadir hanya untuk satu individu. Namun selama anda selalu terarah ke luar, ke luar diri anda, ruang eksploratif itu akan menjadi kabur. Seperti kabut asap yang menutupi panggung malam itu. Lewat gerakan yang sederhana, Vo-Dinh seolah ingin mengatakan bahwa pencarian ini adalah petualangan yang terbuka bagi siapa saja.

Selain berlari membentuk berbagai pola, penari juga terkadang terlihat berlari di tempat dan terantuk sesuatu. Adegan ini, dalam hemat saya, menyimbolkan moment ketika penari mulai meraba ruang impersonal tersebut, dan oleh karena itu, bagi saya adegan ini sangat mengasyikkan. Bisakah anda bayangkan jika anda berjalan di atas dataran yang luas, namun tiba-tiba anda terantuk sesuatu padahal anda tidak melihat apapun yang membuat anda terantuk itu? Itulah yang hadir bagi saya dalam pertunjukan Sprint. Penari seolah menemukan sesuatu yang baru setelah konsisten berlari. Mengutip Martha Graham, “Dance is just discovery, discovery, discovery.”

Penari kemudian terlihat memainkan ritme gerak dan nafas. Atau, lebih tepat bisa dikatakan ritme gerak mengikuti ritme nafas. Nafas penari yang terengah-engah setelah berlari begitu lama dan konstan, kini dieksplorasi; diberi tekanan, diberi interval, diberi kesadaran. Karena begitu akrabnya kita dengan fitur-fitur tubuh dan pergerakannya, pada umumnya semua gerak tubuh kita sehari-hari tidak bermakna apapun bagi kita. Gerakan-gerak itu terjadi begitu saja dan cenderung bersifat fungsional. Kita menggerakkan tangan untuk mengambil sesuatu misalnya, atau kita berlari untuk mengejar sesuatu. Proses menjulurkan tangan atau proses berlari itu tentu tidak kita sadari. Karena kesadaran kita terarah pada tujuan dari gerakan itu. Namun seorang penari adalah orang yang harus menyadari tubuh, menyadari gerak, dan prosesnya.

Sumber Gambar: https://www.geegoe.com

Sumber Gambar: https://www.geegoe.com

 

III

Sprint adalah pencarian yang jujur akan proses ketubuhan. Simbolik dan non-verbal, karya ini mengajak siapapun yang datang menyaksikan untuk ikut berproses dan mencari—di mana ruang yang imanen itu. Ruang imanen, dalam pemahaman saya, adalah sesuatu yang ada pada dirinya sendiri. Sampai di sini, pencahayaan yang menyorot Cunci menjadi semakin menarik. Kita tidak bisa melihat Cunci jika tidak ada cahaya. Namun, ruang imanen itu ada dalam kegelapan. Atau mungkin kegelapan itulah ruang imanen. Dan ruang tersebut akhirnya dapat diraba, berkat pencarian sang penari.

Vo-Dinh sama sekali tidak menampilkan motif gerak yang spektakuler, walau sebenarnya, jika ia mau, hal itu tetap bisa menyampaikan ide dan konsep karya. Motif gerak yang ditampilkan cenderung minimalis dan berangkat dari gerak-gerak sederhana seperti gerakan terantuk, gestur terengah-engah, dan sebagainya. Sprint mengingatkan saya akan karya Andara Moeis, Untitled 2015, yang dipentaskan di Teater Luwes Institut Kesenian Jakarta dalam rangka Indonesian Dance Festival tahun lalu. Sprint dan Untitled 2015 sama-sama menampilkan lari dan pola lingkaran sebagai elemen penting. Namun, ada hubungan aksi-reaksi antara dua penari dalam Untitled 2015. Sementara karya Vo-Dinh menampilkan hubungan seseorang dengan kedalaman realitas tubuhnya.

Gaung suara nafas yang berat dan detak jantung berhasil menghadirkan pengalaman ketubuhan yang merasuki penonton. Alur dramaturgi disusun linier dan rapih, menggiring proses identifikasi pada penonton dengan sangat lambat. Dramaturgi dengan pace yang lambat ini cukup riskan bagi proses identifikasi penonton. Namun, sang penari membawakan karya ini dengan intensitas yang konsisten dan tidak pernah ‘lepas’. Selain itu, dalam hemat saya, Vo-Dinh sangat subtil dan cerdas dalam menampilkan simbol-simbol pada karya ini. Kabut, motif gerak, pola, dan suara, semuanya dipikirkan dengan baik dan digubah menjadi pengalaman yang transendental. Oleh karenanya, Sprint tetap menjadi karya yang menggenggam panggung malam itu.*** (Keisha Aozora adalah seorang penari dan mahasiswa Pascasarjana STF Driyarkara)

0 komentar

Sila Berkomentar

Ingin bergabung dalam diskusi?
Jangan ragu untuk berkontribusi!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.