Penampilan Rianto pada IDF 2017 | Gambar: Dokumentasi IDF

Medium: Menyuarakan Tubuh, Menubuhkan Energi

Datang untuk menonton pertunjukan tari Rianto selalu menanamkan harapan yang tinggi di dalam pikiran. Bagaimana tidak, Rianto mungkin adalah satu-satunya penari Indonesia yang mendirikan rumah produksi tarinya sendiri di Jepang, Dewandaru Dance Company. Kental dengan akar tradisi Jawa, sebagai penari, Rianto telah bekerja dengan sejumlah koreografer internasional namun karya-karya kontemporernya tidak pernah meninggalkan corak tradisi Jawa.

 

Pertunjukkan di Teater Salihara, Sabtu malam, 8 Juli 2017 itu dibuka dengan hadirnya tiga pemusik, dua laki-laki dan seorang perempuan, yang duduk di mulut panggung membelakangi penonton.  Mereka menggelar peralatan yang akan menghasilkan bunyi-bunyian. Semakin menarik, alat-alat itu bukanlah instrumen musik pada umumnya namun berbagai perkakas berbahan metal, kayu, seng, dan sebagainya. Kemudian muncul Rianto di bawah sorotan lampu. Sangat sederhana, malam itu ia mengenakan celana hitam dan bertelanjang dada. Sangat casual, seolah Rianto tidak berusaha menjadi apa-apa selain menjadi manusia. Ia kemudian berlari di tempat cukup lama dengan tempo yang konstan dan nafas yang teratur. Rianto melakukan gerakan lari di tempat yang menghabiskan tenaga dengan sangat tenang, sambil memukul-mukul kepalanya, membuatnya terlihat seperti membuka pintu masuk untuk sesuatu yang lain. Benar saja, setelah itu Rianto seperti menyadari setiap suara dari dalam tubuhnya. Kemudian, setiap kali tubuhnya bergerak, gerak sekecil apapun itu menghasilkan suara. Rianto mengeksplorasi gerak dan menyadari suara dari setiap gerak. Sesekali ia juga menyuarakan gerak tubuhnya.

Penampilan Rianto di Teater Luwes Pada Perhelatan IDF 2017 | Sumber: Dokumentasi IDF

Penampilan Rianto di Teater Luwes Pada Perhelatan IDF 2017 | Sumber: Dokumentasi IDF

 

Yang khas dari penari Jawa adalah geraknya terasa sangat internal. Secara ketubuhan, kita dapat melihat, jika jeli, bagaimana Rianto menggunakan hingga komponen-komponen terhalus dalam tubuhnya untuk mengeksekusi gerakan. Secara konteks yang melampaui ketubuhan, motif gerak, atau lebih tepatnya, cara Rianto bergerak memperlihatkan pada kita bahwa daya-daya di luar dirinyalah yang menggerakkannya. Impresi yang tercipta dari tarian Rianto adalah bahwa ia bergerak sedemikian rupa bukan karena ia ingin bergerak seperti itu, namun daya energi yang tak terbendung mendorong, menarik, mencabik, dan bersatu dengan sang medium, Rianto. Dalam Medium, Rianto menyuarakan tubuh dan menubuhkan energi.

 

Karya ini, seperti tertulis pada sinopsis karyanya, Rianto ingin mengeksplorasi kelenturan gender. Topik ini diangkat Rianto berdasarkan pada akar tradisi Banyumas yang mendarah daging dalam dirinya, yaitu Tari Lengger. Rianto telah menjadi penari Lengger dari usia yang sangat muda (realtimearts.net). Penari Lengger adalah laki-laki, perempuan, dan juga waria. Ritual-ritual Lengger sangat hadir dalam tarian Rianto malam itu. Pada suatu adegan, misalnya, Rianto mengucap mantra. Mantra memang dibacakan dalam ritual tari Lengger untuk mengundang Indhang, sebutan untuk kekuatan yang sangat besar dan bersifat spiritual, yang bisa hadir dan merasuki penari Lengger hingga mampu melakukan hal-hal di luar kemampuannya sebagai manusia biasa. Dalam sebuah adegan, Rianto menari seperti lelaki yang sangat gagah dan berbicara dengan suara menggelegar. Lalu kemudian, ia menari seperti perempuan dan berbicara dengan nada yang menggoda.

 

Adegan yang menunjukkan kelenturan gender ini bisa berlapis arti. Lebih dari sekedar menunjukkan keterbukaan tari Lengger pada lelaki, pria, dan waria, lewat adegan ini, Rianto menunjukkan bahwa maskulinitas dan feminitas bukan ditandai oleh organ seksual. Maskulin dan feminin adalah energi, daya yang bergerak seperti arus gelombang yang bertabrakan. Karya seni yang sangat maskulin atau sangat feminin, dalam hemat saya, sangatlah membosankan. Sisi perkaya, adidaya, sekaligus menggoda dan merawat, semuanya harus ada dalam sebuah karya seni. Karena, bukankah itu yang disebut sebagai kesenian? Sesuatu yang melampaui rasio, sesuatu yang mampu membuat kita sejenak berhenti—mampu menginterupsi realita keseharian yang banal dan tumpul. Untuk mampu melakukan hal itu, feminitas dan maskulinitas harus ada—baik dalam pertunjukkan maupun dalam proses berkarya.

Penampilan Rianto di Teater Luwes, IKJ Dalam Perhelatan IDF 2017 | Sumber: Dokumentasi IDF

Penampilan Rianto di Teater Luwes, IKJ Dalam Perhelatan IDF 2017 | Sumber: Dokumentasi IDF

 

Harus diakui, Rianto menguasai ruang. Bukan hanya ruang internal tubuhnya, namun juga ruang internal kosmiknya. Musikalitas tubuh merupakan penanda monumental pada karya-karya Rianto, termasuk juga pada Medium ini. Namun harus saya katakan, presentasi karya Medium di Teater Luwes tahun lalu, dalam acara Indonesian Dance Festival bertajuk “Tubuh Sonik”, lebih menggenggam saya sebagai penonton daripada Medium di Salihara, 8 Juli lalu. Pada bagian awal, pemusik sempat tidak sinkron dengan gerakan Rianto. Dan pada bagian-bagian selanjutnya, saya merasa Rianto bisa “berbicara” sendiri tanpa musiknya. Sementara pada pertunjukan di Teater Luwes, duet Rianto dan Cahwati merupakan perpaduan yang sangat digdaya. Mereka berdua bagaikan dua energi yang saling membangun, menabrak, chaos, dan saling membutuhkan. Berbeda dengan pertunjukan di Salihara, di Teater Luwes Rianto tidak banyak mengucapkan sesuatu, hanya menyuarakan bunyi-bunyi yang merupakan paduan dengan eksplorasi gerak. Sayangnya, tidak semua orang mengerti bahasa Jawa dan penonton pasti ingin mengetahui setiap ucapan dalam pertunjukan serta artinya.

 

Pada akhirnya, Medium adalah sebuah karya tari yang menawarkan kehadiran. Kehadiran diri, dan lebih penting dari itu, kehadiran subjektivitas tanpa subjek—kehadiran diri sebagai medium untuk daya-daya yang chaos, yang melampaui tubuh dan peran personal seseorang dalam subjektivitasnya. (Keisha Aozora adalah seorang penari dan mahasiswa Pascasarjana STF Driyarkara)

0 komentar

Sila Berkomentar

Ingin bergabung dalam diskusi?
Jangan ragu untuk berkontribusi!

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *