LABOR-ART-ORIUM

Kamis malam pukul 19.20, saya tiba untuk melakukan registrasi ulang di depan pintu masuk Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki. Dibekali selembar kertas yang berisi informasi tentang para pengisi acara, saya masuk dan bebas memilih tempat duduk kecuali dua baris yang khusus disediakan untuk para undangan. Acara yang bertajuk LABOR-ART-ORIUM 2019 ini merupakan perhelatan dari Dance Circle Lab dan Urban Art Forum. Pementasan ini ditujukan sebagai sebuah panggung uji coba publik atas konsep atau bentuk karya yang sedang dikembangkan oleh empat koreografer yang sedang mematangkan karya mereka– demikian yang tertulis di selembar pengantar acara tersebut. Pertunjukan dimulai pukul 19.45 dan dibuka oleh Reba Aryadi yang memaparkan tujuan dan apa yang melatari LABOR-ART-ORIUM ini. Disebutkan pula bahwa tiga dari empat koreografer yang unjuk karya malam itu sedang memulai dan menyelesaikan studi; sedangkan koreografer yang keempat, Yola Yulfianti, adalah pengajar di Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta. Ketika pembawa acara masih berbicara kepada kami, seorang penari masuk dan sang pembawa acara langsung bergabung sebagai penampil. Sebuah karya pendek dari Gigi Art of Dance yang digarap oleh Reba Aryadi dengan dua penari mengawali LABOR-ART-ORIUM malam itu. Karya pendek ini menggambarkan situasi pembuatan koreografi dan eksplorasi gerak. Adegan tersebut disajikan dengan sangat verbal di mana terlihat salah seorang penari membuat rangkaian gerak dari garis-garis imajiner dan Reba sebagai koreografer medekati penarinya dan mengkomunikasikan apa yang diinginkannya.

 

a work in progress (Gigi Art of Dance) | Foto: Dody Alin

 

a work in progress (Nur Hasanah) | Foto: Dody Alin

 

Kemudian masuk Irfan Setiawan, penari tunggal dalam karya Nur Hasanah. Mengenakan kemeja, celana berbahan kain, dan sepatu, Irfan hadir dalam sorotan lampu yang hanya menerangi figur sang solois. Kontras dengan pakaian yang terkesan formal, Irfan terlihat santai dan sangat menguasai panggung. Ia kemudian terlihat mengeksplorasi ruang-ruang tubuh. Ruang yang dibentuk oleh tubuh dan ruang yang berada di luar tubuh terlihat menjadi locus dari eksplorasi karya ini.  Dengan intensitas dan tempo yang dinamis, karya yang belum diberi judul ini (a work in progress) memikat dan membuat saya kagum akan matangnya penampil solo dalam karya ini, bagaimana ia menguasai ruang internal-eksternal tubuhnya dan mampu menciptakan dinamika suasana sehingga karya tidak terkesan monoton. Seniman perempuan yang akrab dipanggil Hassan inimemang baru memulai studinya di Pascasarjana IKJ. Walau demikian, ia bukanlah pemain baru di dunia tari kontemporer di Indonesia. Sebagai koreografer, beberapa karya Hassan sudah ditampilkan di berbagai kota di Indonesia termasuk di perhelatan Indonesian Dance Festival. Sebagai penari, Hassan memiliki jam terbang yang tidak sebentar.

 

a work in progress (Josh Marcy) | Foto: Dody Alin

 

Berikutnya adalah karya Josh Marcy, sebuah karya yang lebih condong ke sebuah riset dari gerak dalam tari yang dihadirkan dengan sangat komunikatif dan deskriptif, selayaknya memaparkan hasil riset. Didampingi oleh Alisa Soelaeman sebagai penari, Josh menjelaskan pada penonton malam itu bahwa yang ingin ia sampaikan adalah usaha-usaha tubuh yang begitu presisi untuk memusatkan dan mentransfer energi dari berbagai titik tubuh, dari internal ke eksternal. Penjelasan Josh begitu sistematis hingga sesi Josh Marcy ini terasa layaknya TED talks. Setelah menjelaskan riset choreographic tool dan mendemonstrasikan bersama Alisa, Josh menutup karyanya dengan sebuah koreografi pendek di mana ia memasukkan temuan risetnya ke dalam koreografi tersebut, diiringi lagu pop yang ringan.

 

A(ke)Z (Daniel Espe) | Foto: Dody Alin

 

Setelah sesi yang ringan dan membuka wawasan tersebut, hadir Daniel Espe dengan penampilan solo dalam karyanya, “A(ke)Z”. Suasana LABOR-ART-ORIUM menjadi temaram, dan kehadiran Daniel diiringi dengan emosi yang intens dan energi yang mampu mengubah suasana Teater Kecil malam itu. Mengenakan kaos merah yang santai, Daniel memulai koreografinya dari posisi berbaring dan kemudian terlihat seperti berusaha berdiri. Jika dua karya sebelumnya mengekspos choreographic tool, karya Daniel memberatkan diri pada penceritaan. Pada beberapa momen, Daniel bereksplorasi dengan sepatu dan baju. Eksplorasi ini pun adalah bagian dari narasi karya. Daniel Espe adalah penari dan koreografer yang menempuh pendidikan di Univeritas Negeri Jakarta dan kini melanjutkan ke strata Magister di Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta. Sebagai penutup dan layaknya sebuah puncak acara, karya yang belum diberi judul, oleh Yola Yulfianti, menjadi akhir dari rangkaian pertunjukan. Dalam karya ini Yola menggunakan properti payung, suara hujan, nyanyian, dan pembacaan beberapa dialog dari novel “Hujan Bulan Juni” karya Sapardi Djoko Damono. Karya ini dipentaskan oleh Densiel Lebang, Mentari Aisha, Josh Marcy, Irfan Setiawan, Alisa Soelaeman, Fitri Anggraini, dan Reba Aryadi sebagai penari; Amir, Agata Megumi, dan Fachrizal Mochseen sebagai aktor. Selain itu karya ini juga melibatkan pemusik Arham Aryadi dan visual artist Kelvin Yohanes. Karya ini menampilkan gejolak politik yang sedang memanas di Indonesia melalui cuplikan-cuplikan berita yang ditayangkan pada layar, namun menjadi kontras dengan suara musik yang melankolis.

a work in progress (Yola Yulfianti) | Foto: Dody Alin

Akhirnya, tibalah pada sesi yang seharusnya tidak kalah penting dari rangkaian karya tari tadi, yaitu diskusi dengan publik. Dari keempat karya utama yang ditampilkan, proses pencarian Josh Marcy lah yang paling terbuka untuk sebuah diskursus. Karena Josh memaparkan metode pencariannya dengan sangat lugas, publik awam pun dapat memahami dan bahkan terstimulasi untuk membangun diskusi lebih lanjut. Pada ketiga koreografer lainnya, walau masih merupakan a work in progress, namun seolah sudah matang dan jadi – di dunianya sendiri, sehingga diskusi yang kira-kira akan terbangun adalah diskusi dengan para praktisi tari. Walau demikian, moderator cukup cermat. Walau tidak ada pertanyaan dari penonton, moderator meminta ketiga koreografer lainnya menceritakan tentang karya mereka sehingga memancing diskusi dengan penonton.

Secara umum acara LABOR-ART-ORIUM ini cukup berkontribusi bagi perkembangan dunia tari di Indonesia, khususnya di Jakarta. Sudah saatnya mengundang khalayak ramai pada dunia seni yang selama ini terlihat eksklusif dan “tidak terjangkau pikiran normal”. Seni memang bukan banalitas sehari-hari, namun mampu dibangun dari hal-hal yang keseharian. Bagaimana Josh menjelaskan tentang perpindahan energi dan titik-titik tubuh misalnya, secara objektif bisa dilakukan oleh siapapun. Walau mungkin kepekaan akan perpindahan energi dan potensi dari titik-titik tubuh itu tidak sepeka seorang penari. Yang sangat disayangkan dari LABOR-ART-ORIUM ini adalah adanya satu penonton yang terus berbicara dengan suara yang sangat keras sepanjang pertunjukan. Saya dan penonton lainnya sangat berharap panitia bisa cepat tanggap mengenai hal semacam itu karena sangat mengganggu. Terlepas dari satu hal tersebut, acara ini mengusung sesuatu yang diperlukan oleh para seniman maupun publik. LABOR-ART-ORIUM yang dimaksudkan untuk publik agar bisa mengapresiasi proses dibalik penciptaan karya tari – pada akhirnya mencapai lebih dari itu, acara ini mencairkan seni sehingga bisa mengalir lebih jauh.

Keisha Aozora

Mahasiswa Pascasarjana STF dan Penikmat Tari