Konvergen: Sebuah Narasi Suara Dari Rimba Penggalian Abib Igal Habibi

Konvergen merupakan bagian dari proyek Ruang Kreatif: Seni Pertunjukan Indonesia yang merupakan salah satu program dari Djarum Foundation yang melibatkan Garin Nugroho dan Eko Supriyanto sebagai mentor. Dari kurang lebih 400 proposal yang sampai ke tangan dua tokoh kesenian ini, dipilihlah 30 proposal terbaik dan kemudian melewati proses pitching hingga terpilih 14 karya yang berkesempatan tampil di Galeri Indonesia Kaya. Karya besutan koreografer muda bernama Abib Igal Habibi ini mengambil Tari Wadian dari suku Dayak, Kalimantan, sebagai inspirasi. Siang itu, sebelum menonton pertunjukan saya membuka beberapa laman virtual yang menceritakan tentang proses Konvergen, apa yang ingin disampaikan oleh sang koreografer, dan budaya yang melatari karya Abib ini. Apa yang saya baca menimbulkan rasa senang dan penasaran. Bagaimana tidak? Dalam sinopsis tertulis bahwa Konvergen adalah narasi titik pertemuan yang kasat mata dan tak kasat mata. Berkaitan dengan hal ini, saya langsung mencari informasi mengenai Tari Wadian yang ternyata merupakan tarian mistis yang bertujuan untuk mengobati orang sakit. Dapat dikatakan, tarian ini adalah sebuah ritual mistis. Kemudian, tertulis juga dalam sinopsis Konvergen bahwa karya ini merupakan narasi bunyi yang menyadarkan tentang pentingnya sebuah pertemuan dan kebersamaan dalam suatu perbedaan.

Pertunjukan dimulai oleh tiga lelaki yang mengenakan jas hujan berbahan plastik berwarna hijau yang duduk di panggung dan seorang lain yang mengenakan kain bermotif etnik yang dipakai seperti memakai sarung. Orang itu membawa Serunai dengan mulutnya. Ia kemudian membuat irama dengan hentakan kakinya sambil terus melihat ke atas. Tiga penari berjas hujan kemudian bersenandung dalam bahasa daerah sementara sang wadian, pemimpin ritual yang membawa serunai di mulutnya, berjalan mendekati penonton sambil terus menghentak-hentakkan kaki dan perlahan silam dari panggung. Tiga penari kemudian mulai menari sambil terus bersenandung. Walau tidak mengerti makna dari lagu yang dinyanyikan, namun kesan yang muncul adalah senandung ini bukan sebuah mantra – namun lebih seperti serangkaian pantun atau puji-pujian. Motif-motif gerak yang dilakukan bernuansa akrobatik dan juga menggambarkan binatang dengan bentuk tangan yang khas, typical. Tarian ini kemudian dipadukan dengan gesekan suara plastik yang mereka kenakan, hentakan kaki, tepuk tangan, dan lagu yang dinyanyikan bersahutan. Salah satu kekhasan dari karya ini adalah bahwa mereka selalu berusaha bersentuhan – entah dengan saling menopang, atau sekedar memegang bahu teman. Lalu sang pemain seruni masuk dan menjadi fokus pertunjukan. Ketiga penari silam dan muncul lagi dengan mengenakan pakaian tradisional suku Dayak. Rupanya baru pada babak ini mereka bereksplorasi dengan gelang-gelang berat yang terbuat dari kuningan. Untuk memasukkan tangan ke dalam gelang itu dengan cepat butuh keahlian. Salah satu penari terlihat cukup berusaha memasukkan tangannya sementara kedua temannya sudah mulai beradu suara. Gelang pun beradu menghasilkan suara gemerincing yang memekikkan. Kiranya seseorang bisa mengalami trance jika mendengar suara ini dalam waktu lama. Atau setidaknya, sakit kepala. Namun mengingat ritual aslinya dilakukan di kedalaman hutan, tentu efeknya berbeda dengan aduan gelang kuningan di ruangan sebesar Galeri Indonesia Kaya. Saya membuka dan menutup mata. Menutup mata untuk mendengar suara gelang dan membuka mata untuk menonton tariannya. Perlu saya katakan di sini bahwa keduanya sangat kontras. Intensitas suara gelang yang tinggi tidak sinkron dengan irama gerak yang lambat dan santai.

Di panggung bagian belakang terdapat sebuah set semacam perancang panjang dengan gulungan-gulungan hijau di besi-besi bagian atas. Seorang soloist membuka gulungan satu persatu. Gulungan itu berbahan sama dengan jas hujan yang dipakai tiga penari sebelumnya. Pada gulungan itu kita bisa melihat motif-motif tribal Dayak terpatri dengan tinta hitam. Abib, koreografer yang tampil solo siang itu, menaruh gelang setelah membuka motif-motif tribal tersebut. Abib kemudian menari menghadap gambar-gambar tersebut sebelum akhirnya berguling menuju gelang dan memakai gelang-gelang tersebut.

Dari keseluruhan pertunjukan, energi yang bersifat spiritual belum hadir di situ. Semua gerakan dilakukan dengan intensitas rendah dan saya menunggu klimaks dari pertunjukan ini. Ketika ketiga penari berganti kostum mengenakan pakaian tradisi, saya kira itulah dimana intensitas akan memuncak, namun tidak juga. Mungkin Tari Gelang Bawo memang ditarikan dengan lembut, hal itu di luar pengetahuan saya. Namun untuk menghadirkan “pertemuan antara yang tak kasat dan kasat mata” seperti pada sinopsis Konvergen, koreografer harus mencari cara agar katarsis itu bisa terjadi. Peran pemain seruni dalam pertunjukan itu juga kurang signifikan. Dia selalu masuk dan keluar panggung seperti penanda pergantian babak padahal peran yang seperti pemimpin ritual ini bisa sangat kuat dalam narasi Konvergen. Saya juga bertanya-tanya tentang penggunaan jas hujan. Apakah maksud jas hujan hijau itu untuk menggambarkan dedaunan di kedalaman hutan? Atau untuk menambah sumber bunyi dari gesekan plastik? Saya percaya tubuh manusia bisa menjadi sumber bunyi dan Konvergen sudah mengeksplorasi itu – tepukan tangan, hentakan kaki, dan nyanyian. Bagi saya elemen plastik sangat mengganggu latar yang ingin dihadirkan koreografer di panggung. Kata kunci dari karya ini adalah etnis, indigenous, spiritual. Silahkan tonton video pertunjukannya di kanal Youtube Galeri Indonesia Kaya untuk memastikan atau meragukan kata kunci yang saya beri.

Selain dari hal-hal yang saya jabarkan di atas, tentu karya koreografer muda dari Kalimantan ini perlu diapresiasi dan diberi ruang untuk terus berproses. Kekayaan budaya dan misteri dari suku-suku indigenous Indonesia tidak pernah gagal dalam memukau dunia. Konvergen menyadarkan kita semua, sekali lagi, akan betapa kayanya bahan bakar kesenian negeri ini. Abib Igal Dance Company bisa menghidupkan atau menghadirkan kembali akar pedalaman Kalimantan-nya ke dunia seni pertunjukan.

Keisha Aozora
adalah penikmat tari dan mahasiswa Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara