Konstruksi dan Dekonstruksi Tubuh Densiel Lebang dalam “No Limit”

Dalam kegelapan Galeri Salihara di mana para penonton duduk di lantai dan membentuk lingkaran, sebuah perancah (scaffolding)[1] berdiri di tengah lingkaran. Salah satu penampil, seorang lelaki yang mengenakan pakaian santai dan bersepatu berjalan memasuki arena dan mendekati perancah. Lantas, ia menyalakan beberapa lampu yang dipasang di sudut-sudut perancah. Perancah tersebut berbentuk seperti bujur sangkar tiga dimensi, berkaki empat, dan memiliki roda di setiap kakinya. Lampu yang menerangi sudut-sudut perancah membuat objek kotak itu tampak kontras dengan ruangan dan penonton yang membentuk lingkaran.

Penampil tersebut kemudian mendorong perancah memutari arena. Perancah itu memutari arena dengan kecepatan pelan, sedang, dan semakin cepat. Di saat yang bersamaan, dua lelaki lain dengan nuansa pakaian yang casual dan mengenakan sepatu, bergabung dalam arena. Mereka melintasi perancah yang terus berjalan. Terdapat pipa-pipa besi melintang membentuk huruf x di bagian atas dua sisi perancah, sehingga untuk masuk ke dalam, mereka harus lewat di bawah pipa x itu, atau masuk dari celah huruf x yang menghubungkan pilar-pilar perancah. Bukanlah hal mudah untuk masuk, apalagi melintasi perancah dalam keadaan objek tersebut berjalan dengan cepat, apalagi jika dilakukan oleh dua orang sekaligus. Musik yang digunakan Densiel untuk karyanya yang berjudul No Limit ini adalah suara hidup dari perancah itu sendiri. Entah di mana tepatnya mikrofon dipasang, namun setiap gesekan dan benturan pada pilar perancah akan terdengar keras dan bergema.

Tiga penampil bergantian melintasi dan bereksplorasi dengan perancah sementara objek itu terus didorong memutari arena. Salah satu kekuatan dari karya ini adalah karena ketiga penampil, yaitu Eyi (Ferry Alberto Lesar), Yusuf (Yusuf Bakrie), dan Angga (Try Anggara) memiliki kualitas dan menampilkan suasana yang berbeda dalam berinteraksi dengan perancah. Hal ini membuat No Limit terlihat sederhana sekaligus kaya.

Foto: Dokumentasi Densiel Lebang

Eyi terlihat intim dengan perancah tersebut; ia bergelantungan dan berpindah dari satu pipa ke pipa lainnya dengan lentur dan menampilkan bentuk-bentuk yang indah tanpa kehilangan kesan natural dari tariannya. Ketenangan yang ditampilkan Eyi dalam situasi yang tidak nyaman adalah suatu imaji yang memberi inspirasi, mencetuskan perasaan yang tidak emosional namun semacam sebuah ajakan untuk tidak menjadi sama dengan situasi yang sedang terjadi, ajakan untuk menjadi kreatif.

Yusuf menampilkan kecepatan gerak dan sikap awas yang juga menjadikan interaksi antar perancah dan penampil mengasyikkan. Yusuf terlihat seperti seorang petualang dalam permainan-permainan virtual, membangunkan rasa kekanak-kanakan yang ringan, seru, dan partisipatif. Bahkan ketika ada momen di mana Yusuf menabrak sesuatu, hal itu tidak terasa seperti kesalahan gerak namun seperti resiko yang biasa terjadi dalam sebuah petualangan.

Foto: Dokumentasi Densiel Lebang

Angga bereksplorasi dengan perancah itu seperti seorang pendaki professional. Angga juga menampilkan ketenangan yang sama dengan Eyi, namun dengan gaya yang maskulin, gagah, dan seperti kedua penampil lainnya—menghadirkan suasana kontras dengan situasi yang terjadi.  Jika tidak digarap dengan hati-hati, No Limit bisa terlihat seperti sebuah sirkus. Namun untungnya, gaya urban dan elemen-elemen abstrak digores tebal di kanvas Densiel Lebang.

Jika media sebuah lukisan adalah kanvas, maka kanvas dari sebuah karya tari adalah tubuh. Tubuh para penampil dalam karya ini begitu adaptif dan responsif. Kedua kualitas ini dapat dikaitkan dengan manusia Jakarta yang harus bergerak cepat dalam ruang sempit yang biasa dengan perubahan dan pengambilan keputusan yang cepat. Mereka tidak punya kebutuhan untuk terlihat elegan, sakral, atau menakjubkan. Manusia Jakarta, pada hari yang biasa saja, berpenampilan sewajar mungkin, dan berusaha terlihat sama dengan orang-orang lain—kadang untuk alasan keamanan. Kriminal bertebaran di jalan, di ruang-ruang publik, dan mereka mengincar target yang berpenampilan mewah—setidaknya itu adalah stigma yang kita amini secara massal. Maka dari itu, orang Jakarta berpenampilan “biasa saja” dan berharap untuk sampai pada tujuan mereka tanpa terlalu banyak hambatan selain kemacetan yang sudah dianggap seperti fenomena alam.

Foto: Dokumentasi Densiel Lebang

Orang Jakarta juga terlihat begitu santai berdiri berdesakan di dalam bus kota atau kereta, kemudian berjalan menuju pintu keluar melewati sesak manusia sesama pengguna angkutan umum. Yang menjadi highlight dalam analogi ini dalam kaitannya dengan No Limit bukanlah kesesakan, namun kesantaian dalam situasi yang tidak nyaman—adaptivitas dan fleksibilitas. Bukan berarti No Limit harus membicarakan bagaimana hidup di Jakarta, namun apa yang dihadirkan oleh tubuh-tubuh penampil dalam karya ini begitu urbansantai, adaptif dan responsif.

Salah satu elemen koreografi yang juga melekat pada ingatan adalah tidak ada kontak tubuh antar para penampil. Hal ini menebalkan kesan manusia urban yang hanya ingin segera sampai pada tujuannya dan menghindari interaksi antar manusia. Satu perancah, tiga penari; dan semua interaksi berpusat pada perancah itu atau dimulai dari interaksi dengan perancah. Ketegangan meningkat ketika salah satu penampil berada di atap dan perancah itu diguncang begitu keras oleh dua penampil lainnya. Penampil yang berada di atap sama sekali tidak melihat kedua penampil lainnya dan terus berusaha mencari keseimbangan—seolah hal itu terjadi secara alami, seolah guncangan itu bukan dibuat oleh orang lain. Secara pribadi saya sangat terkesan dengan bagian tersebut.

Chaos. Kekacauan dan perasaan ‘obrak-abrik’ dalam No Limit terasa begitu alami, tidak dibuat-buat; dramaturgi dibangun tanpa bumbu drama. Chaos adalah kata kunci dalam rangkaian kesan yang melekat pada saya dari karya ini. Karya ini juga terasa maskulin, menampilkan tiga lelaki dengan kekuatannya. Cengkeraman tangan pada pipa perancah, otot punggung yang menegang ketika bergelantung di atap, dan kemahiran menggunakan alat-alat konstruksi—elemen dalam adegan-adegan ini begitu maskulin. Kekuatan fisik tidak bisa diabaikan dalam visual dan rasa yang hadir dalam No Limit. Begitu menarik ketika anda tahu otak di balik adegan-adegan ini adalah seorang perempuan.

Foto: Dokumentasi Densiel Lebang

No Limit adalah sebuah nomor dalam rangkaian Kampana yang merupakan salah satu kategori penampilan dalam perhelatan tari Indonesian Dance Festival 2018. Jika yang dimaksud oleh IDF dengan kampana adalah ‘getaran’, maka karya No Limit dari Densiel Prismayanti Lebang ini patut berada dalam kategori tersebut. No Limit berhasil menciptakan getaran dan sebuah dobrakan dalam pertunjukan tari kontemporer. Kata ‘penampil’ yang saya pilih dalam tulisan ini, alih-alih menggunakan kata ‘penari’, adalah karena beberapa kali Densiel—melalui komunikasi pribadi dengan saya—mengungkapkan bahwa dia tidak merasa dirinya seorang koreografer dan pula tidak yakin jika yang dihadirkannya adalah sebuah karya tari. Densiel mempertanyakan batas antara pertunjukan tari dan performing art. Lebih jauh lagi mungkin ia akan mempertanyakan apa itu ‘tari’. Densiel adalah seniman muda yang kontemplatif dan memiliki pertanyaan-pertanyaan radikal. Ide penggunaan perancah dalam karya ini juga bukan sekedar usaha untuk menjadi berbeda. Namun, Densiel memiliki ketertarikan bagaimana objek-objek dapat menopang tubuh. Dalam eksplorasi pribadinya, ia banyak berinteraksi dengan objek sehari-hari seperti dinding, kursi, tali, dan sebagainya. Walau penuh keraguan, namun apa yang dihasilkan dari keraguan ini bagi saya adalah sesuatu yang inklusif dan kolaboratif. No Limit memiliki kesempatan untuk menjadi apapun setelah ini. Kolaborasi No Limit dengan berbagai bidang seni sangat jelas terlihat di depan mata—entah itu akan terwujud atau tidak.*** (Keisha Aozora adalah seorang penikmat tari dan mahasiswi Pascasarjana STF Driyarkara)

 

[1] Perancah adalah suatu struktur sementara yang digunakan untuk menyangga manusia dan material dalam konstruksi atau perbaikan gedung (oilandgasmanagement.net)