Catuah Langkah, Rekam Jejak dan Bangkitnya Gumarang Sakti

Menonton presentasi karya “Catuah Langkah” oleh Gumarang Sakti Dance Company di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta terasa menegangkan dan memicu adrenalin. Bagaimana tidak, Gumarang Sakti adalah salah satu inventaris seni dan budaya Indonesia. Nama grup tari ini bagaikan sebuah monumen kejayaan Indonesia di dunia tari internasional. Walau berdiri tegak, monumen tersebut berada di dalam museum. Ia tidak lagi berbicara, bergerak, dan tidak melahirkan apapun yang membuat dirinya kembali hidup. Gumarang Sakti bagaikan monumen kebanggaan yang berdiri tegak bersebelahan dengan apapun yang usang. Sesekali dikunjungi orang, sesekali dihidupkan walau hanya dalam ingatan. Sabtu, 7 Juli 2018 lalu monumen antik itu hidup dan kembali bernafas. Bukan dalam ingatan; ia kembali bertubuh. Mungkin banyak penikmat seni yang datang dengan tangan hampa, tidak punya ekspektasi dan pengetahuan apa-apa tentang apa yang akan disaksikan. Namun mereka yang datang dengan perbendaharaan sejarah tentang Gumarang Sakti kiranya juga merasakan semacam kecemasan yang juga menyergap saya.

Ruang bernuansa coklat muda yang saya masuki itu tidak begitu besar. Penonton yang masuk tampak antusias berebut posisi duduk. Kami—ya, termasuk saya—beberapa kali berpindah tempat duduk, memanfaatkan kesempatan sebelum tak punya pilihan. Kami duduk di anak-anak tangga di atas bantal warna warni yang tersebar. Nuansa ruangan itu begitu hangat dan lebih mirip ruang diskusi atau film screening daripada sebuah panggung tari. Hal ini perlu saya sebutkan karena terasa sangat kontras dengan berbagai pertunjukan yang saya hadiri sebelumnya. Di black box Salihara, misalnya, rasa dingin yang tajam adalah hal yang melekat di memori saya sebagai penonton. Di ruang pertunjukan pada umumnya, selalu ada elemen yang menghadirkan ketegangan secara subtil; namun venue yang saya hadiri kali ini begitu hangat dan nyaman. Apalagi, kami semua berdiri dan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan dipandu oleh dirigen virtual di layar.

Salah Satu Adegan Dalam Pertunjukan "Catuah Langkah" | Foto: www.indonesiakaya.com

Salah Satu Adegan Dalam Pertunjukan “Catuah Langkah” | Foto: www.indonesiakaya.com

Setelah kami kembali duduk, dua orang pemusik sudah duduk di mulut panggung. Mereka melantunkan nyanyian bersahutan yang merupakan tradisi lisan dalam budaya Minang. Lantunan ini membawa kita pada suatu imaji indigenous, imaji akan sesuatu yang asli, yang jauh di pedalaman. Gesekan rebab perlahan masuk dan mengiringi dialog dua lelaki yang duduk santai di bibir panggung. Segalanya terasa begitu subtil dan alami. Keaslian dan kealamian ini membuat persoalan paham atau tidaknya kita atas makna nyanyian itu jadi tak penting. Makna kata-kata menjadi tidak relevan lagi. Mereka sedang menghadirkan mantra!

Lantas, Benny Krisnawardi hadir, berdiri menatap kami, kemudian tanpa sempat saya berpikir, Benny menghadirkan gerakan-gerakan silat dengan transisi yang mengejutkan; Tajam dan seolah tidak meninggalkan jejak gerakan sebelumnya. Kesan-kesan yang demikian saya kira adalah kekhasan dari grup tari ini. Sekelompok penari berikutnya masuk dengan berbaris sambil menjampi bersahutan. Semua penampil mengenakan pakaian serba hitam dengan satu sabuk merah di pinggang. Suasana santai dan hangatnya venue redup dan jadi mistis tanpa aba-aba, persis seperti kekhasan gerak tari mereka: Mengejutkan, tajam, dan tidak meninggalkan jejak.

Dua penari berikutnya, Davit Fitrik dan Maria Bernadeta menghadirkan diri dengan langkah terseret. Davit dan Maria menarikan gerakan yang lebih kontemporer tanpa meninggalkan ketajaman dan kecepatan gerak dengan transisi yang tak teraba dan presisi. Semua penari Catuah Langkah sore itu menghadirkan elemen yang persis sama. Di tengah tarian, video dokumentasi yang menampilkan wawancara pendiri grup tari ini diputar. Para penari duduk diam di bawah layar.

Adalah Gusmiati Suid pendiri Gumarang Sakti Dance Company. Beliau lahir di Batusangkar pada 1942 dan wafat di Jakarta pada 2001, tepat pada puncak masa kejayaan Gumarang Sakti. Sejak kepergiannya, Gumarang Sakti seperti menghilang dari gaung seni pertunjukan. Walau penari-penarinya tetap berkarya atas nama pribadi dan menorehkan warna-warna Gumarang Sakti dalam karya mereka.[1] Bagi generasi muda seperti saya yang tidak pernah bertemu langsung atau melihat Ibu Gusmiati Suid dan hanya bisa mengeja langkah-langkah kesenimanan beliau lewat video Gumarang Sakti yang terunggah di Youtube, sosok Gusmiati Suid dalam video wawancara itu sangat memukau.

Ketika Video Dokumentasi Gusmiati Suid Ditampilkan | Foto: www.indonesiakaya.com

Ketika Video Dokumentasi Gusmiati Suid Ditampilkan | Foto: www.indonesiakaya.com

Selama ini, saya membayangkan sosok beliau sebagai perempuan Minang yang sangat tradisional. Bukan hanya itu, saya bahkan menempelkan stereotip seniman tari yang cerdas dalam berbahasa gerak namun selalu terbata dan kehabisan kosa kata jika harus menjelaskan karyanya secara lisan. Maka, begitu terkesanlah saya ketika yang ada di dalam video dokumentasi itu adalah sosok perempuan cantik, modern, dan tangguh. Beliau tampak cerdas dan menguasai pembicaraan. Bukan sesuatu yang perlu digarisbawahi lagi bahwa Gusmiati berpegang teguh pada akar tradisi. Namun, apa yang dikatakannya perlu diberi perhatian. Ia berkata bahwa bahwa, “Kalau lepas dari akarnya, saya nggak tahu orang itu mau jadi apa”.

Gusmiati Suid adalah potret Modernisme yang monumental. Berpegang dan berangkat dari suatu akar yang universal, yaitu Minang. Minang dalam artian ini mencangkup bahasa, budaya, nilai-nilai intrinsik, dan Grand Narrative yang dianut dan dihidupi masyarakat Minangkabau. Dalam video itu beliau terlihat muda; Wawancara itu kurang lebih terjadi pada akhir 1990an, era di mana terjadi pergantian arus kehidupan. Generasi baby boomers tergeser oleh Generasi X yang terkenal sinis, penyuka pesta, dan anti kemapanan[2]. Dan tepat pada masa yang terasa seperti dunia runtuh tersebut, Gusmiati Suid membangun fondasi, mengikatkan diri pada akar Minang dan mengibarkan bendera Gumarang Sakti setinggi-tingginya.

Mungkin hal ini aneh dan remeh bagi banyak orang, namun hal ini berkecamuk dalam pikiran saya—pada masa di mana anak-anak muda Jakarta diganyang pesta dan narkotika, penari-penari muda yang saat itu berusia remaja sedang dikarantina, berlatih keras dan membangun dunia mereka sendiri di bawah atap Ibu Gusmiati Suid. Untuk setiap pertunjukan yang sedang dipersiapkan, mereka berlatih dalam sistem karantina—dengan jadwal latihan tiga kali sehari dan tidak terkontaminasi oleh dunia di luar padepokan tari tersebut. Hal ini diceritakan oleh para penari sore itu di GIK dalam sesi tanya jawab. Salah satu penari dan koreografer, Hartati, menceritakan salah satu metode Ibu, demikian mereka menyebut sang maestro, di mana ia diminta duduk diam selama satu jam dan menyerap apapun yang ia lihat, dengar, dan rasakan. Terdengar sederhana, namun metode ini bisa dipastikan adalah neraka bagi generasi milenial yang terkenal dengan short attention span. Bahkan gangguan konsentrasi adalah mental disorder yang sangat lumrah bagi kids jaman now, meminjam istilah yang disebutkan Benny Krisnawardi sore itu. “Bagaimana jadinya jika kids jaman now mengalami metode kesenian yang kami alami?” ungkap Benny.

Hartati Pada Sesi Diskusi Pertunjukan "Catuah Langkah" | Foto: www.indonesiakaya.com

Hartati Pada Sesi Diskusi Pertunjukan “Catuah Langkah” | Foto: www.indonesiakaya.com

Cerita perjalanan para penari Gumarang Sakti di bawah tangan besi maestro tari Gusmiati Suid bagaikan sebilah pisau tajam dengan dua sisi. Di satu sisi merupakan tamparan bagi generasi tari kini—yang serba instan, hanya mementingkan yang ekstrinsik seperti bentuk gerak, teknik tubuh dan tentu saja sorotan (dari penikmat seni, pelaku seni lainnya maupun fans). Namun di sisi lain, saya bertanya-tanya, jika mengingat dan menghidupkan kembali bagaimana mereka hidup di masa lalu yang begitu jaya, tidakkah ini juga sebuah tamparan atau lebih halusnya, teguran bagi mereka sendiri? Selepas dari pantauan sosok Ibu, apakah hidup tetap memiliki titik tuju sejelas dulu? Apakah akar saja cukup untuk melanjutkan perjalanan, tanpa proses dan perenungan yang dulu dibiasakan, dan diharuskan oleh Ibu? Tidakkah dahulu hidup terasa punya jalur yang lurus—di mana jalan itu dipugar oleh Ibu untuk mereka? Selamat datang di Posmodernisme, di mana tanah pijakan goyah, goncang dan “diri” tidak lagi menjadi pernyataan namun pertanyaan.

Pementasan “Catuah Langkah” berikut dengan sesi berbagi pengalaman pekan lalu justru mengantarkan pekerjaan rumah pada Gumarang Sakti—sebagai panutan penari masa kini dan sebagai individu yang pernah begitu disiplin dilatih Gusmiati Suid. Perjalanan kesenian yang sudah panjang ini, hendak bagaimana nantinya? Mereka tidak berjalan sejauh ini hanya untuk berhenti. Gusmiati Suid maupun para penari hebat ini adalah pahlawan. Kami berdebar begitu kencang menyaksikan superhero kami di museum kembali hidup. Namun dengan hal itu, kembali pula pertanyaan dan harapan; Hidup dan harapan adalah dua sisi dari satu mata koin.*** (Keisha Aozora adalah seorang penari dan mahasiswa Pascasarjana STF Driyarkara)

 

[1] Keseluruhan pertunjukan Catuah Langkah berikut dengan video wawancara sang maestro dapat ditonton di akun Youtube Galeri Indonesia Kaya.

[2] BBC Culture https://www.bbc.com/indonesia/vert-cul-40060340

0 komentar

Sila Berkomentar

Ingin bergabung dalam diskusi?
Jangan ragu untuk berkontribusi!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.