Catatan Peserta Workshop Kepenarian Akademi IDF

Assabti Nur Hudan M (Yogyakarta)

 

Setelah mengikuti Workshop Kepenarian yang diadakan Akademi IDF, saya semakin mengerti tentang proses pembuatan karya yang berkualitas. Di workshop ini, saya mendapatkan hal-hal baru yang semakin memperkaya dan mempertebal pengetahuan saya sebelumnya.

Hal utama yang saya garis-bawahi dari keseluruhan proses ini adalah menyadari hal-hal lain (yang liyan) yang ada di luar tubuh kita. Seorang penari dan koreografer harus menyadari hal tersebut dan membawa hal itu masuk ke dalam dirinya. Yang liyan ini bisa berupa ruang, alam, benda sekitar, orang lain, dll. Menyadari kehadiran yang liyan ini juga berarti ‘memanusiakan’ apa yang ada di sekitar kita dan membangun interaksi yang sinergis antara kita dengan apa yang ada di luar tubuh kita.

Assabti Nur Hudan M | Dokumentasi IDF

Assabti Nur Hudan M | Dokumentasi IDF

Proses latihan untuk mengolah kepekaan sebenarnya tak hanya diterapkan dalam proses pencarian gerak, namun juga dapat diaplikasikan di dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini tampak sekali di dalam sesi dari Mbah Suprapto Suryodarmo dan Uda Benny Krisnawardi. Dengan mengaplikasikannya di dalam kehidupan sehari-hari, maka pengolahan energi dan kepekaan lingkungan bisa meningkat. Menyadari apa yang kita lakukan juga akan membantu kita menghargai apa yang kita lakukan. Selain itu, kita pun bisa menghargai apa yang diberikan alam. Kedua hal ini akan menghasilkan kejujuran ketiga bergerak.

Bagi saya, tari kontemporer bukan sekadar tren, melainkan sebuah perjalanan hidup yang harus terus saya gali dan cari. Ia tak berhenti sebagai pencarian gerak saja, namun juga pengalaman dan perasaan-perasaan lain yang pelan-pelan mentransformasikan hidup saya.

Saya harap, setelah mengikuti Workshop Kepenarian ini, saya bisa membuat karya yang lebih baik. Selain itu, saya pun akan membagikan pengetahuan dan pengalaman selama workshop ini kepada teman-teman. Sehingga, ilmu yang saya dapatkan tidak berhenti pada saya. Semoga pengalaman yang saya dapatkan selama workshop ini menambah bekal saya dalam berkarya dan meningkatkan kualitas berkesenian saya.

 

Ahmad Susantri (Yogyakarta)

 

Dalam artikel kepenarian yang membawa saya hadir dalam lingkaran workshop kepenarian IDF 2016, saya mengungkapkan perihal bagaimana dapat menikmati tarian kita sendiri. Sebuah pertanyaan mendasar saat saya berkarya mau pun menarik karya koreografer lainnya.

Mengikuti Workshop Kepenarian Akademi IDF merupakan hal yang membanggakan bagi saya. Minimal, ada satu langkah ke depan yang saya tempuh dalam pengalaman kepenarian saya. Kesempatan untuk mengenal attitude dan disiplin menari dari Pak Ramli Ibrahim merupakan hal yang sangat menggembirakan. Tidak hanya itu, ‘kosa kata’ tari India dengan gerak odisi sangat menggembirakan saya karena secara pribadi tarian yang ‘memainkan’ lekukan-lekukan tubuh seperti yang dicontohkan Pak Ramli sangat saya nikmati. Teknik ballet menjadi teknik yang butuh penyesuaian diri bagi saya. Terkhusus teknik meringankan tubuh untuk bergerak; ini menjadi ‘PR’ saya. Perihal ‘mempersembahkan tarian dari hati’ merupakan hal yang paling saya tangkap dari deretan materi yang diberikan Pak Ramli.

Saya merasa seperti diajarkan mengaji oleh guru ‘ngaji’ di kampung saya pada sesi dari Uda Benny Krisnawardi. Menari layaknya mengaji; membaca fasih setiap tajwid, mempertegas alunan lagu menjadi khusyuk dan indah didengar. Uda Ben mengajarkan bagaimana mendapatkan detail gerak dengan pengaturan tenaga sehingga dapat dengan fasih menggerakkannya. Beliau juga mengajarkan bagaimana menjadikan mata sebagai titik fokus dalam menyatukan energi seluruh tubuh dalam bergerak; sebuah fokus yang pada akhirnya mempertegas rangkaian gerak itu sendiri. Lagi-lagi saya mendapatkan pelajaran untuk menari dengan ketulusan ‘hati’ serta ketulusan ragawi.

Su Wen-Chi adalah mentor yang memiliki cara pandang tentang tari yang berbasis pada teknologi. Pada awalnya, pemahaman saya perihal teknologi sebatas alat-alat yang berhubungan dengan ‘kekinian’. Melalui sesi dari Wen-Chi pandangan saya berubah. Teknologi tidak sebatas alat ‘kekinian’, namun teknologi adalah bagian dari hidup. Teknologi sebagai patner, teknologi sebagai inspirasi, berkarya dengan teknologi merupakan karya yang sadar bahwa kita hidup di dalam kehidupan.

Ahmad Susantri | Dokumentasi IDF

Ahmad Susantri | Dokumentasi IDF

Sosok Mbah Prapto (Suprapto Suryodarmo) yang hadir dalam workshop ini benar-benar membawa kebebasan. Mbah Prapto membawa saya menyadari kebebasan yang bermula dari alam. Kebebasan tersebut menyadarkan bahwa tari juga memiliki haknya untuk bebas. Mbah Prapto secara tidak langsung menyadarkan bahwa penari adalah manusia yang menari di ‘alam’. Dan alam pada akhirnya menyadarkan penari akan kejujuran.

Mungkin sama dengan peserta lainnya, esai ini membahas keempat mentor dan apa yang kami dapatkan dari mereka. Namun, bagi saya yang terpenting adalah keempat mentor dan Akademi IDF telah sukses ‘menyadarkan’ saya untuk jujur dan tulus dalam menari. Dan tari adalah bagian dari kehidupan saya setiap hari. Saat menari dengan jujur dan melakukannya dengan tulus maka kita dapat menikmati apa yang kita lakukan dengan tari.

Kembali pada pertanyaan saya di muka, Workshop Kepenarian Akademi IDF 2016 ini telah membantu saya menjawabinya. Cara untuk menikmati tarian kita sendiri adalah menarilah dengan kejujuran dan ketulusan.***

0 komentar

Sila Berkomentar

Ingin bergabung dalam diskusi?
Jangan ragu untuk berkontribusi!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.