Loading Event

« All Events

  • This event has passed.

Gusmiati Suid: Seni Tari Minang dan Ekspresi Pribadi

November 6 / 8:00 pm - 8:15 pm

OLEH JULIANTI PARANI

Gusmiati Suid mempunyai sebuah kehendak yang belum terlaksana yaitu menempatkan seni tari Minang pada baris yang lebih menasional. Persepsional, Gusmiati memandang seni tari Jawa dan Bali lebih menyeruak. Kehendak melambungkan seni tari Minang tersebut menggebu dari waktu ke waktu hingga akhirnya menjadi warisan cita-cita bersamaan dengan kepergian abadi Gusmiati 17 tahun yang lalu.

Seni tari Minang adalah bagian dari kekayaan kita yang tak lebih rendah dari yang lain. Ia dikenal dan diakui pesonanya. Pada sisi kantong kebudayaan, hulu seni tari Minang adalah silat. Di Jawa, hulu seni tarinya adalah keraton. Di Bali adalah ritus. Keraton dan ritus mempunyai daya sedot luar biasa sebagai penjuru kesenian, termasuk seni tari. Ini karena titik pandang vertikal masyarakat yang orientasinya adalah mendongak pada keagungan keraton dan kekhusyukan ritus di pura yang kemudian bergulir pada penciptaan karya-karya tari di banjar-banjar di Bali.

Gusmiati Suid

Gusmiati menyadari perbedaan kantong-kantong kebudayaan itu. Baginya, perbedaan tersebut justru memperkaya keberagaman seni tari Indonesia. Namun, dalam penelitian saya, kantong-kantong kebudayaan tersebut menjadi preferensi pengambil kebijakan untuk menentukan seni tari mana yang dipilih tampil dalam berbagai events nasional. Faktanya, seni tari Jawa (termasuk Sunda) dan Bali paling sering dipilih untuk tampil. Seni tari Minang tentu saja tidak diabaikan, namun tidak sesering yang dua tersebut di atas.

Tentang Gusmiati Suid sebagai penari dan koreografer, ia tergolong yang terbaik dalam seni tari Minang. Ia sangat menguasai gerak silat yang mulai diperolehnya saat berusia empat tahun melalui pendidikan yang sangat disiplin dari pamannya yang pendekar. Dari silat inilah kemudian tertanam dalam dirinya kepekaan intuisi gerak. Tak hanya itu, ia juga menyerap hakikat hidup orang Minang dan falsafah silat yang mengacu pada alam. Lengkaplah Gusmiati memperoleh keterampilan gerak dan pemahaman falsafah menyerang dan bertahan yang terkandung dalam silat Minang.

Apa yang selanjutnya membuat Gusmiati galau? Dalam perjalanan kesenimanannya, ia menemukan dirinya tak lebih dari seorang penghibur. Ia telah tampil pada banyak pertunjukan namun semuanya menyuguhkan gerak tari Minang tradisional yang kental.  Pakem gerak itu telah dikenal penonton hingga membuat daya pukaunya meluntur. Semua yang disuguhkannya memang ditonton namun tanpa cengkeraman kekaguman. Mereka hanya sekadar menonton, bahkan juga menikmati, gerak tari Gusmiati yang sudah berada pada level cekatan. Mereka memang terhibur dan akhirnya bertepuk tangan. Hanya itu. Selebihnya tiada kebaruan yang bisa dihirup dari penampilan Gusmiati.

Keresahan itu muncul kian kuat. Bagi Gusmiati, kebaruan hanya bisa timbul dari ekspresi pribadi. Kebaruan adalah penciptaan karya melalui eksplorasi artistik yang panjang untuk menampung ekspresi sang pencipta.

Pindahlah Gusmiati ke Jakarta. Di sinilah ia menyerap masukan-masukan kreatif dari pergaulannya dengan orang-orang tari dan para seniman lintas cabang kesenian. Ia juga menonton berbagai pertunjukan, termasuk di mancanegara. Selanjutnya adalah mematerialisasikan ide-ide artistiknya ke dalam karya tari. Seni tari Minang tak dihapusnya, tetap menjadi basis karya-karya barunya dengan memasukkan ekspresi-ekspresi pribadinya. Loncatan artistik dari tradisional ke karya baru ini membuahkan penghargaan Bessie Awards, The New York Dance and Performance Awards, tahun 1991.

Gusmiati Said yang sebelumnya memang sudah dikenal, kian melambung kesenimanannya. Inilah yang sekarang menjadi salah satu pertimbangan yang membuatnya memperoleh penghargaan dari Indonesian Dance Festival ke-14.

Detil

Tanggal:
November 6
Waktu
8:00 pm - 8:15 pm
Event Categories:
,

Venue

Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki
Jln. Cikini Raya, No. 73
Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10330 Indonesia
+ Google Map

Detil

Tanggal:
November 6
Waktu
8:00 pm - 8:15 pm
Event Categories:
,

Venue

Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki
Jln. Cikini Raya, No. 73
Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10330 Indonesia
+ Google Map